Ngrim Bantuan Pengungsi Rohingnya ke Chittagong, Seraya di Tanjung Priuk Tahun 80-an

Visi.news – Barisan truk-truk lawas berkarat berlalu lalang, membuat kemacatan di mana-mana. Belum lagi kebiasaan orang Bangladesh yang hobi betul memencet klakson berkali-kali hingga memekakkan telinga. Chittagong berada di antara aliran besar Sungai Karnaphuli, sungai yang juga menjadi pintu masuk kapal-kapal barang berukuran super untuk kemudian merapat di dermaga bongkar muat Pelabuhan Chittagong.

Sabtu (14/10), dari dermaga Pelabuhan Chittagong inilah, sebuah kabar baik bagi Bangsa Indonesia hadir. Kabar baik tentang pencapaian kemanusiaan 2.000 ton beras untuk Rohingya, akhirnya tiba di Pelabuhan Chittagong. Total sebanyak 80 kontainer berisi 2.000 ton beras atau sama dengan jumlah 80.000 karung beras dengan berat masing-masing 25 kilogram sudah berhasil merapat di dermaga pelabuhan. Dari dermaga, kontainer diangkut masing-masing menuju ke depo penampungan sementara, masih di dalam kompleks pelabuhan Chittagong,

Bukan urusan mudah memastikan pengiriman beras ke Bangladesh untuk ratusan ribu pengungsi Rohingya bisa berjalan lancar. Sekelumit aturan ekspor-impor barang bantuan kemanusiaan membelit di tengah jalan. Banyak pihak dilibatkan, baik di Indonesia maupun di Bangladesh.

Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin mengatakan, ini adalah “perjalanan hati” yang menggerakkan hati banyak pihak, “Ada kebaikan hati banyak pihak untuk membantu menuntaskan amanah kemanusiaan beras dari Indonesia ini sampai ke kamp-kamp pengungsi Rohingya,” kata Ahyudin.
Terhitung sejak Sabtu (14/10), ribuan ton beras amanah dari bangsa Indonesia untuk Rohingya bisa keluar dari pelabuhan. Kini, 2.000 ton beras dititipkan sementara di sebuah depo, sembari ACT menuntaskan urusan legal yang diminta oleh Pemerintah Bangladesh.

Bantuan sesama Asia
Sejak awal memproses urusan legal pengiriman 2.000 ton beras untuk Rohingya di Bangladesh, ACT sudah menyadari bahwa ini tak bakal menjadi sebuah pengiriman ekspor impor biasa. Akan ada banyak pemangku kepentingan yang dilibatkan. Seperti yang dikatakan Ahyudin, 2.000 ton beras dari Indonesia ke Rohingya tak bakal bisa terjadi jika tak menyatukan banyak kekuatan.

“Di depan pebisnis Bangladesh, pejabat tinggi Bangladesh bidang pengungsi Rohingya, dan perwira militer Bangladesh, kami katakan bantuan ini adalah bentuk persaudaraan kami sesama bangsa Asia. Seberapa pun besar bantuan dari Indonesia, tak lebih hebat dari kemuliaan Bangsa Bangladesh memberikan ruang untuk Rohingya,” papar Ahyudin.

Sampai laporan ini diunggah, upaya untuk menyelesaikan segala urusan legal bantuan kemanusiaan tak pernah berhenti dilakukan oleh ACT juga Samudera Indonesia selaku penyedia transport shipping 2.000 ton beras untuk Rohingya. Iman Supiandi selaku General Manager PT Samudera Indonesia Logistik Kargo mengatakan, pihaknya dan ACT bakal mengusahakan yang terbaik agar kargo beras untuk Rohingya tetap aman.

“Seusai Kapal Kemanusiaan tiba, ada proses bongkar muat yang dilakukan sejak tanggal 11 Oktober. Sampai akhirnya Sabtu ini (14/10), seluruh kontainer beras 2.000 ton berhasil keluar dari pelabuhan dan dititipkan sementara di depo, menunggu proses custom clearance tuntas. Sesegera mungkin kargo aman segera sampai ke pengungsian,” papar Iman.

Selain PT Samudera Indonesia Logistik Kargo, urusan kemanusiaan lintas Asia ini pun melibatkan pihak-pihak di Bangladesh. Ahyudin mengucapkan terima kasihnya kepada Mr. Ahsan I. Chowdury (Managing Director) juga Mr. Ataul Karim Chowdury (Executive Director) dari Continental Group, sebuah perusahaan agen yang sangat membantu memudahkan proses bongkar 2.000 ton beras dari Pelabuhan Chittagong.

Sementara menunggu urusan legal dan custom clearance tuntas, 80 kontainer atau 2.000 ton beras dititipkan di gudang kontainer milik QNS Container Services Ltd di Chittagong. Mr. Nurul Qoyyum Khan, Chairman dari QNS Container Services Ltd dengan sangat terbuka memberikan ruang khusus bagi bantuan beras dari Indonesia.

“Insya Allah, kami akan tampung dengan baik untuk sementara waktu bantuan beras dari Indonesia. Memang butuh waktu untuk menyelesaikan legal dan custom clearance. Tapi dengan segala kemampuan terbaik, kargo dari Indonesia akan kami jaga dan kami pastikan kualitasnya tetap terbaik,” kata Mr. Nurul Qoyyum Khan.

2.000 ton beras dari Chittagong ke Cox’s Bazar
Usai kapal tiba di Chittagong dan seluruh urusan legal tuntas, masih ada perjalanan panjang sejauh kurang lebih 160 kilometer dari Chittagong menuju Distrik Cox’s Bazar. Di distrik Cox’s Bazar inilah tersebar di wilayah selatan, lebih dari sejuta pengungsi Rohingya. Menyambut kedatangan beras, ACT pun sudah menyiapkan 2 gudang besar yang masing-masing bakal menampung sekira 1.000 ton beras. Gudang disiapkan di wilayah Teknaf dan Cox’s Bazar, tak jauh dari lokasi kamp-kamp pengungsian.

Ahyudin memohon doa dari seluruh masyarakat Indonesia agar bantuan 2.000 ton beras ini benar-benar bisa segera sampai di kamp pengungsian. Ahyudin juga mengucapkan terima kasihnya kepada para tokoh dan rakyat Bangladesh yang telah memberikan Indonesia kesempatan dalam hajatan kemanusiaan di negeri Bangladesh.

“Ini bukan sekadar memberi bantuan karitatif. Kami ingin bersungguh-sungguh, tentunya dengan arahan para pemimpin di Bangladesh. bersama kita membangun kehidupan, bukan hanya untuk Rohingya, tapi juga untuk Bangladesh,” pungkas Ahyudin.@alam/act

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas