Nasi Tanpa Lauk Pauk Menjadi Menu Utama Anak-anak Pengungsi Rohingya

Visi.news – Tengah hari baru saja terlewat. Lepas setengah hari di lokasi kamp pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar sama saja dengan merasakan terik matahari yang begitu menyiksa. Siapapun yang pernah menginjak kakinya di Bangladesh mungkin bakal merasakan hal serupa. Terik tengah hari di Bangladesh betul-betul memanggang kulit.

Suara nyaring adzan Dzuhur usai terdengar dari salah satu sudut kamp. Sementara di salah satu sudut Kamp Balukhali, seorang bocah Rohingya berusia paling tidak 3 tahun, Azizulhaq namanya, baru saja berjalan gontai keluar dari tenda berselimut terpal plastik. Tenda tersebut kini rumah baginya. Rumah kumuh yang ia huni bersama abangnya, dan ibundanya. Si ayah, entah bagaimana kabarnya. Selagi Azizulhaq bersama abang dan ibunya mengungsi keluar dari Rakhine Myanmar, ayahnya tak ikut. Sampai kini mereka tidak tahu bagaimana nasib ayahnya.

Si bocah bermata bulat ini berjalan ke luar rumah sembari menenteng mangkuk kecil, ingin makan siang. Menyusul kakaknya dan beberapa kawan mainnya yang sudah lebih dulu berjongkok “nongkrong” di depan tenda kumuh mereka.

Rasa lapar bagi perut mungil Azizulhaq mungkin berkali-kali lipat dengan rasa lapar yang sering dirasakan bocah lain seusianya. Ibunya mengatakan, sejak pagi hingga kemarin sore, ia dan kedua anaknya tak makan lauk apapun. “Tidak ada lauk, kami tidak bikin makanan,” kata ibu Azizulhaq dalam rilis Tim ICT yang diterima visi.news, Rabu (8/11)

@istimewa

Lantas, apa menu makan siang yang sedang disantap si bocah Rohingya bermata bulat itu? Hanya semangkuk nasi putih yang sudah basi. Mungkin nasi itu sudah dimasak sejak pagi hari, dengan panas api seadanya. Ada tungku darurat yang dibuat Ibu Azizulhaq dengan bahan bakar kayu seadanya. Tungku sekadar dipacak di dalam tenda, tanah digali sejengkal untuk membuat tungku darurat.

Rumah gubuk yang ditempati si bocah Rohingya itu pun tak beralas kain sama sekali. Hanya tanah dan terpal tipis yang lebarnya satu mereran. Terpal plastik siang itu digunakan untuk ibu Azizulhaq merebahkan badan, sementara dua orang bocahnya asik menyantap nasi kering, tanpa lauk sama sekali.

Begitulah asib menjadi pengungsi Rohingya, menjadi pelarian dari kampung halaman di Myanmar, memaksa bocah-bocah Rohingya lain seperti Azizulhaq tak bisa sekadar memenuhi gizi harian.

Kondisi ini pula yang akhirnya memicu banyak gejala diare, sakit perut, dan demam dengan sebab-sebab yang tidak jelas. Seperti yang dikatakan dr. Rizal, salah satu anggota Tim Medis ACT dari Indonesia.

“Kondisi kamp panas serta minim sirkulasi, pengap sekali. Air bersih sulit untuk memenuhi kebutuhan minum dan merebus makanan. Makanan sangat terbatas dan sulit memilih. Akhirnya berujung pada kasus diare dan sakit perut dirasakan banyak sekali anak-anak Rohingya,” papar dr. Rizal langsung dari Kamp Balukhali, Cox’s Bazar.@aghi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas