ilustrasi/visi.news/net

Catatan Pemilu 2019 (1): Kenapa Mereka Bisa Melenggang ke Senayan?

Oleh Aep S Abdullah

UANG dan popularitas pada Pemilu 2019 tidak menjamin seorang calon anggota legislatif (caleg) melenggang duduk di kursi dewan. Semakin banyaknya saluran informasi mengenai profil caleg, menjadikan para pemilih mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang caleg pilihannya. Popularitas, sosialisasi door to door, membagikan amplop atau sembako, dan bujuk rayu lainnya, tidak sepenuhnya bisa menjadi jaminan seorang caleg berhasil merebut hati calon pemilih.

Menarik disimak ketika seorang sahabat, caleg incumbent senior, mengungkapkan kegundahannya akan calon pemilih di Kabupaten Bandung yang dianggapnya sudah demikian pragmatis. Untuk caleg DPR RI, dengan asumsi dua kali pertemuan bersama 100.000 konstituen di 48 kecamatan (31 kecamatan di Kab. Bandung dan 16 kecamatan di Kab. Bandung Barat), dan untuk dua kali pertemuan dianggarkan Rp. 150.000,- (satu kali pertemuan Rp 50.000,- dan Rp 100.000,-), maka kebutuhan anggaran minimal Rp 15.000.000.000. Jumlah yang tentu tidak sedikit dibandingkan dengan pendapatan seorang anggota DPR RI sendiri yang gaji pokoknya hanya sekitar Rp 55.000.000,-/bulan untuk anggota dan sekitar Rp 60.000.000,-/bulan untuk pimpinan dewan. Maka “modal” tersebut akan sulit dikembalikan dengan jalan lurus dan normal. Untuk seorang pimpinan dewan saja, dalam lima tahun menjabat hanya berpenghasilan Rp 3.600.000.000.

Kegundahan caleg senior tersebut dikaitkan juga dengan “pertarungan” dalam pemilihan bupati (Pilbup) pada tahun 2021 nanti, karena masa jabatan Bupati Dadang M. Naser akan berakhir pada tahun 2020 (2015-2020). Tentu cost yang harus disiapkan bisa lebih besar lagi. 

Fenomena Menarik

Namun mengamati pertarungan para kandidat legislator dalam memperebutkan kursi dewan pada Pemilu 2019, kegundahan tersebut tidaklah benar adanya. Beberapa kandidat, nyaris murni tidak mengandalkan politik “bageur dadakan” dengan membagi-bagikan uang, sembako, atau materi lainnya, melainkan benar-benar normatif mengandalkan personal branding yang kuat. Kalaupun ada “bagi-bagi” bukan uang pribadi melainkan sebagai pendamping dari mitra kerjanya. 

Hal ini mungkin karena masing-masing kandidat sudah mengetahui konsekuensi dari undang-undang nomor 7 tahun 2017 pasal 515 mengenai politik uang. Dalam UU itu disebutkan, yang dapat kena sanksi adalah pemberi uang. Bunyinya: Setiap orang yang dengan sengaja pada saat pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih supaya tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih Peserta Pemilu tertentu atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).

Aturan ini memberikan keleluasaan kepada masyarakat untuk menerima uang dari caleg yang mendadak dermawan, sementara pilihannya tetap caleg idaman. Kalaupun mereka ketahuan, tenang saja, mereka tidak akan terjerat pasal tersebut karena yang dikenakan sanksi hukum hanya pemberi, bukan penerima. Sehingga di Kabupaten Bandung, sedikitnya sudah ada dua kasus yang masuk ranah pidana akibat politik uang ini. Satu mendapat putusan inkrah, satu lagi masih berproses di bawaslu.

Dengan memegang aturan normatif, politikus muda berbakat dari Partai Golkar Ace Hasan Syadzily bisa lolos. Awalnya siapa yang mengenal Ace di Kab. Bandung? Jangankan masyarakat, timsesnya sendiri sebagian harus diedukasi untuk lebih mengenal dia. Ace masuk ke Kab. Bandung sebagai “nothing” namun berjalan dengan waktu bisa menjadi “something”. Perlahan namun pasti sementara ia mampu mengumpulkan lebih dari 75 ribu suara, modal yang cukup melenggang ke Senayan.

Berbeda dengan caleg Partai Golkar lainnya, Ace benar-benar mengandalkan personal branding dan menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang politisi matang di ruang publik. Ia kerap tampil di media mainstream, berdebat dengan politisi senior seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, dll, taktis menjawab serangan-serangan terhadap Capres No. 1 karena kapasitasnya sebagai Jubir TKN dan personal branding lainnya. Sementara diam-diam dalam melakukan sosialisasi, Ace bersama timsesnya di Kab. Bandung juga sudah menggunakan teknologi dengan aplikasi “Harus” yang bisa dibuka di smartphone. Dengan aplikasi ini, Ace dan timsesnya mengunci jejaring struktural ribuan pendukungnya. Aplikasi ini antara lain berisi profil caleg dan biodata sampai nomor kontak dari jejaring pendukung di “ring-1” sampai “ring-3”-nya. Melalui aplikasi ini, jejaring pendukungnya menjual Ace layaknya “product” multi level marketing. Dengan pola ini pula, Ace mendapat prakiraan pendukung tetap yang mayoritas dari kalangan muda. Mereka meyakini Ace adalah mainset baru dalam perpolitikan Partai Golkar di Kab. Bandung yang diharapkan bisa menularkan “virus” tersebut menjadi kultur berpolitik partai berlambang beringin itu di Kab. Bandung. Pola konvensional dengan memasang baliho, spanduk, stiker, Ace nyaris tidak ada.

Partai Golkar tidak hanya menempatkan Ace, “pemain lokal” politikus kawakan Kabupaten Bandung Anang Susanto, juga diperkirakan bakal melenggang ke Senayan. Anang berhasil meraih suara terbanyak untuk kursi golkar di Senayan, sedangkan dua caleg incumbent Lili Asdjudiredja dan Agus Makmur Santoso, diperkirakan langkahnya terhenti. Kapasitasnya sebagai Ketua DPRD Kab. Bandung sangat memudahkan Anang Susanto untuk mensosialisasikan diri dengan mitra kerjanya di SKPD Kab. Bandung, jauh sebelum memasuki masa kampanye. Dan, bekal tersebut terus dipeliharanya secara masif dengan rajinnya mengunjungi kantong-kantong konstituen pendukungnya. Meski dalam kondisi sakit, tidak mengurangi semangatnya untuk mencapai hasil yang didapatnya sekarang.

Jawara politik Kabupaten Bandung lainnya, Yadi Srimulyadi, juga kembali lolos ke senayan. Untuk politikus senior dari PDIP ini ada bahasa, “Pak Yadi mah teu kampanye oge pasti lolos ka Senayan”. Ini menunjukan betapa ia memiliki kantong suara dari pemilih militan yang tetap terpelihara. Bagi kalangan dekat, pembawaan Yadi dikenal care dan hangat. Dalam kapasitasnya sebagai Anggota DPR RI periode 2014-2019, Yadi tidak jarang berbincang berlama-lama di rumah para pendukungnya. Kebiasaannya ini, menjadikan tidak sedikit pendukung Yadi yang rela jiwa raga untuk membelanya. PDIP selain meloloskan Yadi, juga Jalaludin Rakhmat, kiai kontroversial asal Cicalengka. Kang Jalal, selain sebagai kiai yang mumpuni dalam pemahamannya soal Islam, juga pakar komunikasi yang buku-bukunya banyak dijadikan referensi oleh mahasiswa, terutama mahasiswa ilmu komunikasi.

Dede Yusuf yang meraih suara terbanyak dibandingkan dengan caleg DPR RI lainnya lebih lagi. Ia memiliki personal barnding yang bagus dari perjalanannya sebagai artis, wakil gubernur, dan ketua komisi IX yang membidangi masalah kesehatan, ketenagakerjaan, keluarga berencana, dll. Keraguan akan kemampuan politiknya terjawab dengan duduknya Dede Yusuf sebagai ketua komisi. Seperti juga caleg lainnya, Dede normatif dan masif dalam melakukan sosialisasi, baik sebelum masuk masa kampanye maupun sebelumnya. Ia meraih bekal suara terbanyak dibandingkan seluruh caleg asal Kab. Bandung, untuk kembali sebagai anggota DPR RI Periode 2019-2024.

Caleg incumbent PKS juga diperkirakan lolos ke senayan dari Dapil Jabar II Adang Sudrajat. PKS dikenal dengan militansi pendukungnya yang terus bergerak mensosialisasikan para calegnya. Seperti juga Ace, media luar ruang tidak banyak digunakan oleh Adang, namun berhasil mengumpulkan suara yang cukup untuk bekal ke Senayan. Wajah imut-imut Rachel Mariam dari Gerindra kembali akan menghiasi jajaran anggota DPR RI asal Kabupaten Bandung. 

Populer Tapi Tak Lolos

Beberapa nama beken dalam Pemilu 2019 dari dapil Jabar 2 yakni Tina Talisa (Nasdem) mantan host di televisi swasta dan pasangan duet Yana Yulio dalam lagu “emosi jiwa”, Lita Zein (PDIP), mantan Wagub Jabar Nu’man Abdul Hakil (PPP), mantan Menhut MS Ka’ban (PBB), Ketua Kadin Kota Bandung Iwa Gartiwa (Gerindra), dan model Eksanti (PAN) meski cukup populer di masyarakat, nampaknya belum cukup bekal suara pemilih untuk bisa melenggang ke Senayan.

Pemilih pada Pemilu 2019 nampaknya bukan hanya memilih caleg yang dikenal, dan banyak uang, tapi mereka lebih memilih caleg yang hangat dan care serta dianggap bisa mewakili kepentingan pemilihnya. Bagaimanapun, ditengah kekhawatiran dugaan demikian pragmatisnya pemilih di Kabupaten Bandung, masih cukup banyak pemilih yang idealis. Pemilih kelompok ini sangat mengendepankan kepentingan wakil rakyat asal Kab. Bandung yang bisa mendorong daerahnya lebih maju dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain. Wallahu’alam. (penulis, pemimpin umum/pemimpin redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas