Gunakan Modus Baru Gunakan GPS, Komplotan Curanmor Digulung Tim Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim

Visi.news – Tim Jatanras Ditreskirmum Polda Jatim membekuk sindikat pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang memanfaatkan perangkat Global Positioning System (GPS). Hal ini merupakan modus baru dalam kasus curanmor.

“Para pelaku awalnya menyewa mobil rental. Lalu, pada mobil tersebut ditambahkan seperangkat GPS,” kata Kapolda Jatim Irjen Luki Hermawan didampingi Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Gidion Arif Setyawan didampingi Kasubdit Jatanras AKBP Leonard M Sinambela, Selasa (24/9), dalam siaran pers CICpoldajatim.com.

Komplotan curanmor yang menggunakan GPS, modusnya adalah pelaku menyewa kendaraan selama 1 hari, lalu membawa GPS. GPS tersebut memang sengaja ditinggal agar pelaku bisa memantau ke mana mobil tersebut pergi. Jika dirasa lokasi mobil aman dan sepi, pelaku langsung melancarkan aksinya. Selain itu, saat menyewa kendaraan, pelaku biasanya melakukan duplikasi kunci.

Saat mengembalikan kendaraan sewaan lalu GPSnya tetap ditinggal di dalam mobil atau tersimpan di kendaraan. “Jadi pelaku bisa memantau kendaraan itu,” lanjutnya.

Hal itu merupakan modus baru yang ditemukan di Jawa Timur. Untuk itu, disarankan kepada masyarakat yang memiliki bisnis rental mobil agar mengecek kembali kendaraannya usai disewa orang lain.

“Kayaknya di Jatim masih baru dan TKP-nya di Banyuwangi, tertangkap di Malang. Ini tidak menutup kemungkinan di wilayah lain. Para penyewa kendaraan, habis disewa dicek lagi jangan sampai ada GPS yang disembunyikan di tempat tersembunyi,” sarannya.

Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Gidion Arif Setyawan mengatakan, pihaknya telah menangkap enam pelaku yang terbagi dari tiga komplotan. Penangkapan ini dilakukan kurang dari 24 jam sejak kemarin.

Selain menangkap pelaku, Gidion juga menangkap penadah gadai yang juga membuat STNK palsu.

Keenam tersangka yakni Slamet (40) warga Desa Lempeni, Tempeh, Lumajang; Muhammad Husni (33) warga Jatirejo, Kunir, Lumajang; Muntai (40), warga Kaliwungu, Tempeh, Lumajang; Ahmad Muzayyin (58) warga Rogotrunan, Lumajang; Muhammad Nizar (43) warga Desa Gampang, Bangil, Pasuruan; dan Zulkifli (32) warga Banjar Anyar, Tabanan, Bali.

“Tersangka menerima gadai mobil tanpa dilengkapi surat kemudian dibuatkan STNK palsu dengan cara menggosok dengan alat silet nomor polisi yang tertera di STNK asli setelah itu ditempeli dengan nomor polisi baru,” ujarnya.

Tak hanya itu, Gideon mengatakan ada beberapa barang bukti yang diamankan. Mulai 11 unit mobil, beberapa lembar STNK palsu dan asli hingga perlengkapan untuk memalsukan STNK seperti silet, lem, gunting.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat pasal tindak pidana Pencurian dengan pemberatan, yakni pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun. Sedangkan tindak pidana pemalsuan melanggar pasal 263 debgan hukuman penjara 6 tahun.

Tak hanya itu, pelaku juga terkena pidana penggelapan yang melanggar pasal 372 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun. Terakhir, untuk penadah terkena pasal 480 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama 4 tahum. @fen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas