Image copyright/dave stamboulis.

Desa Islam yang Terpisah dengan Negaranya (2)

Visi.news – Penduduk desa memanfaatkan lingkungan bebatuan mereka untuk membangun sistem penyimpanan pendingin batu alam, yang digunakan untuk menyimpan daging, mentega, dan barang tahan lama lainnya selama bulan-bulan hangat.

Dikenal sebagai ‘nangchung’ di Balti, yang berarti ‘rumah dingin’, bunker batu ini dirancang untuk memiliki celah yang memungkinkan aliran udara dingin lewat, menjaga barang tetap lebih dingin daripada suhu udara luar.

Jali adalah tanaman pokok di kawasan ini, karena itu adalah satu-satunya biji-bijian yang tumbuh di ketinggian. Tapi karena Turtuk relatif lebih rendah, warga Balti juga dapat menanam gandum.

Penduduk juga menumbuhkan sebagian besar aprikot dan kenari India, yang membuat desa ini terkenal. Pekerjaan ini padat karya, dan sepanjang tahun kita bisa melihat tambal sulam ladang yang ditanami atau dipanen. Tempat ini adalah oasis hijau yang kontras dengan dinding tandus dan cokelat di Karakorum dan lembah sungai.

Terlepas dari kenyataan bahwa India dan Pakistan masih berselisih soal Kashmir, kehidupan berjalan dengan damai di Turtuk. Semua penduduk desa diberi kartu identitas India dan dijadikan warga negara setelah pengambilalihan pada tahun 1971.

Baru-baru ini upaya untuk memodernisasi Lembah Nubra, dengan jalan yang lebih baik, layanan kesehatan, dan transportasi. Meningkatnya turisme baru-baru ini juga berarti masa yang lebih makmur bagi Turtuk.

Namun, di sini tidak terasa seperti di India. Kebun aprikot, masjid Noorbakshia, rumah-rumah batu dan saluran irigasi membuat desa tetap setia pada akar Balti. Belum lagi hidangan tradisional Balti seperti kisir (roti gandum) dengan daging yak atau disajikan dengan muskat, aprikot, dan pasta kenari; dan balay , sup dengan mie soba besar.

Desa ini sangat indah di musim gugur, ketika barisan pohon poplar berubah warna dan memberi warna cerah yang kontras dari lanskap berbatu yang memenuhi pemandangan.

Meskipun desa-desa Ladakhi di seluruh Lembah Nubra juga memanfaatkan batu itu, ciptaan mereka tidak ada yang serumit dan dibuat dengan susah payah seperti di Turtuk. Dan bahkan di wilayah gempa dan tanah longsor, dinding batu Balti berdiri dengan bangga dan menantang.

Ini adalah tempat di mana penduduk tidak hanya belajar hidup harmonis dengan lingkungan mereka yang keras, tetapi mereka juga berkembang. Penduduk desa tetap setia pada akar budaya mereka meskipun ‘kehilangan’ bekas negara mereka. Kini mereka menatap ke masa depan ketika menerima tamu-tamu yang datang dari seluruh dunia (habis). @fen/bbcnews indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas