Jembatan Cimanuk Indramayu./istimewa.

Sejarah Jembatan Cimanuk Indramayu, Dibangun di Zaman Belanda dan Sudah Tiga Kali Ganti Nama

Visi.news – Siapa yang mengira ternyata Jembatan yang berada di pusat Kota Indramayu ini memiliki kisahnya tersendiri, khusunya dalam pembangunan Kabupaten Indramayu dari masa ke masa.
Jembatan itu kini lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Cimanuk, lokasinya hanya berjarak sekitar 50 meter dari Alun-alun Indramayu.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Indramayu, Dedy S Musashi mengatakan, Jembatan Cimanuk sudah berganti nama sebanyak 3 kali.
Dikisahkan dia, jembatan tersebut pertama kali dibangun pada tahun 1900-an, konstruksi bangunan jembatan pun sangat khas dengan konstruksi negeri Belanda, masyarakat kala itu menyebutnya dengan nama Kreteg Gantung.
“Pada masa pemerintahan Hindia Belanda dalam catatan Residen Cirebon wilayah Kota Indramayu pada tahun 1873 itu terbelah menjadi dua yang dipisahkan oleh Sungai Cimanuk,” ujar dia seperti dikutip Tribunjabar.id dari Tribuncirebon.com.
Dahulu, sebelah timur Sungai Cimanuk adalah wilayah kekuasaan bupati dengan asisten residen. Sedangkan di sebelah barat Sungai Cimanuk merupakan kekuasaan kolonial Belanda yang oleh masyarakat dahulu disebut administrator.
Sementara itu, baik pribumi maupun penjajah untuk menyebrang ke wilayah seberang masih harus mengandalkan perahu atau yang waktu itu disebut jukung.
Untuk mempermudah akses dari timur dan barat ini, kolonial Belanda membangun sebuah jembatan yang dinamakan Kreteg Gantung karena kontruksinya yang seperti menggantung.
Memasuki tahun 1930-an, nama Kreteg Gantung masih populer di kalangan masyarakat, kala itu aktivitas Padukuhan Cimanuk atau yang sekarang pusat kota Indramayu mulai mengalami perkembangan baik dari sisi populasi penduduk maupun aktivitasnya.
Baik pada sisi sebelah timur maupun barat Sungai Cimanuk juga sudah berdiri sekolahan, kantor, dan rumah-rumah para kolonial Belanda.
Selanjutnya, memasuki masa kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada tahun 1960-an masyarakat lebih mengenal jembatan ini dengan nama Kreteg Sorog.
Hal itu karena jembatan ini berubah konstruksinya dari yang semula mengantung, berubah menjadi jembatan yang memiliki tiang penyangga dengan landasannya adalah papan berjajar.
“Saat namanya Kreteg Sorog, jembatan ini bisa dibuka tutup karena sebagai akses kapal-kapal melintas,” ucapnya.
Dedy S Musashi menceritakan, Sungai Cimanuk juga dikenal sebagai jalur transportasi perniagaan, di sana dahulunya menjadi bandar atau pelabuhan besar dan ternama di Pulau Jawa.
Banyak perahu besar sering hilir mudik melintasi Sungai Cimanuk, perahu-perahu itu datang dan pergi mengangkut hasil bumi dari Kabupaten Indramayu.
“Ini terbukti dengan adanya bangunan bekas pabrik-pabrik penggilingan beras yang berada di sekitaran Sungai Cimanuk,” ujar dia.
Setelah jembatan ini mengalami beberapa perubahan dan hilangnya kapal-kapal besar yang melintasi Sungai Cimanuk, jembatan itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Cimanuk.
“Selain menjadi sarana penyeberangan, jembatan ini juga menjadi ikon dari Kabupaten Indramayu,” ujar dia. @fen

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas