Ki Manteb Sudarsono./cnn indonesia/aulia bintang.

Dalang Ruwat, Profesi Tak Sembarangan (1)

Visi.news – Dalang bukan sekadar soal menggerakkan wayang dan bercerita dalam pertunjukan. Lebih dari itu, dalang diharuskan memiliki kemampuan memainkan wayang, bercerita, dan ‘nembang’. Butuh pemahaman dan keahlian khusus untuk mendapatkan status dalang sehingga sejak dulu mereka amat diistimewakan.
Tidak ada penjelasan pasti tentang masuknya pertunjukan wayang dan awal mula keberadaan dalang di Indonesia. Diperkirakan kesenian ini sudah ada di zaman Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-9 Masehi sebelum agama Hindu masuk, meski ada pula pendapat yang berkata wayang mulai dimainkan di abad ke-11 dan 12 Masehi.
Mengutip buku bertajuk Sejarah Pedalangan yang ditulis Soetarno, Sarwanto dan Sudarko, pertunjukan wayang dianggap sebagai sarana pemujaan roh leluhur. Kala itu roh leluhur diyakini bisa menampakkan diri sebagai bayangan di Bumi.
Berangkat dari sana, orang Jawa kuno lantas menghormati roh leluhur dengan membuat gambar serupa. Digambar di atas kulit binatang, umumnya lembu atau kerbau, kemudian disorot cahaya lampu dengan latar kain putih yang kelak disebut sebagai kelir, hingga ada bayangan yang bisa dilihat.
“Dalang dilakukan oleh seorang pendeta karena hanya pendeta yang dapat menghadirkan roh-roh leluhur,” dikutip dari buku Sejarah Pedalangan.
Seiring berjalannya waktu, pertunjukan wayang semakin berkembang, pun begitu dengan dalang.
Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia Prapto Yuwono mengatakan, pertunjukan wayang kerap digunakan oleh Walisongo sebagai dakwah pada abad ke 14. Saat itu, Walisongo sendiri langsung turun tangan menjadi dalang.
Lambat laun, perubahan terus terjadi. Kini, masyarakat awam pun bisa jadi dalang. Bahkan profesi itu menjadi warisan turun-temurun, dari kakek ke bapak, dari bapak ke anak. Lazim memang.
Bagaimanapun, ada satu dalang yang ditegaskan tak boleh diemban oleh orang biasa, yaitu dalang songgo buwono. Dalang ini, kata Prapto, adalah orang yang sangat spiritual dan suci. Ia bertugas khusus untuk ritual ruwat, karenanya disebut juga sebagai dalang ruwat.
Ritual ruwat bisa dibilang sebagai upaya ‘buang sial’. Hal ini sering dilakukan oleh masyarakat Jawa, biasanya kepada anak yang mudah sakit-sakitan, jauh jodoh, ataupun situasi lain yang dianggap tidak baik.
“Kalau ada suatu kejadian salah yang ingin diselamatkan, diadakan upacara ruwat (pertunjukan wayang ruwat). Ini enggak boleh dilakukan oleh dalang biasa, harus dalang ruwat,” kata Prapto seperti dilansir CNNIndonesia.com. (bersambung) @fen

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas