Ki Manteb Sudarsono./cnn indonesia/aulia bintang.

Dalang Ruwat, Profesi Tak Sembarangan (2)

Visi.news – Ki Manteb Soedarsono adalah salah satu dalang ruwat tersebut. Ia mendalang sejak usia delapan tahun dan saat ini pada usia 71 ia telah jadi maestro wayang. Profesi itu ia dapatkan dari garis keluarga, di mana buyut sampai ayahnya juga seorang dalang, hingga tutup usia. Persis seperti dalang-dalang zaman dahulu.
Sejak awal, Manteb kecil kerap diberi tahu sang ayah, Ki Hardjo Brahim, tentang perbedaan dalang biasa dengan dalang ruwat. Menurut Hardjo, menjadi dalang ruwat harus memiliki darah berketurunan dalang, seperti dirinya.
“Itu dinamakan dalang sejati dan saya sudah dipercayai dan diakui oleh masyarakat. Dari kakek sampai saya, jadi saya dalang generasi keempat,” kata Ki Manteb kepada CNNIndonesia.com saat ditemui di Banyumas, Jawa Tengah.
Manteb mengingat, Hardjo memberinya petuah tentang menjadi dalang ruwat. Disebutkan, setidaknya ada tiga syarat utama. Pertama, harus sudah beristri saat meruwat. Kedua, dilarang keras berpoligami. Dan ketiga, tidak boleh rujuk dengan mantan istri.
Syarat-syarat itu yang membuat Ki Manteb menikah sampai delapan kali. Setelah bercerai, ia menikahi perempuan lain karena ingin tetap mengamalkan petuah sang ayah, selain karena alasan cinta. Saat ini, istri Ki Manteb bernama Suwarti.
“(Syarat) itu dari kakek ke bapak, dari bapak ke saya. Kalau pakem saya seperti ini, kalau dalang lain bisa saja beda pakem,” kata pria yang mengaku tak pernah minum air putih itu.
Jika hendak meruwat, ia harus menjalani puasa mutih (berpantangan makanan minuman kecuali air putih dan nasi) selama tiga hari. Ada hari-hari tertentu untuk berpuasa, yakni pada Rabu Pon, Kamis Wage dan Jumat Kliwon. Bila dijumlahkan, jarak antara hari-hari tersebut adalah 40, sehingga berpuasa di tiga hari itu sama dengan berpuasa selama 40 hari.
Ki Manteb mengaku tak berani meruwat bila tidak berpuasa sama sekali. Setidaknya, ia melakoni puasa mutih satu hari pada salah satu hari yang telah disebutkan. Bila tidak berpuasa mutih, ia mengatakan ruwatan berpotensi gagal.
Saat meruwat, lakon khusus yang harus dimainkan adalah Batara Kala. Dalam kisah Mahabarata, Batara Kala diceritakan sebagai penguasa waktu. Ia direpresentasikan sebagai raksasa berwajah menyeramkan, yang dalam filsafat Hindu sekaligus menyimbolkan bahwa hukum karma tak dapat dilawan.
Ki Manteb menuturkan, dari sekian banyak permintaan, salah satu yang paling berkesan adalah saat dirinya meruwat seorang anak pengidap kanker darah. Sebelum acara ruwatan dilaksanakan di Taman Mini Indonesia Indah, sang dalang sempat bertemu si anak. Ki Manteb diberi tahu, umur anak itu diprediksi sudah tak lama lagi, bahkan hanya tinggal hitungan bulan.
“Kata dokter hidup anak itu tinggal tiga bulan, dia terlihat kurus dan pucat saat itu. Setelah ruwat selesai, bapak dan ibunya saya panggil untuk saya kasih syarat. Rahasia syaratnya, setiap dalang itu bisa beda,” kata Ki Manteb.
Waktu berlalu, kehidupan terus berjalan. Suatu hari tak sengaja Ki Manteb bertemu kembali dengan anak itu. Karena Ki Manteb sudah tak mengenali, si anak yang menghampiri terlebih dahulu untuk menyapa dalang yang pernah meruwatnya setahun lalu.
Menurut Ki Manteb, si anak terlihat sehat dan yang pasti, hidup sudah lebih dari tiga bulan sejak vonis dokter. Anak itu juga sudah bekerja, serta punya istri yang sedang mengandung.
“Katanya kamu tiga bulan mati? Kok masih hidup?'” tanya Ki Manteb saat itu kepada si anak.
Meruwat agenda politik juga jadi makanan sehari-hari Ki Manteb. Salah satu agenda yang ia ingat adalah saat ruwatan Partai Golkar, ketika politikus Agung Laksono dengan Aburizal Bakrie berseberangan di masa pemilihan ketua umum.
Tetap memainkan lakon Batara Kala, Ki Manteb sempat menyelipkan beberapa nasihat untuk partai berlambang pohon beringin itu. Ia berkata, sebagai salah satu partai tertua di Indonesia, sebaiknya kedua belah pihak berdamai atau islah.
Ki Manteb pun mengiyakan permintaan ruwatan saat Pemilihan Presiden 2019 masih berlangsung. Ia mengklaim, waktu itu Presiden Joko Widodo dan calon presiden Prabowo sempat memintanya untuk meruwat. Tanpa pikir panjang, kedua permintaan itu ia setujui.
“Saya ditanggap hijau, kuning, biru dan merah mau saja. Saya bukan orang partai, saya seniman, seniman itu netral, ditanggap siapa pun saya berangkat,” kata Ki Manteb sembari tersenyum. (habis) @fen

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas