Ilustrasi seseorang yang sedang minum kopi | unsplash.com/andrewneel

Mengapa Islam Melarang Meniup Makanan atau Minuman Panas? Begini Penjelasan Para Ulama

Visi.news – Makanan  atau minuman tertentu memang akan terasa lebih nikmat ketika baru selesai dimasak. Tetapi dalam keadaan tersebut, jelas makanan itu masih dalam keadaan panas sehingga tidak baik untuk langsung dinikmati.
Di dalam Islam, ketika makanan masih dalam keadaan panas, maka kita diajari untuk menunggu makanan tersebut agar berkurang kadar panasnya hingga menjadi hangat.
Secara medis, ternyata ajaran tersebut akan menjauhkan kita dari berbagai penyakit seperti mulut terluka akibat kepanasan dan lain sebagainya. Sementara secara moral, hal itu mengajari kesabaran kepada kita dimana sifat penyabar harus selalu dilatih, salah satunya dengan menunggu makanan atau minuman siap untuk dinikmati.
Rasulullah saw. mengajarkan adab makan tersebut dalam berbagai hadis. Dari Ibnu Abbas r.a, beliau berkata,
Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bernapas di dalam gelas atau meniup isi gelas.” (HR Ahmad 1907, Turmudzi 1888, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).
Begitu juga yang terdapat dalam hadis riwayat Abu Sa’id Al-Khudri, beliau berkata,
Artinya: Nabi saw. melarang meniup-niup minuman saat minum. Seseorang (laki-laki) berkata, “Bagaimana jika ada kotoran yang aku lihat di dalam wadah air itu?” Beliau bersabda, “Tumpahkan saja.” Ia berkata, “Aku tidak dapat minum dengan satu kali tarikan napas.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, jauhkanlah wadah air (tempat minum) itu dari mulutmu.” (HR. Tirmidzi No. 1887 dan Ahmad 3: 26. Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih).
Apa yang dilakukan Nabi saw. tersebut merupakan satu dari sekian adab ketika minum. Sebagaimana pernyataan Imam An-Nawawi,
“Larangan bernapas di dalam gelas ketika minum termasuk adab, karena dikhawatirkan akan mengotori air minum atau ada sesuatu yang jatuh dari mulut atau dari hidung atau semacamnya.”
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Meniup minuman bisa menyebabkan air tersebut terkena bau yang tidak sedap dari mulut orang yang meniup, sehingga menjadikan air itu menjijikkan untuk diminum. Terutama ketika terjadi bau mulut. Kesimpulannya, napas orang yang meniup akan bercampur dengan minuman tersebut, karena itulah Rasulullah saw menggabungkan larangan bernapas di dalam gelas dengan meniup isi gelas.”
Lebih dari itu, meniup makanan atau minuman juga dapat mendatangkan hal-hal yang tidak baik. Sebab, dikhawatirkan ada bakteri-bakteri buruk yang ikut mempengaruhi kebersihan makanan tersebut. @fen/akurat.co

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas