Li Wenliang./cnn

Dokter Li Wenliang Pembongkar Virus Corona Meninggal, Ini Kisahnya Hingga Terinfeksi

Visi.news – Dokter Li Wenliang meninggal dunia akibat mengidap virus corona. Dia adalah dokter yang pertama kali membongkar ke publik adanya virus Corona di Wuhan.

Dengan susah payah dokter Li memberikan imbauan soal bahayanya virus corona di awal-awal munculnya virus mematikan tersebut. Namun petugas berwenang Cina justru membungkam informasi.

Hingga Jumat (7/2), sebanyak 636 warga Cina meninggal dunia akibat virus itu. Corona juga menginfeksi lebih dari 31.000 jiwa dan telah menyebar ke 28 negara.

Berikut perjalanan Dokter Li, mulai dari menemukan virus hingga akhirnya meninggal dunia akibat virus corona:

Dokter Li Menemukan Virus Baru di Pasar Lokal Wuhan

Sebelum virus corona ramai diketahui banyak orang, seorang dokter bernama Li Wenliang telah memberikan informasi soal kemunculan virus tersebut. Dia memberikan pesan yang mengejutkan di grup alumni sekolah kedokterannya melalui aplikasi pesan singkat yang populer di Cina, WeChat.

“Tujuh pasien dari pasar makanan laut lokal telah didiagnosis menderita penyakit mirip SARS dan dikarantina di rumah sakitnya,” tulisnya.

Li menjelaskan, menurut sebuah tes yang telah dilihatnya, penyakit itu adalah virus corona, yang ternyata satu keluarga dengan virus sindrom pernapasan akut (SARS).

“Saya hanya ingin mengingatkan teman-teman sekelas universitas saya agar berhati-hati,” kata Li.

Li adalah seorang dokter berusia 34 tahun yang bekerja di Wuhan, kota yang menjadi pusat penyebaran virus corona di Cina. Li mengatakan kepada teman-temannya untuk mengingatkan orang-orang yang mereka cintai akan bahayanya virus ini. Perkataan Li pun benar terjadi.

Dokter Li Dituduh Menyebarkan Isu

Segera setelah dia mengunggah pesan itu, Li dituduh menyebarkan isu oleh polisi Wuhan. Dia adalah salah satu dari beberapa petugas medis yang menjadi sasaran polisi karena berusaha untuk mengungkap virus mematikan ini di pekan-pekan awal sebelum terjadinya wabah.

Pada waktu yang sama ketika Li mengirim pesan kepada teman-temannya, sebuah pemberitahuan darurat dikeluarkan oleh Komisi Kesehatan Kota Wuhan, yang berisikan pemberitahuan kepada institusi medis kota jika ada beberapa pasien dari Pasar Grosir Makanan Laut Huanan mengalami pneumonia yang tidak diketahui.

Menurut surat kabar pemerintah Beijing Youth Daily, dini hari tanggal 31 Desember, otoritas kesehatan Wuhan mengadakan pertemuan darurat untuk membahas wabah tersebut. Setelah itu, Li dipanggil oleh pejabat rumah sakitnya agar menjelaskan bagaimana dia bisa tahu tentang kasus-kasus itu.

Tanggal 3 Januari 2020, Li dipanggil ke kantor polisi setempat dan ditegur karena menyebarkan desas-desus yang sangat mengganggu ketertiban sosial atas pesan yang dia kirimkan dalam grup obrolan.

Sejak awal, pihak berwenang Cina ingin mengendalikan informasi tentang wabah itu, membungkam suara apa pun yang berbeda dengan narasinya, terlepas dari apakah mereka mengatakan yang sebenarnya.

Dokter Li Dipaksa Meminta Maaf

Li menyebarkan informasi soal virus corona yang ia periksa. Kemudian pihak kepolisian mengetahui informasi tersebut melalui aplikasi WeChat.

Usai dipanggil pihak kepolisian Cina, Li harus menandatangani pernyataan untuk mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak melakukan tindakan melanggar hukum lebih lanjut.

Dia takut akan ditahan. “Keluarga saya akan khawatir tentang saya, jika saya kehilangan kebebasan saya selama beberapa hari,” katanya kepada CNN melalui pesan teks di WeChat. Li terdengar batuk terlalu banyak dan napasnya tidak teratur untuk berbicara melalui telepon.

Untungnya, Li diizinkan meninggalkan kantor polisi setelah satu jam berada di sana.

Li sempat mengklarifikasi pernyataannya dalam pesan berikutnya yang menyatakan bahwa virus itu sebenarnya adalah tipe virus corona yang berbeda. Sangat disayangkan, tangkapan layar dari pesan pertama Li sudah menyebar di dunia maya.

Terlambatnya Penanganan Pasien Corona

Pada akhir Januari, keterlambatan penanganan wabah oleh pemerintah Wuhan mulai dipahami di Cina. Banyak netizen memikirkan peringatan dini yang disebarkan dari delapan orang itu bisa menyelamatkan ratusan nyawa.

Pada saat kemarahan publik tengah meningkat, Mahkamah Agung Cina pada 28 Januari, mengkritik polisi Wuhan karena menghukum para ‘pembuat isu’.

“Itu mungkin merupakan hal yang beruntung, jika masyarakat mendengarkan ‘desas-desus’ karena mengandung virus corona baru pada waktu itu, mungkin masyarakat akan mengambil langkah-langkah seperti mengenakan masker, desinfeksi yang ketat dan menghindari pergi ke pasar satwa liar,” kata Mahkamah Agung.

Menghadapi tekanan publik, polisi Wuhan mengeluarkan pernyataan pada hari berikutnya, yang mengatakan bahwa delapan orang itu hanya melakukan kesalahan ringan terutama karena menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi. Polisi mengatakan bahwa mereka hanya dipanggil untuk berbicara dan tidak ditahan atau didenda.

Li Dinyatakan Positif Virus Corona

Pada 10 Januari, setelah tanpa sadar merawat pasien dengan virus corona di Wuhan, Li mulai batuk dan demam pada hari berikutnya.

Li kemudian dirawat di rumah sakit pada 12 Januari. Pada hari-hari berikutnya, kondisi Li semakin memburuk. Saking parahnya Li dirawat di unit perawatan intensif, dan diberi dukungan oksigen.

Pada 1 Februari, Li dinyatakan positif mengidap virus corona. Li mengatakan bakal ikut berjuang membantu warga yang terinfeksi virus corona untuk sembuh. “ketika virus korona terus menyebar, saya tidak ingin pergi. Saya akan bekerja di garis depan ketika saya pulih,” ujar Li.

Li Meninggal Dunia Akibat Corona

Akhirnya Dokter Li Wenliang meninggal dunia pada Jumat (7/2) pukul 02.58 waktu setempat. Li meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RS Kota Wuhan karena terinfeksi virus corona.

Li diberi perawatan darurat dengan ECMO (oksigenasi membran ekstra-korporeal) setelah jantungnya berhenti berdetak sekitar pukul 21.30 Kamis malam.   @fen/merdeka.com/cnn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas