Tak Terima Ditagih Utang Berteriak-teriak, IRT Hantamkan Tabung Gas ke Kepala Sang Penagih yang Diduga Berpraktik Bank Emok

Visi.news – Tak terima ditagih utang di depan umum oleh seseorang yang diduga berpraktik bank emok, seorang IRT (ibu rumah tangga) nekat menghantamkan tabung gas kepada kepala sang penagih hingga terkapar berlumuran darah.

Atas perbuatannya, IRT bernama Supartini (36), warga Kampung Bunikasih RT 1/18, Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu harus berurusan dengan polisi atas dugaan penganiayaan.

Kapolresta Bandung, Kombespol Hendra Kurniawan melalui Kapolsek Ciwidey AKP Ivan Taufiq, dalam keterangan persnya menuturkan, insiden penganiayaan tersebut terjadi pada hari Jumat 14 Februari 2020 lalu.

Dikatakan Kapolsek, pelaku gelap mata saat ditagih utang terus-menerus dan di depan umum.
“Pelaku memukul korban Taruli RT saat ditagih utang. Penganiayaan ini terjadi karena pelaku tak terima ditagih utang secara tidak sopan di depan umum,” kata AKP Ivan, Rabu (19/2).

Menurut Kapolsek, Supartini mengaku terpaksa melakukan penganiayaan karena Taruli (49) saat menagih utang ke rumahnya dengan cara berteriak-teriak. Karena malu dan harga dirinya merasa diinjak-injak, Supartini kalap dan menghajar korban.

“Supartini kemudian lari ke dapur lalu mengambil tabung gas 3 kg. Tanpa basa-basi, Supartini langsung menghantamkan tabung gas itu ke kepala Taruli,” imbuh Kapolsek.

Akibat penganiayaan itu kepala korban mengalami luka sobek hingga mengeluarkan darah segar dan wajahnya lebam-lebam. Hinga kini korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Santosa.

“Pelaku pingsan setelah menganiaya korban. Mungkin syok melihat korban terkapar dan berlumuran darah,” ungkap Ivan.

Menurut Ivan, peristiwa penganiayaan tersebut memang dilatarbelakangi adanya utang-piutang. Supartini meminjam uang kepada Taruli yang diduga berpraktik sebagai bank emok atau rentenir sebesar Rp 1,7 juta.

Namun, Supartini baru bisa melunasi utang kepada Taruli sebesar Rp 1 juta. Taruli sendiri meminta Supartini membayar utang tersebut dengan cara mencicil tiap hari sebesar Rp 70 ribu.

Karena pembayaran utang macet tiga hari, korban yang merupakan warga Kampung Hanjuang, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, ini kemudian mendatangi rumah pelaku dan menagih dengan cara yang membuat Supartini naik pitam.

Supartini kini diamankan dan telah dititipkan ke sel tahanan Mapolresta Bandung. Akibat perbuatannya Supartini dijerat Pasal 351 ayat 2 KUHPidana. @pih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas