Tempat berlangsungnya sidang kasus pungli Kabid SMP Disdik Kab. Bandung H. Maman Sudrajat, Senin (23/3/2020). /visi.news/ist

Sidang Pungli Kabid SMP Kab. Bandung, Di Pos Satpam Sekdis Minta Kumpulkan Kepala Sekolah

Visi.news – Sidang kasus operasi tangkat tangan (OTT) Kepala Bidang Dinas Pendidikan (Kabid Disdik) Kabupaten Bandung H. Maman Sudrajat digelar Pengadilan Negeri Bandung, Jln. LLRE Martadinata, Senin (23/3/2020). Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jabar, Mursito, S.H., dan Adang Sukardi, S.H., mengurai peran Sekretaris Disdik H. Adang Sudjana dalam kasus tersebut.

H. Maman Sudrajat didakwa tiga pasal dalam Undang-Undang Pemberantasan Tipikor, yakni Pasal 12 huruf e, pasal 11, dan Pasal 5 dengan ancaman hukuman paling rendah 5 tahun dan paling lama 20 tahun serta denda maksimal Rp 10 M dan paling rendah Rp 200 juta.

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jabar, Mursito dan Adang Sukardi menguraikan peran dominan Adang Sudjana dan yang mengatur dikumpulkannya para kepala sekolah di SMPN 1 Pameungpeuk, tempat terjadinya operasi tangkap tangan (OTT) juga Sekdis Adang Sudjana.

Di Pos Satpam Graha Wirakarya, Ciparay, saksi Kepala SMPN 2 Pacet Kamal Bustomo bertemu dengan Adang Sujana dan memintanya agar memanggil Sutisna, Kepala SMP Bina Nusanrtara.

“Keduanya menemui Adang Sujana di pos satpam. Kemudian Adang memerintahkan saksi Sutisna untuk mengumpulkan kepala sekolah dengan kalimat, ‘Tis, besok kumpulkan 10 kepala sekolah’,” ujar Jaksa Adang Sukardi.

Awal Peritiswa

Peristiwa bermula pada 2 Januari 2020 di‎ Aula Rapat Sekretaris Disdik Kab. Bandung Adang Sujana menanyakan soal pengurusan dua kepala SMP bermasalah kepada Maman.

“Pak haji penyelesaian masalah belum selesai jadi bagaimana. Terdakwa mengatakan, jadi bagaimana pak. Dijawab Adang Sujana, kita minta bantuan saja ke sekolah yang dapat bantuan DAK TA 2019 yang nilainya di atas Rp 500 juta, saya minta datanya ya. Kemudian dijawab terdakwa, iya pak, akan saya carikan,” ujar Jaksa Adang Sukardi.

Maman pun memberikan data tersebut kepada Adang dalam bentuk soft file, akan tetapi Adang meminta kembali datanya karena mengatakan bahwa filenya rusak. Terdakwa Maman pun mengirim nama-nama SMP penerima DAK 2019 yang nilainya di atas Rp 500 juta, yakkni SMP Pameungpeuk 1, Bina Taruna, Katapang 2, Cileunyi 3, Dayehkolot 2, Paseh 2, Cileunyi 2, Pacet 2, Nagreg 1, dan SMP Solokanjeruk.

“Besoknya, saksi Adang Sujana mengirim pesan pada terdakwa yang isinya, ‘enjing’ pagi di SMPN 1 Pameungpeuk. Lalu dibalas terdakwa, tos maos, siap,” kata Adang Sukardi.

Pada hari yang sama di Pos Satpam Graha Wirakarya, Ciparay, Kab. Bandung Adang memerintahkan Kepala SMP Bina Nusantara, Sutisna, untuk mengumpulkan 10 kepala sekolah. Ke-10 kepala sekolah dipanggil Adang Sudjana itu antara lain, Kepala SMPN 2 Dayehkolot, SMP 1 Pameungpeuk, SMPN 2 Paseh, SMPN 2 Cileunyi, SMPN 2 Pacet, SMPN 1 Nagreg, SMPN 2 Solokanjeruk, dan SMPN 2 Katapang.

Besoknya, pada 3 Januari, Adang Sujana menghubungi terdakwa untuk pergi ke SMPN 1 Pameungpeuk dan di sekolah tersebut dari 10 kepala sekolah yang diajak bertemu, hanya satu kepala SMP yang tidak hadir yakni Kepala SMPN 1 Nagreg.

Di SMPN 1 Pameungpeuk, Maman menyampaikan pesan Adang Sujana soal permintaan uang terkait dengan pengurusan dua kepala sekolah bermasalah dan meminta mereka untuk mengatur uang Rp 60 juta. Sembilan kepala sekolah kemudian berembuk mengenai permintaan bantuan uang Rp 60 juta itu.

“Dari rembugan itu diputuskan uang Rp 60 juta itu dibagi delapan kepala sekolah sehingga masing-masing kepala sekolah menyetor Rp 7,5 juta kecuali SMP 2 Solokanjeruk dan SMP 1 Nagreg yang bermasalah,” papar Jaksa.

Uang pun terkumpul Rp 52,5 juta dan dimasukkan ke kantong plastik warna hitam serta disimpan di mobil terdakwa.

“Saat terdakwa akan meninggalkan SMPN 1 Pameungpeuk, mobil dihentikan Tim Satgas Saber Pungli Provinsi Jabar dan langsung mengamankan terdakwa beserta uang tunai Rp 52,5 juta,” kata Adang Sukardi.

Kepala sekolah terpaksa memberi uang Rp 7,5 jt, imbuh Jaksa Mursito, karena Maman Sudrajat merupakan atasan langsung para kepala sekolah.

“Para kepala sekolah khawatir nantinya jika tidak memberi akan berpengaruh dalam karir selaku kepala sekolah dan akan dimutasi karena tidak dianggap loyal. Apalagi sebelumnya pernah terjadi kepada sekolah tidak loyal, dipindahkan oleh Adang Sujana yang sempat menjabat Kabid SMP Disdik Kabupaten Bandung,” kata jaksa.@mpa/fen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas