55 Juta Masyarakat Indonesia Berkelainan Refraksi Mata

Editor Salah seorang siswa SD Muhammadiyah 13 Serengan, Kota Solo, yang berkelainan refraksi mata diperiksa tim grup riset "Pregnancy Health Delivery and Child Development" FK UNS/visi.news/istimewa.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Di Indonesia, prevalensi orang yang berkelainan refraksi mata sebesar 25 persen dari total populasi penduduk, atau sekitar 55 juta jiwa masyarakat Indonesia.

Sedangkan di Provinsi Jawa Tengah, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, terdapat orang yang memiliki keterbatasan penglihatan atau severe low vision sebesar 1,1 persen dari total populasi atau sekitar 329.428 jiwa.

Anggota tim grup riset “Pregnancy Health Delivery and Child Development”, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Erindra Budi, SKep.Ns, MKes, mengungkapkan hal itu kepada VISI.NEWS, Rabu (23/12/2020), berkaitan dengan kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan dan pemeriksaan kelainan refraksi kepada siswa SD Muhammadiyah 13 Serengan, Solo.

“Sebanyak 10 persen dari 66 juta anak sekolah di Indonesia, terdapat indikasi menderita kelainan refraksi. Kondisi ini, jika tidak segera ditangani akan menyebabkan kebutaan sehingga berdampak menurunnya kualitas generasi muda,” ujar Erindra Budi.

Masalah pada penglihatan anak-anak tersebut, katanya, menjadi fokus yang membutuhkan peran aktif semua pihak dalam mencegah dan menanggulangi gangguan penglihatan.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat tim FK UNS yang diikuti 30 siswa dan 5 guru tersebut, Erindra berharap, para orang tua, siswa, guru, dan pihak terkait, lebih peduli terhadap penyakit yang bisa menimbulkan kebutaan melalui kegiatan preventif dan promotif.

“Melalui pengabdian ini, tim kita bisa memberikan hak asasi anak agar bisa melihat dengan baik dan maksimal dalam belajar,” jelas anggota tim grup riset “Pregnancy Health Delivery and Child Development” FK UNS, pimpinan Prof. Dr. Soetrisno, dr, SpOG(K), dengan anggota Dr. Senyum Indrakila, dr. SpM. Annang Giri, dr. SpA, Hary Wahyu, dr. SpA. Hafi Nurinasari, dr. SpOG, Tri Nugraha PhD, dan Erindra Budi.

Baca Juga :  Keselamatan Terancam, Komunitas Wartawan Susun Panduan K3 Jurnalis

Dr. Senyum Indrakila, menambahkan, tujuan pengabdian masyarakat timnya adalah mendukung program “Vision 2020, the Right to Sight”, yakni komitmen yang ditandatangani 40 negara dalam World Health Assembly ke-56 tahun 2003.

Program tersebut untuk mendukung program Elimination of Avoidable Blindness, yaitu program mengurangi penyakit mata yang bisa menimbulkan kebutaan. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

1 Anggota Geng Motor Pelaku Penganiayaan di Tasik Berhasil Diringkus, Lainnya Masih Diburu

Rab Des 23 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Satu pelaku penganiayaan dan pembacokan berhasil diringkus polisi, sedangkan pelaku lainnya masih proses pencarian dan pengejaran. Hal tersebut dikatakan Kapolresta Tasikmalaya, AKBP Doni Hermawan saat menyampaikan upaya kerja keras tim Buru Sergap (Buser) Satreskrim Polresta Tasikmalaya melakukan pengejaran terhadap kelompok bermotor yang melakukan penganiayaan dan pembacokan berbuah […]