BRI Gelar PMHMETD untuk Kembangkan Ekosistem Ultra-Mikro sebagai Sumber Pertumbuhan Baru di Tengah Pandemi

Editor Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto, menyampaikan laporan pada acara penandatanganan perjanjian pengalihan saham pendirian holding Ultra Mikro BUMN di Jakarta. /visi.news/prnewswire
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah menyusun sejumlah strategi untuk mempercepat pengembangan ekosistem UMi (Ultra-Micro Holding) di Indonesia. Hal ini dilakukan BRI setelah resmi membentuk holding UMi pada 13 September 2021. Tiga strategi utama BRI bahkan telah dijalankan sejak Semester I-2021.

Demi mempercepat pembangunan ekosistem UMi, BRI telah menggelar penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD). Lewat aksi korporasi ini, BRI menawarkan saham Seri B baru dengan jumlah maksimum 28.213.191.604 lembar saham dan harga penawaran Rp 3.400 per lembar saham.

Pemerintah Indonesia menggunakan seluruh haknya dalam bentuk transaksi pengalihan saham (inbreng) atas kepemilikan saham PT Pegadaian (Pegadaian) dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) kepada BRI.

Selama tiga tahun pertama, BRI ingin menjalankan strategi tahap pertama melalui rencana pascaintegrasi usaha, dan menerapkan beberapa inisiatif termasuk co-location. Pada Tahap 2, BRI, Pegadaian, dan PNM mulai memperkuat posisi masing-masing. Hal ini dilakukan melalui beberapa inisiatif baru, seperti kanal-kanal digital yang mempermudah pelanggan mengakses produk-produk holding UMi.

Pada Tahap 3, BRI akan meningkatkan kemampuannya dalam mewujudkan inklusi keuangan di Indonesia. Untuk itu, BRI berencana meluncurkan program pemberdayaan berskala luas demi meningkatkan literasi keuangan, pertumbuhan bisnis, dan jangkauan digital nasabah dari ketiga perusahaan tersebut.

Menurut Menteri Koperasi dan UKM, sebanyak 45 juta usaha mikro di Indonesia membutuhkan pembiayaan pada 2019. Dari jumlah ini, hanya sekitar 20 juta usaha ultra-mikro yang telah memperoleh pembiayaan dari sumber-sumber resmi.

“Sekitar 12 juta usaha ultra-mikro memperoleh pembiayaan dari sumber-sumber informal, seperti keluarga, saudara, dan beberapa lembaga tidak resmi. Sekitar 14 juta usaha ultra-mikro bahkan sama sekali belum mengakses pembiayaan, baik dari sumber resmi atau tidak resmi. Kalangan ini menjadi sasaran pertumbuhan bisnis ultra-mikro pada masa mendatang,” ujar Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto.

Baca Juga :  Seni Budaya Daerah Kab. Bandung Penuh Karya Kreatif Inovasi

Dari sisi bisnis, Ekosistem UMi akan mendukung ketiga perusahaan ini untuk memperkuat proses akuisisi dan penjaminan. Ekosistem UMi akan mengintegrasikan bank data yang mencakup lebih dari 20 juta nasabah kredit dengan memakai fitur-fitur digital dan analisis.

Hingga kini, BRI memiliki lebih dari 120 juta nasabah yang menyimpan dana dalam bentuk deposito dan lebih dari 13 juta nasabah kredit. Sebagai pemimpin pasar di sektor usaha mikro di Indonesia, BRI kini menguasai 60% pangsa pasar yang terdiri atas 12,4 juta nasabah usaha mikro.@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ketua JPKL : Indonesia Tertinggal Jauh Soal Label Peringatan BPA

Sab Sep 18 , 2021
Silahkan bagikan Tindakan BPOM Sudah Tepat Untuk Melabelisasi Segera.  VISI.NEWS – Ketua Umum JPKL (Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan), Roso Daras menyayangkan pernyataan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, yang seakan menyalahkan pihak BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Menurut Roso Daras, keputusan […]