Search
Close this search box.

80 Tahun Bandung Lautan Api: Kobaran Semangat yang Tak Pernah Padam

Monumen Bandung Lautan Api yang berada di Lapangan Tegallega, Bandung./visi.news/humas bandung

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Tepat hari ini, Selasa (24/3/2026), bangsa Indonesia kembali mengenang salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan, yaitu Bandung Lautan Api. Momen ini bukan sekadar catatan kelam, melainkan simbol pengorbanan rakyat yang memilih membumihanguskan tempat tinggal mereka demi harga diri bangsa.

Ultimatum Sekutu dan Strategi Bumi Hangus

Ketegangan bermula pascakemerdekaan 1945, saat pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda (NICA) berupaya merebut kembali kendali atas Kota Bandung. Situasi memuncak ketika militer Inggris mengeluarkan ultimatum agar rakyat segera mengosongkan wilayah Bandung Utara.

Menghadapi tekanan tersebut, kepemimpinan militer Indonesia di bawah A.H. Nasution mengambil keputusan ekstrem. Pada malam 23 Maret 1946, sekitar 200 ribu warga secara serentak meninggalkan rumah mereka. Namun, mereka tidak pergi dengan tangan kosong; bangunan-bangunan strategis dibakar agar tidak jatuh ke tangan musuh sebagai basis kekuatan.

Keesokan harinya, 24 Maret 1946, langit Bandung berubah memerah. Strategi bumi hangus ini menjadi pesan tegas kepada dunia bahwa rakyat Indonesia lebih baik kehilangan harta benda daripada kembali ke pelukan penjajah.

Ledakan di Dayeuhkolot: Aksi Mohammad Toha

Di tengah kobaran api yang melalap kota, sebuah aksi heroik luar biasa terjadi di kawasan Dayeuhkolot. Dua pejuang muda, Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, mengemban misi berisiko tinggi untuk menghancurkan gudang amunisi milik musuh.

Keduanya berhasil menyusup ke jantung pertahanan lawan. Sebuah ledakan dahsyat akhirnya meluluhlantakkan gudang tersebut. Meski Toha dan Ramdan gugur dalam misi ini, aksi mereka menjadi fragmen perjuangan yang terus diceritakan lintas generasi.

Warisan Sejarah dan Inspirasi Modern

Peristiwa besar ini meninggalkan jejak mendalam, tidak hanya melalui lagu legendaris “Halo-Halo Bandung” karya Ismail Marzuki, tetapi juga lewat tegaknya Monumen Bandung Lautan Api di kawasan Tegalega.

Baca Juga :  Evaluasi Mudik Lebaran 2026, Mori Hanafi Soroti Perbaikan Tol hingga Kemacetan Parah di Cipali

Peringatan yang dilakukan setiap tanggal 24 Maret ini bertujuan untuk memantik kembali semangat persatuan bagi generasi muda. Bandung Lautan Api adalah bukti bahwa kemerdekaan Indonesia berdiri di atas fondasi keberanian dan solidaritas rakyat yang tak tergoyahkan. @ffr

Baca Berita Menarik Lainnya :