Abah Yayat : Akselerasi Pembangunan Jangan Dijadikan Alasan Perenggutan Lahan

Editor :
Anggota DPRD Kab. Bandung dari Fraksi Demokrat, Yayat Sudayat, bersama Bupati Bandung terpilih, H. Dadang Supriatna, dan Wakilnya, Sahrul Gunawan./visi.news/ki agus.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS — Kemuning sawah menghampar berganti wujud jadi perumahan, kolam dan selokan hanya tinggal cerita, lahan bermain anak jadi pertokoan. Semua terenggut dengan alasan akselerasi pembangunan daerah.

Hukum Tata Ruang berikut penataannya, dikatakan Anggota DPRD Kab. Bandung dari Fraksi Demokrat, H. Yayat sudayat (Abah Yayat), diindikasikan hanya sebagai syarat untuk memperoleh izin. Pengawasan dan pengendalian terimplementasikan berupa laporan semata.

“Kami tak melihat ada aparatur yang meninjau atau melakukan kajian ke lokasi. Kecuali yang berkepentingan dengan pelaksanaannya saja yang kelihatan,” kata dia melalui telepon seluler, Sabtu (27/2/2021).

Sementara masyarakat yang terdampak dari pembangunan tersebut, ungkap Abah Yayat, tak pernah menjadi prioritas untuk berusaha menanggulanginya. Demikian juga dengan izin kewilayahan kepada aparatur setempat, tidak ada koordinasinya.

Kerusakan alam juga lingkungan, jelas dia, dimanipulasi sebagai suatu peristiwa atau musibah. Begitu juga dengan bencana yang terjadi semuanya hanya berorientasi pada besaran anggaran yang memang sudah dipersiapkan pemerintah bagi masyarakat terdampak.

Menurut dia, itu bukan merupakan solusi selama tidak dicari penyebab dari masalahnya terlebih dahulu. Itu butuh ketegasan bukan hanya teguran melalui selembar kertas. Sebab yang menikmatinya nanti bukanlah pribumi melainkan pendatang.

Dia menuturkan, semua perumahan yang dibangun itu hampir 80% merupakan pendatang, sedangkan pribumi sebelumnya melalui program pembebasan tanah atau lahan, menyingkir ke daerah pinggiran untuk mendirikan tempat tinggal.

Ini adalah persfektif kehidupan yang dijalani masyarakat, lanjut dia, tidak merasakan nikmatnya pembangunan tapi menjadi penonton dari kemakmuran sepihak yang demi memenuhi hasratnya segala aturan dikesampingkan agar ambisinya terwujud.

“Sungai tak tersentuh pengerukkan sedimen, sampah tidak diangkut, setelah terjadi peristiwa, saling menyalahkan satu sama lain. Seolah lempar batu sembunyi tangan,” ujar dia.

Baca Juga :  Luthfi bersama BBWS Lakukan Pengerukan dan Pembersihan di Sungai Citarik

Setelah terjadi, dia mengemukakan, barulah dilakukan penggerakan pengamanan lingkungan, melalui penanaman pohon, pengangkutan sampah, penambalan jalan berlobang, termasuk pengerukkan sedimen drainase dan sungai.

Selanjutnya memberikan bantuan bagi masyarakat yang mengalami penderitaan, melakukan pendekatan persuasif secara psikogis, dan menyatakan keprihatinannya, “Itu pun direalisasikan setelah menerima kabar adanya korban atau yang mengalami kerugian akibat kerusakan lingkungan, alam, juga yang lainnya,” pungkasnya. @qia.

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Polresta Surakarta Ringkus 9 Tersangka Pelaku Premanisme

Sab Feb 27 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Jajaran Kepolisian Resort Kota (Polresta) Surakarta meringkus sebanyak 9 orang tersangka pelaku premanisme yang melakukan perusakan dan penganiayaan di Kota Solo. Ke-9 orang tersangka tersebut diringkus aparat Polresta Surakarta di beberapa tempat berbeda, menyusul tindakan brutal merusak dan menganiaya korban. Kapolda Jawa Tengah, Irjen. Pol. Ahmad Luthfi, […]