Abu Yazid Al-Busthami, Ulama Sufi yang Berbakti kepada Ibunya

Editor Abu Yazid Al Busthami. /net
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Syurusan Al-Busthami adalah seorang ulama sufi yang terkenal pada abad ketiga Hijriyah. Ia lahir di Bustham, Persia, pada tahun 188 H/801 M. Ia berasal dari keluarga yang awalnya beragama Zoroaster, tetapi kemudian masuk Islam. Ia memiliki seorang ibu yang sangat dicintainya dan menjadi inspirasinya dalam menuntut ilmu.

Suatu hari, ketika ia masih muda, ia sedang belajar tafsir Al-Qur’an di sebuah pondok pesantren. Gurunya menjelaskan ayat 14 dari Surat Luqman, yang berbunyi:

اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.”

Ayat ini menggugah hati Abu Yazid dan mengingatkannya pada ibunya yang menunggunya di rumah. Ia pun memohon izin kepada gurunya untuk pulang dan menemui ibunya. Gurunya mengizinkannya dan ia segera berangkat.

Ketika sampai di rumah, ibunya terkejut dan heran melihatnya. Ia bertanya, “Thaifur, kenapa kamu pulang?” Abu Yazid menjelaskan bahwa ia terharu oleh ayat yang diajarkan gurunya dan ingin bersyukur kepada ibunya. Ia berkata, “Aku tidak bisa menjalankan dua ibadah syukur dalam waktu yang bersamaan.”

Ibunya merasa kasihan melihat anaknya yang bimbang antara merawatnya dan mencari ilmu. Ia pun membebaskan Abu Yazid dari semua kewajiban terhadapnya dan menyerahkannya kepada Allah. Ia berkata, “Nak, aku bebaskan semua kewajibanmu kepadaku dan aku pasrahkan kamu kepada Allah. Pergilah dan jadilah seorang hamba Allah.”

Abu Yazid mengikuti nasihat ibunya dan meninggalkan kota Bustham. Ia menjadi “santri kelana” yang berkelana dari satu negeri ke negeri lain selama 30 tahun. Ia berguru kepada 113 guru spiritual dan mengamalkan puasa dan tirakat. Ia menjadi seorang ulama sufi yang memiliki pengaruh besar dalam dunia tasawuf. Ia dikenal dengan nama Abu Yazid Al-Busthami atau Bayazid Bastami.

Baca Juga :  Camat Karangpawitan Ancam Hentikan Proyek Pembangunan TPT di Desa Situsari

Sebelumnya, dalam kitab Tadzkiratul Auliya karya Fariduddin Aththar, ada kisah lain yang menunjukkan kebaktian Abu Yazid kepada ibunya. Suatu malam, ibunya terbangun dan haus, tetapi tidak ada air minum. Abu Yazid keluar untuk mencari air dan membawanya pulang. Namun, ia mendapati ibunya sudah tertidur lagi. Ia pun memutuskan untuk tidak tidur dan memegang tempat minum itu sampai pagi. Ia takut ibunya tidak menemukan air jika ia tidur. Ketika ibunya bangun, ia bertanya, “Nak, kenapa kamu belum tidur?” Abu Yazid menjawab, “Jika tidur, aku takut ibu tidak menemukan air minum ini.”

Dari kisah-kisah ini, kita dapat mengambil hikmah bahwa ridha dan doa orang tua, terutama ridha dan doa seorang ibu, sangat berarti dan dapat memengaruhi perjalanan kehidupan seseorang. Dengan berbakti kepada orang tua, kita akan mendapatkan keberuntungan dan keberkahan. Sebaliknya, durhaka terhadap orang tua bisa membawa malapetaka di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

@mpa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Cerah Berawan

Rab Jan 24 , 2024
Silahkan bagikanVISI.NEWS | BANDUNG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Kota Bandung hari ini, Rabu, 24 Januari 2024, akan cerah berawan sepanjang hari. Suhu udara berkisar antara 19°C hingga 28°C, dengan kelembapan udara antara 75% hingga 95%. Kecepatan angin bervariasi antara 0 km/jam hingga 10 km/jam, dengan […]