VISI.NEWS | BANDUNG — Ribuan warga Minneapolis tetap turun ke jalan meski suhu udara mencapai minus 20 derajat Fahrenheit (minus 29 Celsius) pada Jumat (23/1/2026). Aksi ini tidak hanya menjadi unjuk rasa, tetapi juga berubah menjadi aksi mogok massal yang membuat banyak bisnis di Minnesota menghentikan operasionalnya sepanjang hari.
Demonstrasi yang mengusung slogan “ICE OUT!” tersebut menuntut penghentian operasi U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) di kota itu, menyusul meningkatnya ketegangan antara aparat federal dan komunitas lokal. Penyelenggara menyebut jumlah peserta mencapai puluhan ribu orang, dengan sebagian massa kemudian berkumpul di Target Center, arena olahraga di pusat kota Minneapolis.
Aksi ini diwarnai solidaritas lintas sektor, mulai dari pekerja, pemuka agama, hingga pelaku usaha kecil yang menutup tempat usahanya sebagai bentuk protes.
“Jika ini terjadi di waktu lain, mungkin tidak ada yang keluar rumah. Tapi ini soal solidaritas dengan komunitas kami dan pesan untuk para politisi bahwa mereka harus berbuat lebih dari sekadar tampil di televisi,” kata Miguel Hernandez, pengelola Lito’s Bakery yang menutup tokonya dan ikut berunjuk rasa.
Sehari sebelum aksi, Wakil Presiden AS JD Vance mengunjungi Minneapolis untuk menunjukkan dukungan terhadap petugas ICE serta meminta semua pihak meredakan ketegangan. Namun, kehadiran aparat federal justru terus menuai penolakan dari warga.
Dalam aksi terpisah di Bandara Internasional Minneapolis–Saint Paul, puluhan pemuka agama ditangkap polisi saat berlutut di jalan sambil menyanyikan lagu rohani dan berdoa. Mereka menuntut penarikan sekitar 3.000 aparat penegak hukum federal yang dikerahkan ke wilayah tersebut.
“Kami menyaksikan sebuah lembaga yang tampak tidak memiliki pagar pengaman, dan telah menyebabkan penderitaan di seluruh Minnesota,” ujar Lizz Winstead, aktivis hak reproduksi yang menjadi pembawa acara dalam aksi di Target Center.
Kelompok advokasi Faith in Minnesota menyatakan, para pemuka agama yang ditangkap juga ingin menyoroti penahanan pekerja bandara dan maskapai oleh ICE di tempat kerja mereka.
“Kami meminta perusahaan penerbangan berdiri bersama warga Minnesota dan mendesak ICE segera menghentikan peningkatan operasinya di negara bagian ini,” kata perwakilan organisasi tersebut.
Isu ini semakin sensitif setelah penembakan terhadap Renee Good, warga negara AS, oleh agen ICE awal bulan ini. Penyelenggara menuntut pertanggungjawaban hukum atas peristiwa tersebut serta investigasi menyeluruh terhadap operasi ICE di Minnesota.
“Jangan salah, yang kita hadapi adalah pendudukan federal penuh melalui tangan ICE di tanah Dakota yang belum pernah diserahkan,” ujar Rachel Dionne-Thunder, Wakil Presiden Indigenous Protector Movement, di hadapan massa.
Di tengah aksi besar tersebut, sejumlah perusahaan besar yang bermarkas di Minnesota memilih bungkam. Sikap ini menuai kritik dari para demonstran.
“Keheningan perusahaan-perusahaan besar di negara bagian ini sangat memekakkan telinga,” kata Winstead. @kanaya











