Alif yang Berprestasi International Cari Dana dari Kompetisi untuk Biayai Umrah Orang Tua

Editor :
Alif Sholihin bersama Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho./visi.news/tok suwarto.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pilihan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tujuan utamanya tidak untuk menjadi guru di sekolah formal. Tetapi, ilmu pendidikan yang diperoleh di FKIP, dapat digunakan untuk mendidik banyak orang di luar jalur pendidikan formal.

Pendapat itu menjadi prinsip Alif Sholihin, mahasiswa FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, ketika 10 tahun silam memutuskan memilih program studi (Prodi) pendidikan seni rupa di FKIP UNS.

Sebuah pilihan yang dia yakini sejak awal kuliah akan membuahkan hasil baik, dan akhir-akhir ini dia menuai prestasi gemilang di ajang kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

“Saya tidak ingjn menjadi guru. Tetapi saya tetap berkomitmen mengabdikan ilmu untuk mengajar dan mendidik di luar sekolah,” ujar Alif Sholihin kepada VISI.NEWS, Sabtu (20/2/2021).

Menanggapi harapan Mendikbud, agar di masa depan semakin banyak guru penggerak, mahasiswa prodi pendidikan seni rupa semester 10 itu sependapat, salah satu alasannya karena ketika dia ikut kuliah kerja nyata (KKN) di Sabah, Malaysia, mendapati kualitas pendidikan dan pengajaran di daerah perbatasan yang masih rendah.

“Meskipun tidak menjadi guru, saya bisa mendidik dan mengajarkan ilmu yang tidak didapat di sekolah,” jelasnya.

Komitmen Alif Sholihin untuk mengajar dan mendidik masyarakat di luar sekolah tersebut, bertolak dari keberhasilannya dalam mengikuti berbagai kompetisi penciptaan karya desain dan seni rupa. Dia menyebutkan, sejak bulan April-Desember 2020, dia tercatat mengikuti kompetisi tingkat nasional dan internasional sebanyak 70 kali, dan 12 di antara karyanya memenangi kompetisi yang tergolong bergengsi.

“Selama tahun 2020, saya mengikuti sekitar 70 kali kompetisi dan menang 12 kali. Di antara kompetisi itu, 5 di antaranya menang tingkat internasional, yaitu International Multimedia Engineering Technology Competition, Asean Youth 2020 Creative Content, Southeast Asia Global Innovation Challenge, Chemistry Innovation Challenge, dan World Cyber Games,” jelasnya.

Prestasi gemilang yang diraih Alif Sholihin, katanya, diperoleh dari proses panjang sejak dia duduk di semester 4. Ketika itu, Alif yang termasuk salah seorang mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu, yang mendapat biaya kuliah dari beasiswa Bidikmisi, sudah tertarik dengan kegiatan kompetisi.

Dia mengawali kompetisi dengan bergabung bersama tim “Bengawan” yang setiap tahun mengikuti kompetisi otomotif di Jepang. Pengalaman di tim “Bengawan” yang merupakan rumpun tim kompetisi internasional, dia mendapatkan lingkungan dan kebiasaan kompetitif dan menjadi pendorong untuk terus berprestasi.

Prestasi luar biasa yang menonjol di atas mahasiswa UNS lainnya itu, menarik perhatian Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho. Alif Sholihin secara khusus mendapat panggilan langsung dari Rektor UNS lewat telepon sehingga mahasiswa asal Kabupaten Sukoharjo itu menyatakan terkejut dan heran atas panggilan yang mendadak tersebut.

“Saya pikir, di UNS banyak mahasiswa yang berprestasi bagus, kenapa hanya saya yang dipanggil Rektor ke ruang kerja. Apalagi Prof. Jamal mengundang saya langsung dengan menghubungi lewat telepon,” kisahnya dan kepada VISI.NEWS.

Di depan Alif Sholihin yang didampingi Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Sutanto, S.Si, DEA dan Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaan, Drs. Rohman Agus Pratomo, Prof. Jamal menjelaskan, dia mengundang mahasiswa berprestasi itu ke ruang kerjanya untuk berdiskusi tentang prestasi yang diraih.

“Saya mengundang secara khusus mahasiswa saya di Prodi Pendidikan Seni Rupa yang mendapat juara tingkat internasional. Begitu mendapat kabar tentang prestasi Alif Sholihin, saya minta kontak dari Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan, dia saya hubungi langsung untuk diskusi di ruangan saya,” ujar Prof. Jamal.

Alif Sholihin yang berasal dari keluarga tidak mampu, berkisah, alasan dia mengikuti banyak kompetisi sampai yang bertaraf internasional itu karena motivasi ingin mendapatkan uang. Dia melihat banyak peluang yang bisa diraih untuk memenangi kompetisi dan dia tidak ingin membuang kesempatan tersebut sebelum dia memasuki dunia kerja setelah lulus kelak.

Dari 12 kali kemenangan di kompetisi yang selama tahun 2020 saja sampai 70 kali, menurut Alif Sholihin, dia telah mengantongi hadiah berupa uang yang jika dirupiahkan mencapai Rp 80 juta.

Lantas, untuk apa hadiah uang sebanyak itu?
Nominal hadiah yang diperoleh Alif Sholihin, katanya, belum seluruhnya cair. Karena kemenangannya dalam kompetisi di Korea Selatan di tahun 2020 saat ini belum cair.

“Kalau ditotal, dari bulan April sampai Desember 2020 jumlahnya sekitar Rp 80 juta. Hadiah itu, insyaallah buat biaya umrah bapak-ibu saya karena itu masuk list cita-cita saya untuk menjadi juara dunia. Jadi kejuaraan itu harus saya kejar,” ungkapnya.

Prestasi internasional yang diraih Alif Sholihin itulah, yang menurut Prof. Jamal diapresiasi karena merupakan aset bagi UNS yang kini berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum atau PTN – BH.

Meskipun Alif Sholihin tidak berminat menjadi guru di sekolah formal, cita-citanya tetap akan mendidik masyarakat di luar sekolah juga ditanggapi positif Rektor UNS.

Prof. Jamal Wiwoho yang secara spontan juga memberikan hadiah selembar dolar AS, menjanjikan jika Alif Sholihin ingin melanjutkan kuliah pascasarjana di UNS akan diberi fasilitas gratis. @tok

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

DUNIA ISLAM: Muslim India, Salah Satu Minoritas Tertindas di Dunia

Ming Feb 21 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Di India, muslim membentuk hampir 15 persen dari populasi, atau lebih dari 200 juta orang dari 1,39 miliar orang India. Meski menjadi agama terbesar kedua setelah Hindu, Muslim di India telah menjadi salah satu kelompok minoritas yang tertindas terbesar di dunia. Perdana Menteri India, Narendra Modi, beragama […]