Search
Close this search box.

Anak Muammar Khadafi Dibunuh Geng Bersenjata di Zintan, Libya

Sejumlah pengamat berkumpul di luar rumah Seif Al Islam Khadafi di Zintan, Libya barat, Selasa (3/2/2026), setelah kabar penembakan yang menewaskan putra mantan pemimpin Libya itu./source: The New York Times.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Seif Al Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, tewas ditembak oleh kelompok bersenjata di rumahnya di Kota Zintan, Libya barat, Selasa (3/2/2026) siang waktu setempat. Kabar duka ini mengejutkan banyak pihak di tengah ketegangan politik dan keamanan yang masih membayangi negara itu sejak tumbangnya rezim Khadafi lebih dari satu dekade lalu.

“Ia tewas hari ini pukul 14.00 waktu setempat di rumahnya oleh empat orang yang dikomando,” ujar pengacara Seif, Marcel Ceccaldi, kepada AFP, menggambarkan saat-saat tragis ketika putra 53 tahun itu kehilangan nyawanya di tempat tinggalnya sendiri.

Menurut penasihat Seif, Abdullah Othman Abdurrahim, para pelaku menyerbu kediaman, mematikan kamera pengawas dan mengeksekusi Seif di dalam rumah. Hingga kini belum ada kelompok atau individu yang mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, sementara penyelidikan masih berlangsung.

Beberapa hari sebelum insiden, kata Ceccaldi, Seif telah menerima peringatan soal ancaman keamanan yang serius.

“Bahkan kepala sukunya (Khadafi) sempat menelepon Seif dan berkata, ‘Saya akan kirimkan orang untuk mengamankanmu.’ Namun, Seif menolak,” ungkap sang pengacara.

Seif dikenal luas sebagai figur yang pernah digadang-gadang menjadi penerus ayahnya di panggung politik Libya. Ia sempat mencalonkan diri sebagai presiden pada 2021 dalam pemilihan yang akhirnya ditunda tanpa batas waktu dan menjadi target surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Meski tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan, kehadirannya kerap dipandang kuat dalam kancah politik Libya pasca-2011.

“Dia menginginkan Libya yang bersatu dan berdaulat, aman bagi seluruh rakyatnya,” tulis juru bicara terakhir rezim Khadafi, Moussa Ibrahim, di media sosial, mengenang dialog terakhirnya dengan Seif dua hari sebelum pembunuhan itu.

Baca Juga :  Unggul Dua Kali, PERSIB U20 Gagal Menang di Madura

Pakar politik Libya Emadeddin Badi menilai dampak kematian Seif bisa besar bagi proses politik domestik.

“Kematian Seif Al Islam kemungkinan akan menjadikannya martir bagi sebagian masyarakat, dan mengubah dinamika pemilihan dengan menghilangkan salah satu hambatan utama dalam pemilihan presiden,” tulis Badi di akun media sosialnya.

Libya sendiri masih terpecah secara politik dan keamanan sejak pemberontakan yang menggulingkan ayah Seif pada 2011. Negara ini kini terbagi antara Pemerintah Persatuan Nasional yang berbasis di Tripoli dan pemerintahan tandingan di timur yang didukung oleh Jenderal Khalifa Haftar — sebuah kondisi yang memperumit stabilitas dan proses transisi politik di negara kaya minyak tersebut.

Kematian Seif Al Islam Khadafi menjadi babak baru dalam sejarah panjang krisis Libya sekaligus memicu pertanyaan tentang siapa di balik serangan itu dan apa dampaknya bagi masa depan politik negara yang terus bergolak. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :