ANALISIS BOLA: Hujan Batu di Liga 1, Boleh Coba Hujan Emas di Negeri Orang

Editor Rivaldo Todd Ferre diminati klub luar negeri./antara/zabur karuru.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pepatah hujan batu di negeri sendiri lebih baik dibanding hujan emas di negeri orang kini sedang diuji kebenarannya dalam konteks kompetisi sepak bola.

Bukan kerusuhan yang terjadi. Tidak ada batu melayang ke tengah lapangan, namun Liga 1 masih beku dan belum bergulir lagi setelah terdampak pandemi Covid-19.

Di tengah karut marut penyelesaian permasalahan yang tak kunjung usai, kompetisi sepak bola pun turut merasakan dampak. Bersama dengan Brunei Darussalam, Indonesia merupakan negara Asia Tenggara yang belum menjalankan kompetisi.

Berbeda dengan Indonesia, negara di bagian utara Kalimantan itu memang sudah memutuskan menghentikan sepak bola sejak pandemi Covid-19.

Ada situasi riskan yang mengintai jika Liga 1 dibiarkan berjalan, yakni masalah kesehatan orang-orang yang turut terlibat di dalamnya termasuk pemain, pelatih, wasit, panitia pelaksana pertandingan, dan lainnya.

Di sisi lain, tanpa kompetisi berarti tidak ada uang berputar dan aktor utama serta aktor pendukung lapangan hijau pun merasakan dampak besar. Beberapa bahkan banting setir menjalani profesi lain demi periuk nasi tetap mengebul.

Seiring sebangun dengan kompetisi mandek, muncul ‘kompetitor’ untuk PT Liga Indonesia Baru bernama tarkam atau juga populer dengan istilah fun game. Di media sosial terlihat beberapa pemain elite, bahkan pemilik caps di Timnas Indonesia, ikut bermain.

Bagi beberapa pemain sebenarnya mereka memiliki kemampuan berlaga di tempat lain yang lebih pantas dan berkelas, yaitu di liga luar negeri. Liga sepak bola di Indonesia yang terhenti juga dipantau negara tetangga sehingga belakangan muncul rumor ketertarikan klub asing kepada pemain Indonesia.

Talenta sepak bola lokal boleh dikata tidak habis-habis, selalu muncul potensi yang menjanjikan dari tahun ke tahun. Maka jamak jika klub-klub liga tetangga, seperti Malaysia, Thailand, atau Myanmar melirik.

Baca Juga :  Demi Kalahkan Australia, Ernando Ari Siap Kerja Ekstra Keras Bersama Skuad Garuda Muda

Ristomoyo, Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, dan Andik Vermansah pernah menjadi bagian sukses klub Selangor meraih kejayaan. Sementara Evan Dimas, Ilham Udin Armayn, David Laly, Dedi Gusmawan, Irfan Bachdim, dan sederet nama lain pernah berkecimpung di liga luar.

Kurniawan Dwi Julianto, Bima Sakti, Rochy Putiray bahkan pernah mengadu nasib lebih jauh lagi, bukan sekadar main di negara tetangga.

Hanya saja ada faktor lain yang membuat para pemain tak mau beranjak dari negeri sendiri, seperti sudah merasa menjadi bintang dan rasa cepat puas ditengarai jadi penyebab, begitu pula soal home sick yang seperti jadi rahasia umum.

Kualitas liga tetangga, khususnya Malaysia Thailand dan Australia sudah diakui. Kendati aura liga sepak bola nasional merupakan salah satu yang kesohor lantaran fanatisme suporter yang kerap memenuhi bangku-bangku stadion, namun liga di Negeri Jiran pun tentu tak kaleng-kaleng.

Jika Liga Indonesia masih hanya mengandalkan jumlah animo penonton, liga tetangga agaknya sudah lebih baik dalam urusan penjadwalan kompetisi, finansial, serta infrastruktur dan pembinaan usia muda.

Bermain di kompetisi bagus yang tertata rapi berarti bisa mendongkrak performa pemain. Kualitas lawan yang tinggi bisa menuntut seorang pemain turut meningkatkan level kemampuan. Dengan demikian maka diharapkan muncul reaksi berantai yang bisa berdampak jika pemain-pemain disatukan dalam wadah tim nasional.

Saat ini terhitung beberapa saja pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri seperti Rudolof Yanto Basna yang merumput di Thailand, sementara ada Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman yang mencoba peruntungan di Eropa.

Selain tentu pemain-pemain blasteran macam Elkan Baggott yang sudah kadung mendapat privilege berkompetisi di luar lantaran faktor domisili.

Baca Juga :  Bupati Dadang Naser Resmikan Desa Wisata Alam Sentosa di Cimenyan

Todd Rivaldo Ferre, Ryuji Utomo, Hansamu Yama Pranata, Evan Dimas, dan Osvaldo Haay belakangan ramai diperbincangkan memiliki kans menjajal liga tetangga yang sudah kembali berlangsung.

Masalah kenyamanan bermain bisa berperan besar dalam kualitas di atas lapangan adalah faktor personal pemain yang bergantung pada banyak hal. Bisa jadi berada jauh dari keluarga dan berkomunikasi dengan bahasa asing atau budaya yang tidak sreg menjadi faktor yang mengurangi minat pesepak bola Indonesia main di luar.

Namun, tak ada salahnya juga mencoba pengalaman yang belum tentu datang lagi di masa depan. Apalagi saat ini belum jelas lagi kapan wasit meniup peluit tanda kick off dan gaji masih dibayar tak sampai separuh. @fen/cnn indonesia/har

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

BOLAMANCA: Mengintip 4 Negara Semifinalis UEFA Nations League

Jum Nov 20 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – VISI.NEWS – UEFA Nations League 2020/2021 telah memasuki babak semifinal yang diikuti empat negara, yakni Italia, Belgia, Prancis, dan Spanyol. Catatan tersebut membuat babak semifinal UEFA Nations League tahun ini diisi oleh negara-negara baru. Pada edisi pertama, empat tim yang lolos ke semifinal adalah Portugal, Belanda, Inggris, dan […]