VISI.NEWS | BANDUNG – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya muncul ke publik untuk pertama kalinya sejak gelombang serangan dari Iran menghantam sejumlah wilayah di Tel Aviv. Dalam kemunculan tersebut, Netanyahu tidak hanya memberikan penjelasan mengenai kondisi perang yang sedang berlangsung, tetapi juga melontarkan pernyataan keras yang langsung mengarah kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Melalui konferensi pers yang digelar secara virtual pada Jumat (13/3/2026), Netanyahu tampil berdiri di antara dua bendera Israel. Ia menjawab berbagai pertanyaan dari jurnalis melalui sambungan video, menandai kemunculan publik pertamanya sejak konflik terbaru antara Israel dan Iran memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menggambarkan situasi di Iran yang menurutnya telah berubah drastis setelah hampir dua minggu serangan udara dan operasi militer yang saling dilancarkan kedua pihak. Ia menyebut bahwa sejumlah kekuatan militer Iran mengalami tekanan besar akibat serangan yang terjadi.
“Iran tidak lagi sama seperti sebelumnya setelah pemboman selama hampir dua minggu terakhir,” kata Netanyahu dalam konferensi pers tersebut.
Ia menambahkan bahwa pasukan elit Iran seperti Islamic Revolutionary Guard Corps serta kelompok paramiliter Basij disebut mengalami dampak signifikan dari operasi militer yang berlangsung.
Namun pernyataan paling mencolok datang ketika Netanyahu menanggapi kemungkinan langkah Israel terhadap pimpinan Iran. Ketika ditanya apakah Israel berencana menargetkan pemimpin organisasi yang dianggap sebagai ancaman, ia memberikan jawaban yang bernada tegas sekaligus ambigu.
“Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun,” ujar Netanyahu.
“Saya tidak bermaksud memberikan laporan pasti di sini tentang apa yang kami rencanakan atau apa yang akan kami lakukan.”
Pernyataan tersebut segera memicu perhatian luas karena dianggap sebagai sinyal ancaman langsung terhadap kepemimpinan Iran, termasuk kepada Mojtaba Khamenei yang kini disebut-sebut memegang pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Teheran.
Selain menyinggung Iran, Netanyahu juga menegaskan bahwa operasi militer Israel tidak hanya berfokus pada satu front. Ia menyinggung konflik yang terus berlangsung dengan kelompok bersenjata di Lebanon, yakni Hezbollah.
Netanyahu menyatakan Israel akan terus melakukan serangan terhadap Hizbullah setelah kelompok tersebut meluncurkan serangan pada awal Maret. Serangan itu menurut pemerintah Israel menjadi salah satu pemicu meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.
Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu juga menyinggung kondisi di Israel sendiri yang masih berada dalam situasi siaga tinggi. Sirene peringatan serangan rudal dilaporkan kembali berbunyi di sebagian besar wilayah tengah Israel, menandakan ancaman serangan lanjutan dari Iran masih membayangi.
Menurut Netanyahu, tujuan utama operasi militer Israel terhadap Iran adalah untuk menghilangkan ancaman yang dianggap bersifat eksistensial bagi negaranya. Ia secara khusus menyinggung program nuklir dan pengembangan rudal balistik Teheran sebagai alasan utama Israel meningkatkan tekanan militer.
Pemerintah Israel juga tidak menutup kemungkinan adanya perubahan politik di Iran sebagai dampak dari konflik yang sedang berlangsung. Netanyahu secara terbuka menyebut bahwa tekanan terhadap rezim Iran dapat membuka peluang munculnya perlawanan dari dalam negeri.
“Saya tidak akan merinci tindakan yang sedang kami ambil. Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui bahwa masa depan politik Iran tetap berada di tangan rakyat negara tersebut. Netanyahu menegaskan bahwa perubahan rezim tidak bisa sepenuhnya dipastikan terjadi dari tekanan luar.
“Saya tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa rakyat Iran akan menggulingkan rezim tersebut—sebuah rezim digulingkan dari dalam,” kata Netanyahu.
Namun ia menambahkan bahwa Israel berupaya memberikan dukungan bagi pihak-pihak yang menentang pemerintahan Iran.
“Tapi kami pasti bisa membantu dan kami memang sedang membantu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menandai babak baru dalam ketegangan antara Israel dan Iran yang semakin terbuka. Dengan ancaman langsung terhadap pimpinan Iran dan operasi militer yang terus berlanjut di beberapa front, konflik kedua negara diperkirakan masih akan terus menjadi sorotan utama di kawasan Timur Tengah. @kanaya