Search
Close this search box.

Ancaman Tarif Trump Gegerkan Eropa, Uni Eropa Siapkan Langkah Balasan

Warga menghadiri aksi protes menentang tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Pulau Arktik tersebut diserahkan kepada Amerika Serikat, sambil menyerukan agar Greenland diberi hak untuk menentukan masa depannya sendiri, di Nuuk, Greenland, 17 Januari 2026./source:reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Uni Eropa bergerak cepat merespons ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana memberlakukan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa. Meski masih mengutamakan jalur diplomasi, Brussel secara terbuka menyatakan kesiapan untuk melakukan pembalasan jika kebijakan tersebut tetap dijalankan.

Para duta besar negara anggota Uni Eropa pada Minggu (18/1) mencapai kesepakatan untuk meningkatkan upaya meyakinkan Washington agar membatalkan rencana tarif yang dikaitkan dengan isu Greenland. Ancaman tersebut dipandang tidak hanya sebagai persoalan perdagangan, tetapi juga tekanan politik yang berpotensi merusak hubungan transatlantik.

Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyampaikan bahwa solidaritas Eropa menjadi pesan utama dalam situasi ini.

“Konsultasi saya dengan negara-negara anggota menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung Denmark dan Greenland serta kesiapan mempertahankan diri dari segala bentuk pemaksaan,” ujar Costa dalam unggahan media sosialnya.

Ancaman tarif itu disampaikan Trump pada Sabtu (17/1). Ia menyatakan tarif akan diberlakukan mulai 1 Februari terhadap Denmark, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, Inggris, dan Norwegia hingga Amerika Serikat diberi kesempatan membeli Greenland, wilayah otonom milik Denmark di kawasan Arktik. Sejumlah pemimpin Eropa mengecam langkah tersebut sebagai bentuk pemerasan.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan bahwa Eropa tidak akan tunduk pada tekanan semacam itu.

“Eropa tidak akan diperas,” tegas Frederiksen dalam pernyataan tertulis.

Meski demikian, Uni Eropa masih membuka ruang dialog. Para pemimpin Eropa dijadwalkan membahas opsi respons dalam pertemuan darurat di Brussel pekan ini. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah pemberlakuan tarif balasan terhadap impor Amerika Serikat senilai 93 miliar euro jika ancaman tersebut benar-benar dijalankan.

Selain tarif, Uni Eropa juga menimbang penggunaan Anti-Coercion Instrument atau ACI, instrumen hukum yang memungkinkan pembatasan akses perusahaan Amerika Serikat terhadap tender publik, investasi, hingga layanan keuangan dan digital. Namun, dukungan terhadap langkah ini belum bulat. Seorang sumber Uni Eropa menyebutkan,

Baca Juga :  Kadisperdagin Sampaikan Paparan Bupati Bandung di Musrenbang Solokanjeruk

“Dukungan terhadap paket tarif lebih luas dibandingkan langkah anti-koersi, di mana sikap negara anggota masih sangat beragam.”

Denmark sendiri menegaskan tetap memprioritaskan diplomasi. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan negaranya akan terus mendorong dialog melalui kelompok kerja bersama Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat.

“Amerika Serikat lebih dari sekadar presidennya. Di sana ada mekanisme checks and balances dalam masyarakatnya,” ujar Rasmussen saat berkunjung ke Oslo.

Upaya dialog tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana Trump dijadwalkan menyampaikan pidato utama untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Seorang diplomat Uni Eropa menggambarkan pendekatan Brussel secara singkat.

“Semua opsi ada di meja. Dialog di Davos dengan Amerika Serikat, lalu para pemimpin Eropa akan berkumpul setelahnya,” katanya.

Ancaman tarif ini juga berdampak pada pasar global. Nilai tukar euro dan pound sterling melemah terhadap dolar Amerika Serikat, sementara pelaku pasar memperkirakan kembalinya volatilitas dalam waktu dekat.

Di sisi lain, tekanan tarif Trump menimbulkan tanda tanya atas keberlanjutan kesepakatan dagang Amerika Serikat dengan Inggris dan Uni Eropa yang baru ditandatangani tahun lalu. Parlemen Eropa bahkan berencana menunda pembahasan penghapusan tarif impor dari Amerika Serikat.

Ketua Fraksi Partai Rakyat Eropa di Parlemen Eropa, Manfred Weber, menegaskan bahwa situasi saat ini tidak memungkinkan untuk melanjutkan persetujuan.

“Persetujuan saat ini tidak memungkinkan,” ujarnya.

Sementara itu, politisi Jerman Juergen Hardt melontarkan wacana langkah ekstrem sebagai tekanan politik.

“Boikot Piala Dunia yang digelar Amerika Serikat bisa menjadi upaya terakhir untuk menyadarkan Presiden Trump soal Greenland,” katanya kepada surat kabar Bild. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :