Angka Perceraian Meningkat, Per Hari PA Garut Minimal Sidangkan 100 Perkara

Editor :
Wakil Ketua PA Garut, Asep Alinurdin./visi.news/zaahwan aries.

Silahkan bagikan

– “Saat proses mediasi, lebih dari 80 persen penggugat maupun tergugat tidak hadir. Ini juga menjadi kendala upaya merujukkan kembali mereka.”

VISI.NEWS – Setiap tahunnya, jumlah angka perceraian yang terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus mengalami penambahan. Tingkat angka perceraian di Garut sendiri terbilang tinggi yaitu setiap harinya terdapat minimal 100 perkara yang disidangkan di Pengadilan Agama (PA) Garut.

Menurut Wakil Ketua PA Garut, Asep Alinurdin, jumlah kasus perceraian di Kabupaten Garut terbilang tinggi. Pada tahun ini,
hingga bulan Juni saja sudah tercatat 2.000 lebih angka perceraian.

Tingginya angka perceraian di Garut menurut Asep terutama terjadi dalam kurun 2 tahun terakhir. Per tahunnya, jumlahnya bisa mencapai 5.000 sampai 6.000 perkara.

“Per harinya, angka persidangan di PA Garut minimal mencapai 100 perkara. Tak heran kalau setiap majelis hakim bisa menyidangkan kasus perceraian antara 30 sampai 50 perkara,” ujar Asep, Senin (6/7).

Tingginya angka persidangan, diakui Asep membuat pihaknya cukup kewalahan. Apalagi selama ini pihaknya mengalamn kekurangan panitera pengganti dan petugas juru sita. Majelis hakim juga hanya ada 10 orang, padahal idealnya harus ada 20 dengan perkara yang tinggi seperti yang terjadi selama ini.

Hal itulah kata Asep yang menyebabkan seringnya terjadi keterlambatan penanganan kasus perceraian selama ini. Apalagi yang ditangani di PA bukan hanya kasus perceraian, tapi juga perkara lainnya di antaranya isbat nikah (menikah secara sah menurut agama untuk mendapatkan pengakuan dari negara) dan dispensasi nikah (perkawinan di bawah umur) meskipun angkanya tak begitu tinggi.

Dikatakan Asep, kasus perceraian di Garut mayoritas terjadi akibat faktor ekonomi. Seringnya muncul perselisihan paham menyebabkan terjadinya pertengkaran antara pasangan suami istri.

Parahnya lagi, tutur Asep, pertengkaran yang terjadi bukan hanya sebatas percekcokan mulut, tetapi juga sampai terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hal ini kian menambah besarnya peluang mereka untuk memilih bercerai.

Asep menjelaskan, kepada setiap pasangan yang mengajukan bercerai, pihaknya selalu mengupayakan untuk mempertimbangkannya kembali melalui proses mediasi. Namun tingkat keberhasilan dari upaya mediasi ini dinilainya sangat kecil bahkan masih di bawah 1 persen.

“Sangat kecil kemungkinan untuk bisa rujuk kembali bagi pasangan yang mengajukan gugatan cerai. Kalaupun ada yang kembali rujuk setelah dilakukan proses mediasi, hal itu sangat jarang terjadi,” katanya.

Saat proses mediasi dilakukan, tambah Asep, lebih dari 80 persen baik dari pihak penggugat maupun tergugat tidak hadir. Ini juga yang menjadi kendala upaya untuk merujukkan kembali mereka.

Diungkapkannya, rata-rata usia yang mengajukan perceraian berkisar dari 25 sampai 40 tahun. Hanya ada 2 sampai 5 persen usia 50 hingga 60 tahun yang mengajukan gugatan cerai.

Ketika ditanya apakah pandemi Covid-19 yang telah menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian berpengaruh terhadap tingginya angka perceraian, menurut Asep hal itu kurang begitu berpengaruh. Kalaupun ada pengaruhnya, tapi tak begitu signifikan karena paling hanya menyumbang sampai 2 persenan. @zhr

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Prakiraan Cuaca Kota Bandung dan Sekitarnya, Selasa (7 Juli)

Sel Jul 7 , 2020
Silahkan bagikanVISI>NEWS  – Prakiraan cuaca hari Selasa, 7 Juli 2020 yang disampaikan BMKG melalui bmkg.go.id untuk wilayah Kota Bandung dan sekitarnya. Bandung Pagi hari: Secara umum cerah berawan Siang hari: Secara umum cerah berawan Malam hari: Secara umum cerah berawan Dini hari: Secara umum cerah berawan Suhu udara : 19 […]