Anton Charliyan Menyesalkan Penyerangan Terhadap Ade Armando dan 6 Anggota Polri

Editor Mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan. /visit.news/ist
Silahkan bagikan
  • Pemerintah dihimbau untuk mengusut tuntas dalang aksi dan memberikan sanksi sekeras-kerasnya kepada para penyerang Ade Armando dan petugas Polri saat Unras di Senayan.

VISI.NEWS | JAKARTA – Kapolda Metro Jaya Irjen Fadhil Imran dalam keterangannya di Mapolda menyatakan telah terjadi insiden penaniayaan terhadap tokoh aktivis penggiat anti radikalisme & intoleran, Ade Armado, serta enam petugas kepolisian di depan Gedung DPR RI Senayan Jakarta Selatan, Senin 11 Mei 2022 saat terjadinya unjuk rasa (Unras) BEM SI. Akibat penyerangan itu para korban mengalami luka berat sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Menanggapi hal tersebut Mantan Kadiv Humas Polri Anton Charliyan, Selasa (12/4/2022), menyatakan rasa keprihatinan yang sangat dalam, dan sangat menyesalkan atas terjadinya insiden tersebut.

“Kejadian tersebut membuktikan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa sudah tidak lagi murni gerakan aksi para mahasiswa, tetapi dengan kasat mata sudah ditunggangi oleh para penumpang gelap yanh memang sudah ngebet ingin segera berkuasa dengan cara Inkontitusional, dengan menghalalkan segala cara. Salah satunya mencoba memancing di air keruh dengan membuat kerusuhan pada saat aksi demo tersebut,” ujarnya.

Menurut Anton, pola ini merupakan pola klasik yang dikenal dengan “martir” yakni para pengunjuk rasa mencoba membuat kerusuhan, dengan menyerang petugas yang diharapkan oleh mereka, para petugas tersebut terpancing emosinya dan balik menyerang mereka, sehingga mereka terluka bahkan akan sangat bagus bila sampai meninggal dunia, sehingga akan menempatkan diri mereka sebagai korban atau playing victim dalam aksi tersebut. “Maka dengan demikian ada alasan untuk membuat kerusuhan yang lebih besar sampai terjadinya chaos , sebuah teknik kotor & licik untuk bisa menjatuhkan pemerintah,” ungkap Anton.

Baca Juga :  SKETSA | Pluralisme dan Toleransi

Namun, tukasnya, rencana tersebut sudah terbaca dari jauh-jauh sebelumnya oleh para inteljen, sehingga mereka gagal melakukan misinya lebih jauh. Sebuah taktik kuno yang memang sangat efektif dan masih sering dilakukan oleh para perusuh untuk menciptakan situasi chaos di berbagai negara. “Jadi apabila ada yang meninggal dalam sebuah aksi demo, hal tersebut memang sengaja diseting untuk mencari mati, bahkan bila perlu diekekusi oleh kelompoknya sendiri yang menyamar sebagai petugas yang tidak dikenal, sehingga dengan demikian akan sangat mudah untuk menyerang, menyalahkan, menyudutkan dan menjatuhkan pemerintah,” tandasnya.

Hal ini, kata Anton, perlu disampaikan kepada publikĀ  meski masyarakat sendiri sudah banyak yang faham akan hal ini, hanya sekedar untuk mengingatkan kembali dan mewaspadai cara-cara busuk & licik mereka. “Jangan sampai salah satu kerabat atau keluarga kita ikut-ikutan, malah nantinya jadi korban “martir” ketika ikut aksi demo,” ungkapnya.

Namun sayangnya, kata Anton, giliran para petugas yang jadi korban, bahkan banyak yang sampai meninggal dunia, nyaris tidak ada yang mau peduli dan menyuarakan penderitaan mereka, “Padahal para petugas juga sama sebagai seorang manusia, yang punya anak istri dan keluarga, yang saat itu hanya menjalankan tugas saja, yang sama-sama duduk sebagai korban kekerasan,” katanya.

Bahkan, kata Anton, Komnas HAM pun nyaris tak menyuarakan kekerasan kepada petugas sebagai korban HAM, sekalipun petugas sampai meninggal dunia. “Jika demikian, untuk siapakah HAM tersebut sesungguhnya? Apakah jika para petugas sebagai korban tidak dianggap lagi sebagai manusia.dan dihapus HAM-nya karena berstatus sebagai petugas negara?,” ungkap Anton.

Maka ia berharap, insiden di Senayan itu bisa dijadikan momen yang tepat untuk membuat regulasi tindakan keras dan tegas terhadap siapapun yang menyerang petugas negara , baik TNI, Polri, Satpol PP dll sebahai perlindungan dan HAM bagi petugas negara di lapangan,

Baca Juga :  Memperebutkan Kursi PTN, 26.408 Orang Ikuti UTBK di 14 Lokasi Kampus UNS Solo

“Berlakukan hukum yang sekeras-kerasnya seperti yang sudah dilakukan di Eropa dan Amerika. Jika perlu hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati bila mengakibatkan para petugas sebagai abdi negara gugur ulah mereka. Kalau hukuman keras ini diterapkan masyarakatpun akan berpikir seribu kali untuk menyerang para abdi negara yang sedang bertugas. Jangan sampai menunggu para abdi negara jadi korban berikutnya lagi apalagi menunggu sampai ada yanh gugur,” pungkasnya.@alfa

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Khofifah Berharap Perusahaan Mengikuti Jejak Tradisi PT Ecco Indonesia dalam Pemberian THR

Sel Apr 12 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SURABAYA – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa berharap perusahaan di Sidoarjo dapat mengikuti jejak PT Ecco Indonesia dalam pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawannya. Hal tersebut disampaikan Khofifah di sela berkunjung ke PT Ecco Indonesia, Senin (11/4/2022) siang. Dalam kunjungannya, Khofifah ingin mengetahui informasi […]