Apa yang Dimaksud Wasathiyah? (4)

Editor Ilustrasi./mui.or.id/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Wasathiyah dalam bidang akidah, seperti posisi Islam yang berada di antara atheisme (tidak percaya Tuhan) dan politisme (kelompok yang percaya adanya banyak Tuhan). Wasathiyah dalam bidang akhlak, seperti posisi di antara khauf (pesimisme) yang berlebihan dan raja’ (optimisme) yang berlebihan.

Optimisme yang berlebihan dapat mengakibatkan orang gampang berbuat dosa sehingga menganggap dirinya pasti mendapatkan surga. Di antara ayat yang menjadi landasan adalah QS: al-Baqarah: 173:

Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sedangkan pesimisme yang berlebihan dapat mengakibatkan orang gampang putus asa. Di antara landasan ayat yang sering digunakan adalah QS: al-A’raf: 99:

Artinya: “Apakah mereka tidak percaya ancaman Allah. Maka tidak ada yang dapat merasa aman dari ancaman Allah, kecuali orang-orang yang merugi.”

Di antara contoh orang yang pesimis adalah pembunuh Sayyidina Hamzah dengan memutilasinya. Pada saat masuk Islam, ia merasa pesimis akan kemungkinan mendapatkan ampunan Tuhan dari perbuatan yang sudah dilakukannya tersebut. Kemudian turun QS: al-Zumar: 53.

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), wahai hambaku, orang-orang yang sudah berlebihan atas diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni seluruh dosa-dosa. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Penyayang.”

Wasathiyah dalam bidang syariat (khususnya ekonomi) diindikasikan dalam QS: al-Furqan: 67, yakni tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu pelit.

Artinya: “dan orang-orang ketika menafkahkan, mereka tidak berlebihan dan tidak pelit dan di antara keduanya adalah ketegakan.”

Wasathiyah dalam bidang manhaj berarti menggunakan nas Alquran dan hadis yang memiliki hubungan dengan tujuan-tujuan syariat (maqashid al-syari’ah). Nas-nas dan tujuan-tujuan syariatnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme, yakni nas-nas yang dapat dijelaskan melalui tujuan-tujuan syariat, sedangkan tujuan-tujuan syariat lahir dari nas-nas Islam.

Baca Juga :  Ultah ke 18, KBPP Polri Gelar Penanaman Pohon

Tjuan-tujuan syariat merupakan hasil penelitian ulama zaman dahulu, sedangkan yang menjadi objeknya adalah aturan-aturan yang termaktub dalam nas-nas Alquran dan hadis, berikut hikmah-hikmah dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Tujuan utama syariat adalah kemaslahatan dunia dan akhirat dengan mengindahkan kaidah “menarik kemaslahatan dan menolak kerusakan.”

Maksudnya adalah apabila seseorang hendak menafsirkan nas-nas, maka harus memerhatikan tujuan-tujuan syariatnya. Tentu aturan yang lahir akan berbentuk tekstual dan kontekstual. Secara kaidah, apabila dihadapkan pada mashlahah dan mafsadah, maka yang didahulukan adalah yang mashlahah.

Tapi apabila dihadapkan pada mashlahah ghairu mahdlah (kemaslahatan tidak murni) dan mafsadah ghairu mahdlah (kerusakan tidak murni), maka pilihannya adalah yang terdapat mashlahah yang lebih besar. Tujuan-tujuan syariat melahirkan dalil-dalil primer dan sekunder. (bersambung) @fen/mui.or.id

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Dua Skenario Disdik Kota Bandung Hadapi Tahun Ajaran Baru

Sel Jul 14 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Dinas Pendidikan Kota Bandung telah mempersiapkan dua skenario jika suatu saat Kota Bandung berstatus zona hijau, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kembali memberlakukan pembelajaran tatap muka. Kendati begitu, Kepala Sesi Kurikulum SMP Disdik Kota Bandung, Bambang Ariyanto mengatakan, tidak menutup kemungkinan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tetap berlaku. “Disdik sudah menyiapkan dua skenario ketika sekolah belum diperbolehkan tatap muka dan ketika […]
Copyright @2020 VISI.NEWS All Right Reserved