VISI.NEWS | BANDUNG – Ketegangan di jalur energi paling vital dunia kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat mengklaim telah menghancurkan 16 kapal penyebar ranjau milik Iran di sekitar Selat Hormuz. Aksi tersebut disebut sebagai langkah pencegahan setelah adanya laporan intelijen yang menyebut Teheran mulai menempatkan ranjau laut di jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.
Serangan terhadap kapal-kapal tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa (10/3/2026) waktu setempat. Komando Pusat militer AS atau United States Central Command menyatakan operasi tersebut menargetkan kapal-kapal yang diduga digunakan untuk menebar ranjau di perairan sekitar selat tersebut.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial X, pihak militer AS menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
“Pasukan AS melenyapkan beberapa kapal angkatan laut Iran, 10 Maret, termasuk 16 kapal penyebar ranjau di dekat Selat Hormuz,” tulis Komando Pusat AS dalam pernyataan resminya.
Unggahan tersebut juga disertai rekaman video yang memperlihatkan sejumlah kapal terkena proyektil sebelum akhirnya meledak di perairan terbuka. Rekaman itu dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu perhatian global terhadap situasi keamanan di kawasan Teluk.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling penting di dunia karena menjadi pintu keluar utama bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Diperkirakan hampir seperlima pasokan minyak dunia melewati selat sempit tersebut setiap harinya. Ketegangan militer di wilayah itu pun berpotensi memicu gangguan besar terhadap pasar energi global.
Sebelum operasi militer tersebut dilakukan, Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait dugaan pemasangan ranjau di jalur pelayaran tersebut. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan mentoleransi ancaman terhadap lalu lintas perdagangan internasional di Selat Hormuz.
Melalui akun media sosial Truth miliknya, Trump menyampaikan bahwa konsekuensi militer yang sangat serius akan dijatuhkan jika Iran benar-benar memasang ranjau di perairan strategis tersebut.
“Jika karena alasan apa pun ranjau ditempatkan, dan tidak segera disingkirkan, konsekuensi militer bagi Iran akan berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Trump dalam unggahannya.
Meski demikian, ia juga membuka kemungkinan meredanya ketegangan apabila Iran segera menarik perangkat peledak yang diduga telah ditempatkan di kawasan itu. Trump menyebut langkah tersebut sebagai peluang bagi kedua pihak untuk menurunkan eskalasi konflik.
“Jika, di sisi lain, mereka menyingkirkan apa yang mungkin telah ditempatkan, itu akan menjadi langkah besar ke arah yang benar,” lanjutnya.
Trump juga menyatakan bahwa militer AS siap menggunakan sistem persenjataan yang sebelumnya dipakai untuk menghancurkan kapal-kapal yang terlibat dalam perdagangan narkoba di perairan Amerika Latin. Senjata tersebut, menurutnya, dapat digunakan untuk “menghilangkan secara permanen” kapal-kapal yang diduga menyebarkan ranjau di kawasan Teluk.
“Mereka akan ditangani dengan cepat dan keras. Waspada!” tulis Trump dalam pernyataan lain yang diunggah secara daring.
Laporan mengenai dugaan aktivitas Iran di Selat Hormuz sebelumnya juga disorot oleh jaringan berita CNN. Mengutip sumber anonim yang mengetahui laporan intelijen AS, media tersebut menyebut bahwa Iran telah mulai menempatkan ranjau laut di kawasan tersebut. Informasi itu menimbulkan kekhawatiran karena lalu lintas kapal di jalur tersebut disebut hampir terhenti akibat meningkatnya risiko keamanan.
Jika benar ranjau laut telah ditempatkan, dampaknya dapat meluas tidak hanya pada sektor energi tetapi juga perdagangan internasional. Banyak negara bergantung pada stabilitas Selat Hormuz untuk menjaga pasokan minyak dan gas tetap mengalir ke pasar global.
Hingga kini pihak Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim penghancuran kapal tersebut. Namun perkembangan terbaru ini menambah daftar panjang ketegangan antara Washington dan Teheran di kawasan Timur Tengah.
Situasi di Selat Hormuz pun kini menjadi perhatian dunia, mengingat setiap eskalasi konflik di wilayah itu berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global. Para analis menilai bahwa langkah militer yang diambil kedua negara dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa rapuhnya keamanan di jalur pelayaran yang menjadi nadi perdagangan energi dunia tersebut. @kanaya