VISI.NEWS | BANDUNG – Setelah Idulfitri, masyarakat Indonesia umumnya melanjutkan suasana Lebaran dengan menggelar halal bihalal, sebuah tradisi khas Nusantara yang menjadi wadah untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar berharap tradisi ini bisa menjadi bentuk rasa syukur atas kerukunan dan kedamaian yang dinikmati bangsa Indonesia, meski memiliki keberagaman budaya, bahasa, dan agama.
Dalam acara halal bihalal di Pondok Pesantren As’adiyah, Sulawesi Selatan, Menag menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan sebagai bagian dari konsep trilogi kerukunan. Ia juga menyoroti peran manusia sebagai makhluk yang tunduk pada hukum alam (takwini) sekaligus hukum syariat (tasyri’i).
Sementara itu, Damanhuri, Direktur Madrasah Moderasi LPTNU Sumenep, menjelaskan bahwa halal bihalal merupakan upaya untuk meluruskan kesalahpahaman, mencairkan ketegangan, dan mempererat silaturahmi. Tradisi ini hanya ditemukan di Indonesia dan memiliki makna mendalam tentang halal dan haram, di mana memberi maaf diibaratkan sebagai upaya ‘menghalalkan’ kesalahan masa lalu.
“Jadi, halal bihalal dikonotasikan pada kegiatan silaturrahim atau saling memaafkan,” ujar Damanhuri dikutip dari laman NU Online, Selasa (8/4/2025).
Secara sejarah, halal bihalal sudah ada sejak abad ke-15 pada masa Walisongo, yang memanfaatkan ritual Dharma Sunya dari masyarakat Kapitayan untuk saling memaafkan setiap tahun.
Fase berikutnya muncul pada masa Mangkunegara I di abad ke-18 yang mempopulerkan sungkeman pasca-Idulfitri, lalu dilanjutkan pada awal abad ke-20, termasuk tercatat dalam majalah Muhammadiyah tahun 1924 dan kisah penjual martabak India di Solo yang menyebut ‘halal bihalal.’
Namun yang paling terkenal adalah gagasan KH Abdul Wahab Chasbullah pada tahun 1948, yang mengusulkan halal bihalal sebagai solusi konflik politik atas permintaan Presiden Soekarno. Sejak saat itu, istilah ini digunakan secara luas sebagai bentuk silaturahmi nasional.
Kini, halal bihalal tak hanya soal saling memaafkan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan seperti temu kangen, reuni, hingga ajang cari jodoh, lengkap dengan makan bersama dan suasana hangat. Di balik itu, intinya adalah rekonsiliasi dan membangun kebersamaan untuk kebaikan bangsa dan negara. @ffr