VISI.NEWS | SAMARINDA – Sebuah gerakan kolektif Aura Mahakam diluncurkan mengajak publik di seluruh Indonesia dan dunia untuk melindungi lanskap Mahakam yang kian terancam oleh industri ekstraktif. Diluncurkan pasca Hari Agraria dan Tata Ruang (HANTARU) 2025 oleh Koalisi Lanskap Mahakam yang ingin merebut kembali narasi ruang hidup Masyarakat Adat di Lanskap Mahakam yang hilang karena hutan dan sungai yang menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian mereka kini beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, tambang dan perusahaan penebangan kayu.
Dengan simbol “Aura” sebagai energi kehidupan yang terpancar dari alam dan Masyarakat Adat, kampanye ini mengajak publik, khususnya generasi muda, untuk terhubung kembali dengan hutan, sungai, serta kearifan lokal, dan bersama-sama menjaga keberlanjutan Mahakam. “Lanskap Mahakam layak untuk menjadi perhatian kita semua seperti kawasan ekosistem penting lainnya di Indonesia seperti Leuser, Raja Ampat, ataupun Pulau Komodo karena lanskap ini adalah ruas tulang punggung keanekaragaman hayati terakhir di Kalimantan. Dengan mendekatkan isu tersebut ke benak kaum muda di Indonesia kami berharap menumbuhkan semangat untuk melakukan aksi bersama untuk melindungi Lanskap Mahakam dari kerusakan,” ungkap Ahmad Saini (Bolang) sebagai salah satu anggota koalisi Lanskap Mahakam, dalam siaran pers kepada VISI.NEWS, Sabtu (27/9/2025).
Bolang menambahkan, “Kaum muda memainkan peran strategis sebagai generasi perubahan. Dengan konektivitas, kreativitas, dan kepedulian sosial yang tinggi, mereka dapat menjadi motor penggerak perlindungan lingkungan. Meningkatkan kepedulian terhadap Landskap Mahakam tidak hanya tentang menyelamatkan alamnya, tetapi juga memperjuangkan keadilan ekologis, keberlanjutan, dan masa depan yang lebih baik,”
Lanskap Mahakam membentang seluas 77.000 km² dan dibagi menjadi wilayah hulu dan hilir. Bagian hilir Sungai Mahakam terdampak oleh industri ekstraktif, sementara bagian hulu merupakan salah satu benteng terakhir hutan hujan yang masih utuh dan menjadi ruas tulang punggung keanekaragaman hayati terakhir di Kalimantan, menghubungkan dua Provinsi Kalimantan Barat dengan Kalimantan Utara. Lanskap ini menjadi satu kawasan ekosistem terpenting di Kalimantan Timur, yang meliputi hutan tropis, sungai, rawa, dan danau, serta merupakan rumah bagi spesies yang terancam punah seperti pesut dan bekantan. Namun, kawasan ini menghadapi tekanan besar dari deforestasi, pertambangan, dan perubahan tata guna lahan yang berdampak langsung pada krisis ekologi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan masyarakat lokal.
Adjie Valeria, pegiat isu perempuan & lingkungan yang melakukan pengamatan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam menekankan pentingnya melihat sungai Mahakam dalam satu bentang alam yang terhubung mulai dari hulu ke hilir, memahami tiap fenomena perubahan tutupan lahan yang terjadi di seluruh Kabupaten pendukung yang terhubung dengan DAS Mahakam terhadap bencana banjir yang sering terjadi. “Sehingga bila terjadi banjir di Kabupaten Mahakam Ulu, maka warga yang tinggal di Kutai Barat, Kutai Kartanegara hingga Samarinda mesti berjaga-jaga. Mengingat kompleksitas pemicu banjir hingga penanganannya, maka sinergitas riset mendalam dari pemerintah pusat dan daerah mesti dilaksanakan secara terhubung”.
Kampanye Aura Mahakam ini juga mengajak pelaku dan komunitas seni berpartisipasi dan berkolaborasi dalam kompetisi desain nasional untuk menggambarkan karakter energi kehidupan “7 Aura Mahakam” yang menjadi simbol kehidupan, kekuatan, dan harapan dari Mahakam. Pemenang desain “7 Aura Mahakam” ini nantinya akan dipamerkan pada festival seni di Samarinda yang akan dilaksanakan pada bulan November 2025.
@uli