Awas, Kini di Penjuru “Kota Santri” Banyak TO

Ceu Dadah, salah seorang pedagang nasi TO saat melayani pembeli di warungnya, Minggu (28/6)./visi.news/dok.
Jangan Lupa Bagikan

VISI.NWES – Mendengar kata TO ingatan kita sudah pasti mengarah ke sebuah opini operasi besar yang kerap dilakukan oleh salah satu kesatuan keamanan yang ditugasi untuk menjaga keamanan wilayah dari para pengusik, pengacau, atau penjahat.

Namun TO yang dimaksud di sini bukanlah sebuah Target Operasi besar seperti yang kerap kita baca dalam berita tentang kinerja polisi memburu penjahat. Asal tahu saja TO di sini adalah menu kuliner favorit dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Benar, TO yang dimaksud adalah “katuangan” khas orang Sunda yaitu tutug oncom.

Kenapa disebut TO..?

Barangkali agar tutug oncom menyebutnya simpel dan gampang diingat, maka terciptalah kata TO. Menu yang satu ini adalah kudapan yang berasal dari perpaduan beberapa bahan rempah yang diolah menjadi olahan makanan khas, khususnya di Kota Tasikmalaya.

Sejatinya TO bukanlah salah satu menu favorit saat ini karena memang sudah sejak zaman “baheula” dikenal orang pribumi. Hanya yang membedakannya adalah nasi tutug oncom sudah jarang dikonsumsi dan langka yang membuatnya. Kalaupun ada, itu hanya pelengkap.

Pengolahan Nasi TO

Bagi masyarakat bumi pertiwi ini bahan rempah rempah seperti bawang merah, bawang putih, bawang daun, kencur, dan garam hingga pecin bukanlah sesuatu yang baru, termasuk oncom mentah.

Olahan oncom mentah sebelum menjadi tutug oncom, harus melalui proses pemasakan terlebih dahulu yang cukup sederhana. Yakni oncom sebelumnya ditumbuk, diaduk atau diulek secara terpisah dengan bahan bumbu lainnya.

Begitu pun kencur (cikur-Sunda) tak jauh berbeda dengan oncom “direndos” alakadarnya terlebih dahulu. Baru setelah keduanya diulek kemudian campurkan serta aduk sampai rata.

Setelah semuanya dianggap selesai belumlah siap untuk disajikan. Karena masih harus dimasak dengan cara dioseng (disangray, Sunda) beberapa detik.

Di sela sela sela proses pemasakan tersebut, terlebih dahulu bumbu rempah bawang merah, bawang putih dan bawang daun yang sudah diiris, dioseng untuk beberapa detik. Kemudian masukkan olahan oncom yang sudah bercampur kencur.

“Selama dalam proses ‘disangray’, harus menaburkan garam dan pecin secukupnya agar terasa lezat dan gurih,” tutur Ceu Dadah (53) salah seorang pedagang nasi TO di Kampung Babakan, Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya.

Menurut Ceu Dadah, selama memasak osengan oncom haruslah “dibulak balik” hingga merata. Setelah oncom mulai berubah warna menjadi kekuning-kuningan, itu sebagai tanda sudah matang. Angkat dan tiriskan untuk beberapa saat. Hingga dipastikan sudah dingin.

Sementara penyajiannya pun cukup sederhana. Nasi putih yang baru masak sambil “diakeul”, taburi oncom yang sudah masak dan dingin hingga terciptalah nasi tutug oncom.

“Bisa juga dihidangkan dengan cara terpisah. Itu pun tergantung selera. Kalau seleranya ingin ‘dicocol’ seperti sambel, ya dipisah jangan disatukan,” tambah Ceu Dadah lagi.

Menu lauk pauk

Dalam penyajian nasi TO akan terasa lebih afdol dan nikmat jika disajikan dengan pelengkap lauk pauknya. Seperti ‘sambel goang’ (sambal yang hanya garam, cabai rawit, tanpa terasi/oncom, red.) leunca, goreng tempe, goreng tahu, bala bala, gehu dan salah satu jenis ikan asin (bisa ikan asin cucut, bisa ikan asin pari, dan sebagainya) .

Disebutkan oleh Ceu Dadah, pelengkap nasi TO berupa sambel goang, bala bala, dan gehu serta sayuran tersebut bukanlah syarat utama. Akan tetapi penyajian itu tergantung selera pula.

“Ada yang hanya pake bala-bala, gehu, dan sambel. Ada juga yang komplet seperti tadi,” ucapnya.

Satu porsi nasi TO kata Ceu Dadah dijual dengan harga bervariasi dan cukup terjangkau oleh masyarakat biasa juga bisa tergantung menu yang dipesan.

“Kalau nasi TO doang harganya Rp 4.000. Nah kalau mau pake sambel, gehu, dan bala bala harganya bisa Rp 6.000. Berbeda dengan porsi komplet yang isinya sambel, gehu, bala bala, ikan asin, leunca, dan mentimun. Itu harganya Rp 7500,” tandasnya.

Kini nasi TO seakan sudah menjadi ikon Kota Tasikmalaya. Karena hampir di setiap penjuru kota, pedagang nasi yang satu ini kerap dijumpai, siang atau malam hari.

Nah… jika Anda penasaran untuk mencicipi kudapan yang satu ini, datanglah ke Kota Santri. Jangan lupa bawa isi dompet yang penuh karena selain kuliner nasi TO, masih banyak souvenir lainnya yang tersedia di kota ini. @budi s ombik

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Andra Kembali Tersenyum, Yena Mempertemukan dengan Idolanya

Ming Jun 28 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS — Andra Taufik Sopian (13), pengidap kelumpuh otot sejak kelas 5 SD, kini bisa kembali tersenyum dan bermain ke luar rumah meski menggunakan kursi roda. Kursi itu pemberian Bakal Calon Bupati (Bacabup), Bandung, Hj. Yena Iskandar Masoem, dari Partai PDI Perjuangan. Anak pertama pasangan Yayan Sopian dan […]