Search
Close this search box.

Badai Byron Ubah Tempat Pengungsian Jadi Jebakan Maut di Gaza, 14 Warga Tewas

Tenda-tenda pengungsian roboh diterjang hujan dan angin kencang Badai Byron di Jalur Gaza, Jumat (12/12/2025), menewaskan warga sipil dan memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut./visi.news/ist.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Badai Byron memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Angin kencang dan hujan tanpa henti merobohkan bangunan serta merusak tenda-tenda pengungsian, menewaskan sedikitnya 14 warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya. Korban mayoritas adalah warga sipil yang sebelumnya telah mengungsi akibat serangan militer Israel.

Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza menyebutkan, lima orang meninggal dunia semalam hingga Jumat (12/12/2025) setelah sebuah rumah yang menampung pengungsi runtuh di Bir an-Naaja, Gaza utara. Menjelang fajar, dua korban jiwa kembali berjatuhan ketika tembok roboh menimpa tenda-tenda di kawasan Remal, Kota Gaza.

Sehari sebelumnya, satu warga dilaporkan tewas akibat bangunan runtuh di Kamp Pengungsi Shati. Di lokasi lain, seorang bayi baru lahir di al-Mawasi meninggal dunia akibat suhu yang sangat dingin. Tenaga medis setempat melaporkan lonjakan kematian terkait paparan cuaca ekstrem, terutama di kalangan anak-anak.

Sumber Rumah Sakit al-Shifa mengonfirmasi kematian Hadeel al-Masri (9) di lokasi pengungsian di barat Kota Gaza, serta bayi Taim al-Khawaja di Kamp Shati. Di Khan Younis, bayi delapan bulan bernama Rahaf Abu Jazar meninggal setelah hujan membanjiri tenda keluarganya. Keluarga tersebut sebelumnya berlindung di rumah tanpa atap yang rusak akibat serangan udara.

“Kemarin, kami terkejut mendengar ibunya berteriak, mengatakan, ‘Anakku membiru!’ jadi kami menggendong anak itu dan pergi ke Rumah Sakit al-Rantisi,” ujar kakek Rahaf. “Suhu tubuhnya tetap antara 33 dan 34 derajat Celsius, yang telah memengaruhi semua organnya. Otaknya mulai memburuk, dan itulah akhirnya.”

Dari Gaza selatan, jurnalis Al Jazeera, Ibrahim al-Khalili, melaporkan bahwa Badai Byron mengubah tempat perlindungan darurat menjadi ancaman mematikan. “Para pejabat memperingatkan mungkin akan terjadi banjir, hujan lebat, dan hujan es, yang berlanjut hingga hari ini. Diperkirakan akan mengancam sekitar 850.000 orang, termasuk banyak anak-anak, yang berlindung di 761 lokasi,” katanya.

Baca Juga :  32 Tahun Tanpa Kilang Baru, Prabowo Resmikan RDMP Balikpapan sebagai Simbol Kebangkitan Kedaulatan Energi

Ia menambahkan, kerusakan parah terjadi di sepanjang garis pantai, membuat tenda-tenda yang berdiri dekat laut semakin berisiko. “Di sini, tenda-tenda telah hancur akibat hujan lebat dan angin kencang, membuat keluarga-keluarga menghadapi tempat perlindungan darurat yang hancur,” ujar al-Khalili. Menurutnya, warga yang telah berpindah-pindah selama lebih dari dua tahun kini menghadapi “lapisan penderitaan tambahan” akibat cuaca ekstrem. “Ini bukan sekadar badai; ini adalah gelombang pengungsian baru bahkan setelah perang berakhir,” tuturnya. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :