Batik di Jabar Tak Lepas dari Sejarah Pengungsi Perang Diponegoro

Editor H. Kusnadi berpakaian batik. /visi.news/ist
Silahkan bagikan

VISI.NEWS |BANDUNG – Batik di Jawa Barat (Jabar) tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan para pengungsi Perang Diponegoro selama tahun 1825 hingga 1830 an. Mereka yang berbondong – bondong datang dari Jawa Tengah itulah yang kemudian menghasilkan batik Tatar Sunda.

Kepada VISI.NEWS, Rabu (26/10/21), Anggota Fraksi Golkar DPRD Jabar, Haji Kusnadi mengatakan, dalam buku batik tatar Sunda yang ditulis Saftiyaningsih Ken Atik, Herman Jusuf, dan Didit Pradito, dikatakan, sebagian pengungsi itu adalah pembatik dari Banyumas dan banyak memberikan pengaruh terutama pada warna latar batik Ciamis, Indramayu, dan Tasikmalaya.

“Warna latar itu disebut kuning gading, kuning dukuh, dan kuning gumading, batik tatar Sunda tidak hanya menyerap berbagai pengaruh dari daerah tetangga, tetapi juga negara lain,” katanya.

Sejak kedatangan pengungsi Perang Diponegoro, lanjut Kusnadi, batik kemudian diterima di Jabar mulai dari rakyat jelata hingga kalangan kerajaan. Menurut Ketua Harian Yayasan Batik Jabar, Komarudin, pembatik yang datang dari Jateng kemudian dipengaruhi alam dan budaya Jabar.

“Pengaruh itu misalnya dari bahan baku dari alam untuk pewarnaan dan budaya lokal sebagai motif batik, motif batik Tasikmalaya, misalnya, tidak mengenal kelas dan status sosial atau kedudukan seseorang,” ungkapnya.

Selain itu, ada batik Ciamis, menurutnya, batik Ciamis cenderung memiliki gaya batik pesisir karena ada kontak dagang atau hubungan antar daerah pembatikan di pesisir serta di ilhami keadaan alam sekitar.

“Dan di Garut terdapat motif dengan tema kehidupan masyarakat sehari-hari, antara lain kendi, capung, kupu-kupu, anyaman bambu, dan kurungan ayam,” ujar Kusnadi.

Terakhir, batik saat ini tidak hanya digunakan dalam acara resmi seperti kenegaraan, pemerintahan, dan acara – acara penting yang bersifat resmi lainnya, akan tetapi batik juga bisa dipakai dalam kegiatan santai, bahkan semakin banyak anak muda bangga mengenakan batik.

Baca Juga :  Usum Mirip (2)

“Di Jabar memiliki potensi besar dalam perbatikan secara produksi ataupun kekayaan motif, dan karya batik di Jabar pun tidak kalah bagus dengan karya – karya pembatik daerah lain,” pungkasnya.@eko

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Enam Bulan Menjabat Bupati, Kang DS Apresiasi Kinerja Jajarannya

Kam Okt 28 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS | SOREANG – Walaupun belum sepenuhnya, namun Bupati Bandung Dadang Supriatna mengapresiasi jajarannya, atas capaian visi misi pembangunan yang diemban selama enam bulan masa kepemimpinannya. Beberapa rencana aksi bahkan sudah berhasil direalisasikan. Pencapaian itu, ujar bupati, bukanlah hasil kerja bupati, wakil bupati maupun sekretaris daerah saja, melainkan berkat […]