Search
Close this search box.

Bayang-Bayang Rivalitas Lama Mengiringi Ketertarikan MU pada Mac Allister

Bagikan :

VISI.NEWS|BANDUNG -Manchester United kembali dikabarkan menyusun langkah besar untuk memperkuat lini tengah musim depan. Klub yang bermarkas di Old Trafford itu disebut menaruh minat pada gelandang Liverpool, Alexis Mac Allister, sebuah manuver yang langsung memantik diskusi panjang soal rivalitas klasik dua raksasa Inggris tersebut.
Jika benar terjadi, kepindahan itu bukan sekadar transfer biasa. Langkah tersebut berpotensi menjadi transaksi langsung pertama antara dua musuh bebuyutan itu dalam lebih dari setengah abad, sekaligus menggoyahkan semacam larangan tak tertulis yang selama ini dijaga kedua kubu.
Situasi ini membuat publik kembali mengingat satu nama lama yang pernah berada di posisi serupa: Gabriel Heinze. Bek asal Argentina itu sempat berusaha meninggalkan Manchester menuju klub rival pada 2007, namun rencana tersebut gagal dan meninggalkan polemik panjang.
Kala itu, Heinze tengah bersaing memperebutkan posisi utama dengan Patrice Evra di bawah pelatih legendaris Alex Ferguson. Liverpool sempat mengajukan tawaran, namun transfer langsung tersebut ditolak manajemen United.
Transfer langsung terakhir antara kedua klub sendiri tercatat terjadi pada 1964 lewat Phil Chisnall, dan sejak era Ferguson, hubungan bisnis antara dua rival itu nyaris dianggap tabu.
Dalam wawancara lama, Heinze secara terbuka menjelaskan alasan di balik keinginannya saat itu.
“Perjuangan saya adalah untuk kebebasan bernegosiasi dengan klub mana pun. United tidak pernah ingin saya pergi ke salah satu klub besar, tetapi klausul anti-Liverpool ini luar biasa.”
Namun seiring waktu, pandangan Heinze berubah. Ia mengakui keputusan tersebut menjadi salah satu penyesalan dalam kariernya.
“Saya tidak punya banyak penyesalan dalam karier saya sebagai pesepak bola, tetapi episode dengan Ferguson itu harus menjadi salah satunya.”
Ia juga menambahkan, “Saya impulsif dan berkemauan keras, dan itu kadang membawa saya ke dalam masalah, seperti yang terjadi ketika saya meninggalkan United.”
Heinze mengaku meninggalkan Manchester bukan keputusan yang mudah baginya.
“Saya menghabiskan tiga tahun di Manchester dan memiliki banyak momen hebat dan saya sangat menyesal meninggalkan klub. Ada banyak hal yang saya sesali dari bulan-bulan terakhir itu, tetapi saya pribadi yang kuat, Sir Alex juga pribadi yang kuat.”
Ia menegaskan pula bahwa dirinya sadar penuh risiko yang dihadapi saat mencoba menyeberangi rivalitas sengit tersebut.
“Saya sadar akan rivalitas, saya tahu risiko pindah dari Manchester ke Liverpool dan apa artinya. Saya berharap itu tidak merusak cara mereka memandang saya dan mereka akan mengingat tiga tahun yang saya jalani di tim.”
Pada akhirnya, Heinze justru berlabuh ke Real Madrid sebelum melanjutkan kariernya di Marseille. Kini ia berkiprah di dunia kepelatihan dan menjadi bagian staf pelatih Mikel Arteta di Arsenal.
Situasi inilah yang kini menjadi cermin bagi isu transfer Mac Allister. Secara taktis, gelandang Argentina itu dianggap cocok untuk kebutuhan Manchester United, terutama jika Bruno Fernandes benar-benar meninggalkan klub dalam waktu dekat.
Namun, persoalannya bukan sekadar kebutuhan teknis. Faktor sejarah, emosi suporter, serta politik rivalitas membuat transfer semacam ini selalu menjadi isu sensitif.
Musim Liverpool memang tak sekuat sebelumnya, tetapi melepas pemain penting langsung ke rival utama tetap bukan keputusan mudah.
Kasus Heinze menjadi pengingat bahwa menyeberangi garis rivalitas Anfield dan Old Trafford bukan hanya soal sepak bola, melainkan juga soal identitas dan sejarah panjang dua klub.@fajar

Baca Berita Menarik Lainnya :