VISI.NEWS | BANDUNG – Jerawat merupakan masalah kulit yang umum dialami banyak orang, tetapi tidak semua jerawat sama. Menurut National Institutes of Health (NIH), sekitar 1 dari 10 orang mengalami masalah jerawat. Dua jenis jerawat yang sering terjadi adalah jerawat hormonal dan jerawat bakteri, yang memiliki penyebab dan cara penanganan berbeda.
Perbedaan Jerawat Hormonal dan Jerawat Biasa
1. Penyebab
- Jerawat hormonal disebabkan oleh fluktuasi hormon yang meningkatkan produksi minyak (sebum) dan menyumbat pori-pori, sehingga bakteri lebih mudah berkembang. Biasanya terjadi pada remaja, wanita selama menstruasi, kehamilan, atau menopause.
- Jerawat bakteri muncul akibat ketidakseimbangan mikrobioma kulit yang terdiri dari bakteri dan jamur alami. Faktor eksternal seperti kebersihan kulit yang kurang baik, produksi minyak berlebih, atau penggunaan produk yang tidak cocok bisa memicu jerawat ini.
2. Bentuk dan Lokasi
- Jerawat hormonal berbentuk kistik, yaitu benjolan merah dalam yang menyakitkan. Umumnya muncul di garis rahang, dagu, leher, atau pipi.
- Jerawat bakteri berbentuk pustula, yaitu jerawat merah dengan bagian tengah putih atau kekuningan yang berisi nanah. Biasanya muncul di zona T (kening, hidung, dagu), pipi, dan hidung.
3. Cara Mengatasi
- Jerawat hormonal memerlukan perawatan kombinasi antara obat topikal dan oral. Disarankan menggunakan asam salisilat, benzoil peroksida, atau retinoid. Dalam beberapa kasus, dokter dapat meresepkan pil kontrasepsi atau spironolakton untuk mengendalikan hormon.
- Jerawat bakteri dapat diatasi dengan benzoil peroksida, retinoid, dan antibiotik sesuai saran dokter. Jika peradangan cukup parah, dokter mungkin meresepkan doksisiklin atau seysara untuk mengurangi bakteri dan peradangan.
Dengan memahami perbedaan ini, Anda bisa memilih perawatan yang tepat agar jerawat cepat teratasi tanpa memperburuk kondisi kulit. @ffr