VISI.NEWS | TANAH DATAR — Keterbatasan fasilitas tak menyurutkan semangat belajar siswa SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Selama hampir dua bulan, puluhan siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat akibat kondisi bangunan sekolah yang terancam ambruk.
Sejak awal Januari 2026, area sekolah dipasangi garis polisi setelah dinding tebing di sisi kiri dan kanan lapangan mengalami keretakan serius dan longsor. Demi keselamatan, ruang kelas tidak lagi digunakan sepenuhnya, sementara tenda darurat menjadi solusi sementara agar proses pendidikan tetap berjalan.
“Belajar di tenda darurat tetap asik dan seru,” ujar salah seorang siswa kelas IV SD Negeri 11 Bungo Tanjuang.
Meski harus menghadapi cuaca panas saat siang hari, para siswa mengaku tetap bersemangat mengikuti pelajaran. Dukungan guru menjadi faktor utama yang membuat mereka bertahan dan tidak kehilangan motivasi belajar.
“Kami sudah dua bulan belajar di tenda, tapi kami tetap semangat,” katanya.
Di sisi lain, pihak sekolah mengakui kondisi tersebut jauh dari ideal. Guru SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, Herna Permata Sari, menyebut penggunaan tenda darurat dilakukan karena enam ruang kelas berada dalam kondisi berbahaya.
“Kami terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar di tenda darurat karena enam kelas terancam ambruk,” kata Herna.
Untuk menyesuaikan keadaan, sekolah mengatur sistem belajar bergantian dan memangkas durasi pembelajaran. Setiap hari, dua kelas menggunakan tenda darurat secara bergantian.
“Proses belajar mengajar dimulai dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, pembelajaran kita sambung di kelas yang sudah kosong,” ujarnya.
Herna berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar keselamatan siswa dan guru lebih terjamin. Ia mengkhawatirkan dampak yang lebih buruk jika perbaikan tidak segera dilakukan, terutama saat cuaca ekstrem.
“Kalau sudah menjelang siang itu matahari mulai terik dan anak-anak kepanasan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa polisi telah dua kali memasang garis pengamanan di lingkungan sekolah. Pemasangan pertama dilakukan pada akhir 2024 setelah toilet dan tempat wudu di sisi kiri sekolah ambruk akibat hujan deras. Pemasangan kedua dilakukan setelah dinding tebing di sisi kanan sekolah kembali longsor dan menyebabkan retakan pada sejumlah bangunan. @kanaya