Search
Close this search box.

Berharap Dapur Umum, Pengungsi Pergerakan Tanah di Sukabumi Dilayani SPPG MBG

Kondisi bangunan yang terdampak pergerakan tanah di di Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi./visi.news/BPBD Kabupaten Sukabumi.

Bagikan :

VISI.NEWS | SUKABUMI – Warga terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, mengharapkan adanya dapur umum guna mencukupi kebutuhan selama berada di pengungsian.

Sementara ini, kebutuhan makanan para pengungsi, baik untuk berbuka puasa maupun sahur, dipenuhi oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG yang beroperasi di wilayah Bantargadung.

Rahmat menjelaskan bahwa pendirian dapur umum harus melalui prosedur berupa asesmen untuk menentukan apakah peristiwa tersebut ditetapkan sebagai tanggap darurat bencana. Hasil penilaian tersebut akan menjadi dasar keputusan pembentukan dapur umum oleh pemerintah daerah.

“Untuk makan buka dan sahur kita mengharapkan adanya dapur umum dari Pemerintah Kabupaten, karena memang ada mekanisme yang harus ditempuh, ada penilaian asesmen, kejadian pergerakan tanah di Kampung Cijambe RT 05/07, Desa Bantargadung, masuk kategori tanggap darurat bencana atau tidaknya,” ujarnya.

Forkopimcam pun berinisiatif mendorong dapur SPPG MBG di Bantargadung agar dapat membantu memenuhi kebutuhan konsumsi para pengungsi di posko darurat.

Menurut Rahmat, terdapat ketentuan dari BGN, apabila ada bencana di daerah yang ada dapur SPPG, maka bisa dijadikan pelayanan dapur umum bagi korban bencana yang ada di posko pengungsian atau posko darurat.

“Alhamdulilah sudah dimulai pada sahur tadi dan untuk kedepan, buka dan sahur selanjutnya itu akan oleh dapur SPPG MBG, ada dua yaitu dapur SPPG MBG Bantargadung Bojonggaling 2 dan dapur SPPG MBG Bantargadung Bantargadung 2,” pungkasnya.

Bencana pergerakan tanah yang melanda Kampung Cijambe RT 05/07, merusak 90 rumah. Selain rumah, dua tempat ibadah serta pondok pesantren terdampak bencana tersebut. Kejadian ini berdampak terhadap 112 kepala keluarga yang terdiri dari 355 jiwa. Warga pun harus mengungsi akibat kejadian tersebut.

Baca Juga :  Hasil Persita vs Arema FC 0-1: Gol Free Kick Menentukan Kemenangan Singo Edan

Pergerakan tanah mulai terjadi 22 Februari lalu dan dampaknya terus meluas hingga 1 Maret kemarin. Pergerakan tanah membuat rumah warga mengalami kerusakan, dinding hingga lantai terbelah, bahkan sejumlah rumah ambruk. @andri

Baca Berita Menarik Lainnya :