‘Bisnis’ Korupsi

Silahkan bagikan

Oleh Idat Mustari

KORUPSI adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) sama dengan kejahatan Narkoba dan terorisme. Disebut kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) menurut  Mark A. Drumbl, adalah karena kejahatan yang ekstrim secara kuantitatif berbeda dengan kejahatan pada umumnya, karena kejahatan ini sifatnya jauh lebih serius, dan pelakunya dianggap sebagai musuh seluruh umat manusia. Saking super jahatnya pelakunya pun diancam hukuman mati.

Indonesia telah menghukum mati pelaku teroris.  Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur memvonis hukuman mati terhadap enam narapidana teroris dalam kasus penyerangan Mako Brimob, Depok, yang terjadi pada medio Mei 2018.

Keenam terdakwa itu adalah Anang Rachman, Suparman alias Maher, Syawaludin Pakpahan, Suyanto alias Abu Izza, Handoko alias Abu Bukhori, dan Wawan Kurniawan. Vonis mati pada teroris era 2000-an tidak hanya terjadi kali ini saja. Pada 2008 lalu tiga tokoh sentral Bom Bali 2002, Abdul Aziz alias Imam Samudra, Ali Gufron alias Mukhlas, dan Amrozi, bahkan telah dieksekusi mati. Pun demikian pada mereka yang jadi bandar narkoba, salah satunya Freddy Budiman, yang telah berulang kali terjerat kasus penyelundupan narkoba dan dieksekusi mati di LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa tengah pada 29 Juli 2016.

Tapi tidak dengan koruptor, tak ada di negeri ini yang di vonis mati.

Andaikan saja Indonesia seperti China yang telah menerapkan hukuman mati bagi koruptor, maka banyak anggota dewan, bupati, walikota, gubernur yang sekarang sudah almarhum. Di sini, boro-boro ada yang divonis mati agar ada efek jera bagi yang lainnya untuk tidak korup, ironisnya justru yang ada koruptor divonis ringan, diperlakukan istimewa di tahanan, lalu mendapatkan pengurangan hukuman, para koruptor akhirnya bebas dalam sekejap.

Baca Juga :  18 Atlet dan Pelatih ASN Kota Bandung Berlaga di Pornas XVI Korpri

Tak ada sanksi sosial bagi koruptor di negeri ini, bahkan mantan narapidana kasus korupsi diperbolehkan mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Maka sempurnalah Indonesia sebagai surga bagi para koruptor. Wajar para koruptor di negeri ini tidak pernah menunjukkan rasa malu dan takut saat dirinya ketahuan dan ditangkap bahkan tersenyum sambil melambaikan tangan tanpa rasa bersalah.

Indonesia sepertinya tak akan pernah bisa bersih dari korupsi, sebab korupsi sudah dianggap dagang atau ‘bisnis’. Bayangkan saja jika ada orang yang korupsi sebesar 30 Miliar, sudah terpakai 15 Miliar untuk keperluan pribadi, dihukum penjara 12 tahun. Maka orang itu ibarat dapat 1,25 Miliar dibayar penjara satu tahun atau satu bulan dapat penghasilan 104 juta, sunggguh bisnis dan kerja di perusahaan apa dapat penghasilan sebesar itu tiap bulannya. Tentu mereka yang bisa berbisnis korupsi adalah mereka yang punya kekuasaan bukan rakyat jelata.

Selamat berbisnis korupsi tuan-tuan !

  • Penulis, pemerhati sosial, agama dan kebangsaan

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Waketum MUI Sebut Keamanan Negara Kunci Suksesnya Pembangunan

Sen Sep 26 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | JAKARTA – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr KH Marsudi Syuhud menyatakan, sebuah negara yang aman dan damai adalah harga yang mahal. Sebab, menurut Kiai Marsudi, tumbuh kembang serta pembangunan sebuah negara dipengaruhi oleh kondisi negara tersebut. Negara yang aman dan damai akan mampu melakukan […]