Search
Close this search box.

Bitcoin, Mengapa 21 Juta Jadi Angka Sakral

Bitcoin./visi.news/Euronews.com.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG – Bitcoin dirancang oleh seseorang atau sekelompok orang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Salah satu fondasi paling penting dari sistem ini adalah jumlah total pasokan Bitcoin yang telah ditetapkan sejak awal, yakni sebanyak 21.000.000 unit. Angka ini bersifat tetap dan tidak bisa diubah begitu saja oleh siapa pun, bahkan oleh pengembangnya sendiri.

Berbeda dengan mata uang fiat seperti rupiah atau dolar yang bisa dicetak tanpa batas oleh bank sentral, Bitcoin menggunakan sistem deflasi. Dalam sistem ini, pasokan dibatasi dan kelangkaan menjadi elemen kunci. Karena itulah, banyak yang menganggap Bitcoin sebagai “emas digital” yang nilainya bisa meningkat seiring pertumbuhan permintaan.

Pemilihan angka 21 juta bukanlah keputusan asal-asalan. Satoshi merancangnya agar Bitcoin bisa mempertahankan nilainya dalam jangka panjang dan tetap fungsional bahkan jika digunakan secara global. Dengan demikian, satu unit Bitcoin bisa memiliki nilai tinggi sekaligus fleksibilitas dalam transaksi.

Fleksibilitas itu didukung oleh satuan terkecil Bitcoin, yaitu satoshi (0,00000001 BTC). Ini memungkinkan pengguna untuk bertransaksi dalam pecahan sangat kecil sekalipun, menjadikannya relevan untuk berbagai kebutuhan, dari pembayaran mikro hingga investasi bernilai besar.

Bitcoin juga dikenal sebagai aset dengan kelangkaan yang dapat dibuktikan (provable scarcity). Semua pihak dalam jaringan bisa memverifikasi bahwa total pasokan Bitcoin tidak akan pernah melebihi 21 juta unit. Inilah yang menjadi pembeda utama dengan sistem keuangan konvensional.

Mengubah batas 21 juta bukan hal yang mudah. Dalam jaringan Bitcoin yang bersifat desentralisasi, perubahan besar membutuhkan konsensus mayoritas dari seluruh node. Dengan ribuan node aktif di seluruh dunia, perubahan ini hampir mustahil dilakukan.

Hingga Juli 2025, lebih dari 19,7 juta BTC telah berhasil ditambang—mencapai lebih dari 93% dari total suplai maksimum. Meski begitu, sisa sekitar 2 juta Bitcoin baru akan ditambang secara bertahap hingga sekitar tahun 2140 karena mekanisme yang disebut halving.

Halving adalah sistem pemotongan hadiah bagi penambang yang terjadi setiap empat tahun. Pada awalnya, hadiah untuk tiap blok adalah 50 BTC. Namun jumlah itu kemudian dipangkas menjadi 25 BTC pada 2012, 12,5 BTC pada 2016, lalu 6,25 BTC pada 2020, dan menjadi 3,125 BTC pada Mei 2024.

Baca Juga :  Soroti Napi Koruptor Ngopi di Cafe, Andreas Hugo: Indikasi Petugas Lapas Disuap

Dengan waktu rata-rata penambangan 10 menit per blok, saat ini ada sekitar 900 BTC baru yang tercipta setiap hari. Angka ini setara dengan laju inflasi tahunan sekitar 1,7%. Setelah halving berikutnya, inflasi akan turun di bawah 0,85%, memperkuat kelangkaan Bitcoin.

Namun, tidak semua Bitcoin yang telah ditambang saat ini beredar aktif. Menurut analisis dari Chainalysis dan Glassnode, diperkirakan antara 2 juta hingga 4 juta BTC telah hilang secara permanen karena berbagai sebab, mulai dari kehilangan private key hingga kematian pemiliknya tanpa pewarisan akses.

Dengan asumsi bahwa 4 juta BTC hilang, maka jumlah Bitcoin yang benar-benar bisa digunakan hanya sekitar 17 juta unit. Fakta ini semakin menambah kelangkaan Bitcoin dan memperkuat narasi bahwa aset ini bukan hanya digital, tapi juga langka dan tak bisa dimanipulasi pasokannya.

Bitcoin dirancang untuk menjadi sistem keuangan yang adil, terbuka, dan tahan manipulasi. Angka 21 juta bukan sekadar batas teknis, tapi adalah simbol sekaligus fondasi dari seluruh filosofi Bitcoin: menciptakan uang digital yang langka, aman, dan dapat dipercaya di era informasi.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :