VISI.NEWS | BANDUNG – Aset kripto utama dunia, Bitcoin (BTC), kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar positif dari Amerika Serikat dan pernyataan sejumlah tokoh berpengaruh di sektor keuangan global. Pada perdagangan Senin, 10 November 2025, BTC berada di level Rp1.759.752.000 per keping, dengan potensi target kenaikan menuju Rp1.830.142.080, berdasarkan analisis teknikal empat jam (4H).
Kabar utama datang dari Washington D.C., di mana pemerintahan Donald Trump dikabarkan tengah mencapai kesepakatan dengan Dewan Kongres AS untuk membuka kembali pemerintahan setelah shutdown terpanjang dalam sejarah Amerika. Banyak analis mengaitkan momen ini dengan peristiwa tahun 2019, ketika Bitcoin melonjak lebih dari 300% dalam lima bulan setelah shutdown berakhir. Jika pola serupa terulang, potensi reli harga Bitcoin bisa kembali terbuka lebar.
Sementara itu, investor senior dan penulis buku “Rich Dad Poor Dad,” Robert Kiyosaki, menegaskan keyakinannya pada aset keras seperti emas, perak, dan Bitcoin. Ia bahkan memperkirakan harga Bitcoin bisa mencapai USD 250.000 pada tahun 2026. Prediksi ini disambut optimis oleh banyak investor ritel, yang melihatnya sebagai tanda bahwa aset digital utama ini masih memiliki momentum kuat jangka panjang.
Dukungan terhadap Bitcoin juga datang dari raksasa manajemen aset global, BlackRock, yang menyebut bahwa relevansi Bitcoin sebagai aset jangka panjang tetap kuat. Menurut BlackRock, lebih dari 300 juta pengguna kini telah terlibat dalam ekosistem Bitcoin selama 12 tahun terakhir — angka adopsi yang lebih cepat dibandingkan awal perkembangan telepon seluler dan internet. Mereka menilai perlambatan harga saat ini hanya bersifat sementara dalam tren jangka panjang.
Dari sisi teknikal, analis pasar mencatat pola inside bar bearish jenuh pada grafik mingguan Bitcoin. Pola ini menunjukkan potensi pembalikan arah harga setelah fase tekanan jual. Trader disarankan mencari momentum pembelian pada daily time frame, terutama jika terjadi koreksi menuju area support Rp1.759.752.000 disertai sinyal candlestick reversal.
Jika momentum tersebut berhasil dikonfirmasi, potensi take profit dapat diarahkan ke area resistance Rp1.830.142.080. Level tersebut diperkirakan menjadi area Lower High/Higher High berikutnya, tempat tekanan jual kemungkinan kembali muncul sebelum tren berikutnya terbentuk.
Selain Bitcoin, Ethereum (ETH) juga menunjukkan pergerakan menarik. Para whale ETH (investor besar) tercatat mengakumulasi lebih dari 394.000 ETH, dengan pembelian signifikan di harga sekitar US$3.480 per ETH. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap Ethereum menjelang akhir tahun, terutama jika faktor fundamental seperti adopsi institusional dan peningkatan jaringan terus mendukung.
Dari sisi teknikal, ETH juga membentuk pola serupa di timeframe 4 jam, dengan area entry di Rp59.993.000 dan target level Rp62.392.720. Analis menilai, jika pembalikan harga terjadi di area support tersebut, ETH berpotensi melanjutkan tren naik jangka pendek, terutama jika narasi “musim altcoin” kembali menguat seperti yang diungkapkan analis Matthew Hyland.
Meski optimisme pasar mulai meningkat, analis tetap mengingatkan bahwa aset kripto bersifat sangat volatil dan berisiko tinggi. Investor disarankan untuk selalu melakukan riset mandiri (DYOR), menjaga manajemen risiko, dan tidak melakukan transaksi semata karena euforia. Dalam dunia crypto, keputusan terbaik selalu berdiri di atas data, disiplin, dan kesadaran akan potensi fluktuasi ekstrem pasar.
@uli