Search
Close this search box.

Blokade Hormuz Diterobos, Kapal Minyak Tetap Nekat Melintas

Ilustrasi. /visi.news/ai

Bagikan :

VISI.NEWS | TEHERAN – Sedikitnya tiga kapal tanker minyak dilaporkan berhasil memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz pada Selasa (14/4), di tengah ketegangan tinggi akibat blokade militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Data pelacakan pelayaran menunjukkan kapal berbendera Panama, Peace Gulf, bergerak menuju pelabuhan Hamriyah di Uni Emirat Arab setelah melewati jalur baru di antara Pulau Larak dan Hormuz—rute yang diwajibkan oleh pasukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Jalur ini digunakan sebagai alternatif akibat ancaman ranjau di lintasan utama.

Sebelumnya, dua kapal tanker lain yang terkena sanksi Amerika Serikat, Rich Starry dan Elpis, juga telah melintasi selat sempit tersebut. Ketiga kapal ini tidak menuju pelabuhan Iran, sehingga tidak termasuk dalam sasaran langsung blokade yang diberlakukan Washington.

Komando Pusat Militer AS, CENTCOM, menyatakan bahwa blokade mulai diberlakukan sejak Senin pagi waktu AS. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut perintah Presiden Donald Trump untuk menghentikan seluruh aktivitas kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

Di sisi lain, Teheran memperingatkan akan melakukan pembalasan, termasuk potensi menyerang pelabuhan di negara-negara Teluk. Situasi ini memperparah ketidakpastian bagi pelayaran global, terutama karena instruksi yang bertentangan antara AS dan Iran kepada kapal-kapal yang melintas.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok drastis hingga lebih dari 95 persen. Dari rata-rata sekitar 100 kapal per hari sebelum konflik, kini hanya ratusan kapal yang melintas dalam periode lebih dari satu bulan.

Meski gencatan senjata sempat diumumkan pada 8 April, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya pulih. Tercatat hanya 45 kapal yang melintas sejak kesepakatan tersebut berlaku, sementara ratusan kapal lainnya masih tertahan di kawasan Teluk.

Baca Juga :  AS–RI Naik Kelas: Aliansi Militer Baru Picu Sorotan

Dampaknya terasa global. Gangguan di jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia ini telah memicu lonjakan harga energi hingga 50 persen, serta mengganggu rantai pasok, terutama bagi negara-negara Asia.

Selain itu, sedikitnya 22 kapal dilaporkan telah menjadi sasaran serangan sejak konflik dimulai, menegaskan bahwa Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling berbahaya dalam peta geopolitik dunia.

@uli

Baca Berita Menarik Lainnya :