VISI.NEWS | JAKARTA – Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyampaikan bahwa laju pemanasan global saat ini berlangsung dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibanding beberapa abad lalu. Maka dari itu butuh perubahan perilaku segera.
“Pemanasan global semakin cepat. Sebelumnya butuh waktu ratusan ribu bahkan jutaan tahun,” katanya, Rabu (29/1/2025).
“Sekarang, dari tahun 1900 sampai tahun ini sudah capai kenaikan 1,5 derajat Celcius. Padahal kesepakatan dunia di Paris mengizinkan kenaikan 1,5 derajat Celcius tapi nanti di tahun 2100,” ujar Dwikorita.
Dwikorita mengingatkan bahwa percepatan pemanasan global ini memicu cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang lebih sering terjadi dengan durasi panjang serta intensitas tinggi.
“Karena siklus hidrologisnya semakin kencang, sehingga cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Durasinya makin panjang, intensitasnya makin kuat, dan bencananya terjadi tidak hanya skala lokal tapi juga global,” kata Dwikorita.
Paparannya dalam webinar “Resolusi 2025: Mitigasi Bencana Geologi” juga menyebutkan bahwa 2024 adalah tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan anomali suhu mencapai 1,54 derajat Celcius di atas rata-rata praindustri.
“Diprediksi di tahun 2030, (data 2019), kenaikan suhu akan meningkat 0,5 derajat Celcius. Ternyata preediksi ini sudah terlampaui,” imbuhnya.
Lebih lanjut, perubahan iklim ini diproyeksikan menyebabkan penurunan curah hujan hingga 20% pada musim kemarau, yang membuat musim kering semakin panas dan musim hujan lebih basah serta ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.
“Kejadiannya hampir merata di seluruh wilayah Indonesia. Terjadi kenaikan curah hujan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hujan ekstrem semakin sering terjadi,” ucapnya.
“Terjadi juga kenaikan penurunan curah hujan di saat musim kemarau. Jadi musim kemarau makin kering, musim hujan makin basah, pokoknya makin ekstrem. Ini prediksi yang dilakukan BMKG,” terang Dwikorita.
Di sisi lain, Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memprediksi dunia akan menghadapi krisis pangan global pada 2050 jika laju kenaikan suhu tidak terkendali.
“Di masa Indonesia Emas atau di pertengahan abad, kalau perilaku kita tidak berubah, tetap memepertahankan energi fosil, tidak berubah ke energi yang lebih ramah lingkungan, maka akan terjadi krisis pangan dunia,” paparnya.
“Hampir seluruh dunia mengalami krisis pangan. Kita nggak bisa impor beras dan bahan lainnya karena negara lainnya juga kesulitan,” ujarnya.
Dwikorita menegaskan bahwa Asta Cita, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, merupakan strategi penting untuk mencegah Indonesia dari ancaman krisis pangan tersebut. @ffr