BRIN Kembangkan Radiasi Gamma Berbasis Skandium-46 Pengganti Kobalt-60 untuk Deteksi Kerusakan dengan Gamma Scanning

Silahkan bagikan

VISI.NEWS | BANDUNG – Dalam dunia industri, keberlangsungan proses produksi menjadi salah satu faktor yang sangat penting dan harus dijaga dengan serius agar tidak terjadi kerusakan. Hal ini dikarenakan, kerusakan pada peralatan akan mengganggu proses produksi dan pada akhirnya menimbulkan kerugian. Ditambah lagi bila kerusakan yang terjadi tidak diketahui lokasinya, sehingga solusi yang mungkin ditawarkan adalah menghentikan proses produksi, kemudian dicari sumber kerusakannya.

Solusi seperti ini tentunya sangat dihindari oleh pelaku industri, karena hal ini akan menghentikan proses produksi dan mendatangkan kerugian yang besar bagi pihak industri. Agar terhindar dari kemungkinan terjadinya kerugian dikarenakan berhentinya produksi untuk mendeteksi kerusakan peralatan, maka diperlukan teknologi deteksi kerusakan yang dapat digunakan tanpa mengganggu aktivitas produksi. Salah satu teknologi deteksi tersebut yakni dengan menggunakan gamma scanning.  Deteksi gamma scanning ini sering disebut sebagai uji tak merusak, karena deteksi ini dapat dilakukan tanpa harus membongkar/merusak peralatan yang diduga mempunyai kerusakan. Bahkan teknologi deteksi ini dapat digunakan tanpa menghentikan proses produksi yang sedang berlangsung.

Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) – Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Duyeh Setiawan mengatakan, pada prosesnya, gamma scanning ini memanfaatkan sinar gamma dari sumber radiasi kobalt-60 (Co-60). Kobalt-60 ini dapat diproduksi dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), namun, hingga saat ini Indonesia belum mempunyai satupun PLTN. Jadi untuk mendapatkan kobalt-60 harus impor dari negara yang telah memiliki PLTN dengan harga yang mahal.

Menurut Duyeh, fungsi kobalt-60 sebagai sumber radiasi pada proses gamma scanning dapat digantikan dengan sumber radiasi gamma lainnya yang berasal dari radioisotop skandium-46 (Sc-46). Radioisotop Sc-46 dapat diproduksi dari reaktor riset yang dimiliki Indonesia. Perlu diketahui bahwa saat ini, Indonesia telah memiliki tiga reaktor riset yakni Triga Mark 2000 di Bandung, Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy di Serpong, dan reaktor Kartini di Yogyakarta. Dengan memberdayakan reaktor riset tersebut maka sumber radiasi dari radioisotop Sc-46 menjadi terjangkau dan limbahnya dapat digunakan kembali melalui proses radiasi ulang.

Baca Juga :  Pembagian STB Gratis, Reynaldi : Pakai Data Yang Akurat Agar Tidak Terjadi Cemburu Sosial

Untuk itulah, jelas Duyeh, PRTRRB melakukan pengembangan Sumber Radioaktif Tertutup skandium-46 untuk Gamma – Ray Scanning. “Pengembangan ini  meliputi pembuatan desain sumber radiasi Sc-46 melalui teknik aktivasi netron di Reaktor Triga 2000 Bandung, sebagai upaya untuk menguji keandalan sumber Sc-46 dalam deteksi kerusakan peralatan di industri, terutama pada kolom distilasi atau penyulingan,” ujar Duyeh.

Secara rinci, Duyeh mengungkapkan proses pengembangan yang saat ini tengah dilakukan bersama rekan-rekan peneliti di PRTRRB. “Scanning kolom distilasi atau penyulingan bejana dapat dilakukan menggunakan radioisotop gamma bersegel (sealed) tertutup dan detektor radiasi. Baik sumber sinar gamma dan detektor dipindahkan bersamaan dalam pergerakan pelan di sisi yang berlawanan, di sepanjang eksterior unit dilakukan scan,” lanjutnya.

“Profil kepadatan relatif dari isi kolom akan diperoleh yaitu area yang mengandung bahan dengan kepadatan yang relatif tinggi, seperti cairan dan/atau logam, memberikan intensitas radiasi yang relatif rendah, sedangkan area dengan kepadatan yang relatif rendah, seperti ruang uap di antara baki, menghasilkan tingkat intensitas radiasi yang tinggi,” sambungnya.

Melalui teknik ini jelas Duyeh, didapatkan informasi signifikan tentang kondisi seluruh proses dan bejana itu sendiri serta dapat mengidentifikasi malfungsi instalasi dalam kolom distilasi seperti baki yang rusak atau hilang dari posisinya (collapsed trays), tingkat banjir dan lokasinya (flooding), tetesan cairan dan berbusa (foaming), tingkat cairan dan penyumbatan. Dengan demikian, teknisi dan operator dapat menentukan status kolom tersebut dan akibatnya membuat pengaturan untuk pemeliharaan dan pemecahan masalah untuk mencegah penutupan darurat.

“Karena prosesnya tidak melibatkan kotak langsung dengan bagian dalam bejana, proses ini juga menghindari kemungkinan korosi, suhu atau masalah tekanan. Sementara itu, kolom proses adalah komponen penting dalam penyulingan minyak mentah untuk mengubahnya menjadi bahan bakar yang berharga, serta dalam mempertahankan sistem pendingin pabrik. Penutupan pabrik untuk pemeliharaan bisa menelan biaya sekitar ribuan dollar per jam, yang berarti jutaan Rupiah dalam kerugian setiap hari untuk beroperasi,” jelas Duyeh.Dikatakan Duyeh, hasil penelitian ini sedang dilakukan uji coba di beberapa industri. “Saat ini kami bermitra dengan PT Catra Energi Perkasa (PT CEP) bekerja sama dengan PT Pertamina di Balikpapan dan PT Chandra Asri di Cilegon dalam menggunakan Sc-46 untuk gamma scanning untuk mendiagnosis produksi Petrokimia apakah masih bagus atau tidak produksinya,” pungkasnya. @alfa

Baca Juga :  Antisipasi Pandemi, FIF Group Luncurkan Dana Bergulir Untuk 588 UMKM

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Sambut Ramadan, Direksi Pertamina Kunjungi SPBU di Pekanbaru

Ming Apr 3 , 2022
Silahkan bagikanVISI.NEWS | PEKANBARU – Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Iman Rachman berkunjung ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pekanbaru, Riau, pada hari pertama puasa Ramadan, Minggu (3/4/2022). Pada kunjungan ini, Iman memantau dan memastikan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquified Petroleum Gas (LPG) […]