Budaya Masyarakat Pertanian Berubah Setelah Ada KRL. Ini Penjelasan Dirut KCI

Editor Dirut PT KCI, Roppiq Lutzfi Azhar, didampingi Direktur Operasional, Wawan Ariyanto dan Direktur Keuangan Adang Sujana, menjelaskan kepada wartawan, perkembangan setelah setahun beroperasinya KRL Yogyakarta - Solo. /visi.news/tok suwarto
Silahkan bagikan

VISI.NEWS | SOLO – Direktur Utama (Dirut) PT KAI Commuter Indonesia (KCI), Roppiq Lutzfi Azhar, menyatakan, kalau pemerintah mengembangkan transportasi massal berbasis rel dan telah menyiapkan infrastruktur kelistrikan untuk operasional kereta komuter atau biasa disebut KRL (kereta rel listrik), KCI sebagai operator siap melayani masyarakat.

“PT KCI memang diberi tugas mengoperasikan KA komuter di seluruh Indonesia, Setelah setahun KCI mengoperasikan KA komuter di wilayah Yogyakarta dan Solo, pada April nanti KCI mendapatkan tugas melayani KA komuter di wilayah Bandung dan Surabaya. Kalau pemerintah membangun infrastruktur kelistrikan di wilayah konglomerasi Solo ke Madiun dan Semarang, KCI juga siap melayani,” ujarnya kepada wartawan, ketika menjelaskan tepat setahun beroperasinya KA komuter Yogyakarta – Solo, di ruang VIP Stasiun Solo Balapan, Selasa (1/3/2022).
Roppiq mengungkapkan, pemerintah melihat perkembangan ke KA berbasis listrik dan mengurangi KA berbahan bakar fosil.
Pengembangan KA komuter yang tidak menggunakan bahan bakar fosil, katanya, merupakan dukungan komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon yang disepakati negara-negara G20.
“Prinsipnya, PT KCI siap beroperasi apabila pemerintah telah menyiapkan infrastruktur KRL. Kalau KRL Yogyakarta – Solo diperpanjang ke arah barat, sampai Purworejo atau Purwokerto, KCI siap. Kita akan menyiapkan bengkel perawatan di Purworejo. Saat ini, infrastruktur yang ke arah timur berupa jaringan kelistrikan sudah sampai Palur dan tinggal menunggu beroperasi dalam waktu dekat ini. Bengkel perawatan juga sudah disiapkan di Stasiun Jebres,”kata Direktur Operasional KCI, Wawan Ariyanto, menambahkan.
Sejak awal beroperasinya KRL Yogyakarta – Solo yang diresmikan Presiden Jokowi pada 1 Maret 2021, sampai Februari 2022 telah melayani 2, 2 juta penumpang.
Menurut Dirut PT KCI, KRL Yogyakarta – Solo setiap hari rata-rata beroperasi sebanyak 20 perjalanan. Tren volume penumpang setiap bulan terus meningkat. Pada Juli dan Agustus 2021 saat diberlakukan PPKM Level 4 di beberapa wilayah, volume penumpang KRL tertinggi pada Desember 2021 sebanyak 290.618 orang atau rata-rata 9.375 orang per hari.
“Setelah KRL Yogyakarta – Solo beroperasi, 4 stasiun yang tidak melayani penumpang, yaitu Stasiun Srowot, Ceper, Delanggu, dan Gawok dibuka kembali. Sebelumnya, stasiun tersebut dilayani KA Prambanan Ekspres (Prameks). Selain itu ,Stasiun Brambanan yang sebelumnya hanya melayani sebagian jadwal KA Prameks kini melayani seluruh jadwal KRL Yogyakarta – Solo,” jelasnya.
Di 4 stasiun tersebut, sambung Roppiq, menunjukkan peningkatan jumlah penumpang cukup tinggi. Hal itu, dia sebut terjadinya perubahan budaya masyarakat Solo dan Yogyakarta dengan menggunakan KRL.
“Misalnya, penumpang dari Stasiun Srowot, Delanggu dan Ceper, pada umumnya masyarakat pertanian. Dalam menggunakan transportasi, budaya mereka berubah ke KRL sehingga volume penumpang dari stasiun tersebut mengalami kenaikan,” tandasnya.
Dirut PT KCI juga mengungkapkan, karakteristik penumpang KRL Yogyakarta dan Solo berbeda dengan penumpang Jabodetabek. Hal itu, tampak pada volume penumpang di Jabodetabek yang tinggi pada hari kerja. Sedangkan volume penumpang di KRL Yogyakarta dan Solo meningkat pada hari libur, weekend dan long weekend.
“Ini menunjukkan, pengguna KRL Jabodetabek adalah para pekerja dan di Yogyakarta dan Solo bukan pekerja. Berdasarkan karakteristik itu, layanan KRL Yogyakarta – Solo yang setiap hari dilayani 20 kali perjalanan, pada hari libur dan weekend frekuensinya kita tambah 4 kali menjadi 24 per hari,” jelasnya.@tok

Baca Juga :  Pemaksaan Pilkada Saat Pandemi, Upaya Orang-orang Kuat Pupuk Kekayaan

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

SKETSA | Benturan Peradaban (II)

Rab Mar 2 , 2022
Silahkan bagikanOleh Syakieb Sungkar SEPERTI halnya suku-suku dan bangsa-bangsa, peradaban juga memiliki struktur politis. Sebuah negara akan mengidentifikasi secara kultural dengan salah satu peradaban, sebagaimana Mesir yang mengidentifikasi diri dengan peradaban Arab-Islam dan Italia dengan peradaban Eropa Barat. Setiap peradaban memiliki wilayah yang diidentifikasi sebagai suatu sumber utama kebudayaan, atau […]