Cerita di Balik Sidang Brenton Tarrant, Teroris Kulit Putih, Pembunuh 51 Jemaah di 2 Masjid Selandiabaru (4)

Editor Law Croust./bbcnews/ist.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Dalam sidang vonis, Hakim Cameron Mander mengatakan dirinya tidak ragu bahwa Tarrant sengaja pindah dari Australia ke Selandiabaru demi menyerang komunitas Muslim.

“Setiap pembunuhan adalah produk perencanaan yang lama dan penuh perhitungan serta dilakukan dengan taraf kekejian yang tinggi dan tak berperasaan. Beberapa korban adalah anak-anak. Lainnya dibunuh selagi mereka terbaring dengan luka dan tak berdaya.”

“Korban-korban Anda telah menunjukkan ketabahan luar biasa, namun saya tidak bisa mengabaikan kerusakan pada rasa aman serta kesejahteraan komunitas Muslim baik di Christchurch maupun secara luas di Selandiabaru.”

Meski Tarrant mengaku bersalah membunuh 51 orang, 40 percobaan pembunuhan, dan satu dakwaan kasus terorisme, hakim mengatakan: “Sejauh penilaian saya, Anda sama sekali tidak punya empati terhadap korban-korban Anda. Menurut observasi saya, Anda tetap sepenuhnya memikirkan diri sendiri…Anda tampak tidak menyesal atau malu.”

Jaksa Penuntut Umum, Mark Zarifeh, mengatakan kasus ini “menimbulkan bekas yang menyakitkan dan memprihatinkan pada sejarah Selandia Baru”. “Jelas dia adalah pembunuh terkeji di Selandiabaru”.

Tarrant, yang memilih mewakili dirinya sendiri, mengatakan tidak punya pernyataan apa pun. Dia mengangguk ketika ditanya apakah dia paham bahwa dirinya punya hak untuk menyampaikan sesuatu.

Seorang pengacara yang disediakan mengatakan Tarrant bicara kepadanya bahwa dia tidak menentang hukuman dipenjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Sebelum membacakan putusan, hakim memaparkan identitas dari 51 korban tewas dan 40 luka secara bergantian—serta apa dampak kematian mereka terhadap keluarga dan teman.

Pengadilan juga telah menggelar sidang selama empat hari untuk mendengarkan pernyataan hampir 90 orang yang terdiri dari penyintas dan keluarga penyintas serangan di dua masjid Kota Christchurch.

Baca Juga :  Presiden IPU Sampaikan Duka Cita Pada Tragedi Kanjuruhan

Sidang pada Rabu (26/8) diwarnai derai air mata, pembacaan Alquran, dan foto-foto para korban.
Inilah sebagian dari pernyataan mereka yang kuat.
‘Air mata ini bukan untuk Anda’
Ayah Sara Qasem meninggal dunia di Masjid Al Noor.

“Nama saya Sara Qasem. Putri dari seorang pria yang bersinar redup… Abdelfattah Qasem – ingatlah nama itu,” kata perempuan berusia 24 tersebut.

Ia menceritakan saat-saat terakhir ayahnya, dengan mengatakan: “Saya bertanya-tanya apakah ia kesakitan, apakah ketakutan, dan apa yang dipikirkan di saat-saat terakhir. Dan lebih dari apa pun di dunia, saya berharap saya bisa berada di sana memegang tangannya dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi saya tidak bisa melakukan itu.”

Ditambahkan ia dan ayahnya punya rencana bersama yang sekarang tak bakalan terwujud, “yakni untuk bepergian bersamanya. Mencium aroma masakannya.”

Qasem terlihat menguatkan dirinya saat ia mulai menangis. Ia melihat Tarrant dan mengatakan “air mata ini bukan untukmu.” (bersambung)/@fen/sumber: bbcnews

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TUASIAH: Perhiasan Terbaik Seorang Hamba di Mata Allah SWT

Sen Agu 31 , 2020
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Diterangkan dalam hadis: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada penampilan-penampilan dan harta benda kalian. Akan tetapi, (Allah) melihat pada hati dan amal kalian,” (HR Muslim […]