VISI.NEWS | SOLO – Bakal calon presiden Anies Baswedan memberikan orasi kebangsaan dengan tema “Menatap Masa Depan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Madani di Universitas Muhammadiyah (UMM) Surakarta, Sabtu (4/11/2023).
Anies menyampaikan pentingnya kepercayaan masyarakat kepada para pemimpinnya. Bagaimana mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Dia menyampaikan, baru saja berkunjung ke Asahan, Sumatra Utara pada Kamis-Jumat (2-3 November 2023). Di Masjid Raya Asahan, Anies bercerita kepada warga bahwa dia mengingat tokoh Asahan, yaitu Muhammad Imaduddin Abdulrahim.
“Saya sering baca tulisannya, namanya Muhammad Imaduddin Abdulrahim biasa dikenal dengan nama Bang Imad. Beliau itu nulis buku kuliah tauhid. Saya masih kuliah di Jogja, kemudian Bang Imad datang [ke Universitas Gadjah Mada],” tutur Anies.
Kala itu, Anies menjadi bagian panitia acara yang mengundang Bang Imad. Dia menjadi seksi transportasi. “Saya yang menjemput [Bang Imad] ke airport, saya mengantarkan ke hotel, saya yang nemani makan, saya nemani perjalanan, saya yang dapat interaksi paling banyak di antara semua panitia yang ada.”
Ketika di perjalanan, Anies bertanya kepada Imaduddin bagaimana ceritanya menjadi insinyur listrik, padahal tulisan-tulisannya tentang tauhid.
“Bang Imad, saya baca buku Kuliah Tauhid [buku yang ditulis oleh Bang Imad], tapi saya tidak membayangkan kalau Bang Imad itu ternyata insinyur listrik, kelihatannya ulama, tulisannya juga ulama walaupun sangat scientific pendekatannya. Lalu saya tanya bagaimana ceritanya jadi insinyur listrik?” tanya Anies saat itu.
Imaduddin (alm) lahir di Langkat, Sumatra Utara pada 1931. Dia dikenal sebagai sesepuh Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Beliau wafat pada Agustus 2008. Dia merupakan penulis buku Kuliah Tauhid. Dia juga tercatat sebagai pendiri Masjid Salman ITB, penggagas berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Bank Muamalat.
Pada saat itu, menurut Anies, Bang Imad bercerita ketika masih di sekolah SMA di Asahan, Bung Hatta datang ke daerah itu untuk meresmikan Bendungan Asahan.
Kemudian, dia dan teman-temannya ikut hadir dalam peresmian itu untuk mendengarkan pidato Bung Hatta. Dalam pidatonya, Bung Hatta menyampaikan bahwa hari ini kita meresmikan Bendungan Asahan, bendungan ini dipakai untuk membangkitkan tenaga listrik. Indonesia ke depan memerlukan tenaga listrik banyak sekali, membutuhkan bendungan lebih banyak lagi dan Indonesia membutuhkan banyak insinyur-insinyur listrik di masa yang akan datang.
“Lalu apa kata Bang Imad. Selesai acara itu, semua anak-anak pulang kampung dengan bercita-cita, kami ingin jadi insinyur listrik seperti apa kata pemimpin saya Mohammad Hatta,” cerita Anies.
Anies menjelaskan, bahwa kisah itu artinya tidak ada satu pun yang mendengarkan pidato Bung Hatta lalu membayangkan hal-hal lain. “Oh saudaranya kontraktor, tidak ada satu pun. Oh sponsornya Bung Hatta itu perusahaan-perusahaan pembangun waduk, tidak ada. Oh Bung Hatta itu membicarakan soal listrik karena Bung Hatta punya kepentingan untuk dapat uang dari perusahaan, tidak ada.”
Menurutnya, yang ada di kepala semua orang yang hadir mendengarkan pidatonya adalah mempercayainya dengan tanpa syarat. “Dan apa yang dia [Bung Hatta] katakan, kami dengarkan, kami laksanakan. Itulah yang disebut sebagai kepercayaan. Kita harus mengembalikan kepercayaan kepada pemimpin-pemimpin politik yang ada di Republik ini.”
@mpa/kba