Search
Close this search box.

CIA Bidik Perwira Militer China Lewat Video Propaganda, Manfaatkan Gejolak Politik di Beijing

Tentara berpartisipasi dalam parade militer untuk menandai peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua, di Beijing, Tiongkok, 3 September 2025./source: Reuters.

Bagikan :

VISI.NEWS | BANDUNG — Pada 12 Februari 2026, Badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), meluncurkan langkah baru dalam persaingan strategis dengan China dengan merilis video publik yang secara khusus menargetkan perwira militer China untuk direkrut sebagai informan. Langkah ini dinilai sebagai upaya memanfaatkan situasi politik internal Beijing menyusul penyelidikan terhadap salah satu jenderal paling berpengaruh di negara tersebut.

Video yang diunggah melalui kanal YouTube resmi CIA itu menampilkan sosok fiktif seorang perwira menengah militer China yang digambarkan kecewa terhadap sistem di negaranya. Dalam narasi berbahasa Mandarin, karakter tersebut menyampaikan keresahan terhadap dinamika internal militer dan elite politik China.

“Siapa pun yang memiliki kualitas kepemimpinan pasti akan dicurigai dan disingkirkan tanpa ampun,” ujar tokoh perwira fiktif tersebut dalam video.

“Kekuasaan mereka dibangun di atas kebohongan yang tak terhitung jumlahnya.”

Peluncuran video ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Kementerian Pertahanan China mengumumkan bahwa Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat sekaligus orang nomor dua di bawah Presiden Xi Jinping dalam struktur militer, sedang menjalani penyelidikan. Pengumuman tersebut menjadi salah satu pencopotan pejabat militer paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir di China dan memicu spekulasi luas tentang stabilitas internal di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Direktur CIA, John Ratcliffe, menegaskan bahwa kampanye terbuka ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Washington dalam memperkuat jaringan intelijen manusianya di China.

“Video-video kami telah menjangkau banyak warga China, dan kami akan terus menawarkan kepada pejabat pemerintah China kesempatan untuk bekerja menuju masa depan yang lebih cerah bersama,” kata Ratcliffe dalam pernyataan resminya.

Seorang pejabat CIA yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim juga menyatakan optimisme bahwa kampanye digital tersebut mampu menembus pembatasan internet ketat China yang dikenal sebagai “Great Firewall”.

Baca Juga :  Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 29 April 2026

“Video-video kami sebelumnya telah menjangkau jutaan orang dan menginspirasi sumber-sumber baru,” ujarnya, tanpa merinci detail operasional.

Langkah terbaru ini dipandang sebagai pendekatan berbeda dari pola operasi intelijen konvensional. Alih-alih sepenuhnya bergerak secara rahasia, CIA kini memanfaatkan ruang digital sebagai medan perekrutan terbuka, terutama di tengah meningkatnya ketegangan militer dan teknologi antara dua kekuatan terbesar dunia tersebut.

Hubungan Washington dan Beijing memang semakin memanas dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Amerika Serikat menyebut badan intelijen China aktif merekrut pegawai pemerintah AS, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Di sisi lain, Beijing beberapa kali mengumumkan pembongkaran jaringan mata-mata yang disebut-sebut bekerja untuk Amerika Serikat.

Persaingan senyap antara dua raksasa global ini oleh banyak pengamat disebut sebagai bentuk baru perang dingin, dengan medan pertempuran yang tak hanya mencakup militer dan teknologi, tetapi juga dunia maya serta perekrutan sumber daya manusia di lingkaran kekuasaan masing-masing negara. @kanaya

Baca Berita Menarik Lainnya :