“Climate Challenge Workshop”, Kolaborasi Berkelanjutan untuk Mengatasi Perubahan Iklim di Masa Depan.

Silahkan bagikan

VISI.NEWS – Pernyataan Presiden Joko Widodo pada Leader Summit on Climate mengenai pengembangan biofuel, industri baterai litium, dan kendaraan listrik sebagai beberapa tindakan nyata Indonesia mendapat dukungan sejumlah pihak.

“Kamu menegaskan kembali keberpihakan kami pada pemerintah dalam menangani perubahan iklim. Sebagai bagian dari komunitas internasional, kami tergerak untuk berkontribusi sebagai komitmen kami untuk memperkuat kerja sama dalam mengakomodasi solusi untuk mengatasi perubahan iklim di masa depan. Kami menyadari bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk melaksanakan National Determined Contribution (NDC) yang telah disepakati dalam Paris Agreement dan terus berupaya untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2030,” ungkap kata Hugh Moffatt, Country Director British Council Indonesia dalam keterangan pers yang diterima VISI.NEWS, Sabtu (8/5/2021).

British Council, kata High, berkomitmen untuk mendukung kolaborasi inovatif yang memperlambat laju perubahan iklim. Pihaknya mengerti bahwa kolaborasi internasional merupakan hal penting untuk menemukan solusi terhadap krisis iklim. “Saat Inggris bersiap untuk menjadi tuan rumah COP 26 di Glasgow pada bulan November, kami dengan senang hati mendukung hibah Workshop Researcher Links Climate Change. Hibah ini akan memberikan sumber daya dan memfasilitasi hubungan antara peneliti awal karir dari Inggris dan di Indonesia untuk menemukan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan terkait iklim, mengembangkan keterampilan dan jaringan mereka, ” ujar Hugh.

Sedangkan National Battery Research Institute (NBRI), katanya, merupakan Center of Excellence untuk baterai dan energi terbarukan, serta lembaga independen Indonesia untuk ilmu penyimpanan energi elektrokimia dan teknologi, guna mendukung penelitian, pelatihan, dan pendidikan. NBRI bertujuan untuk berkontribusi secara menyeluruh dalam kapasitas penelitian dan lingkungan pelatihan di Indonesia terutama pada sektor riset baterai. Sebagai bagian dari upaya bersama pihaknya, National Battery Research Institute bermitra dengan Queen Mary University of London dalam menyelenggarakan Climate Challenge Workshop – Researcher Links Climate Change, yang merupakan bagian dari rangkaian inisiatif British Council dalam menyambut COP26 (Konferensi Perubahan Iklim – Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Baca Juga :  JPU Banding atas Putusan Hakim yang Loloskan Hukuman Mati Kurir Sabu Seberat 22 Kg

Dalam kesempatan ini, peresmian Climate Challenge Workshop akan dihadiri oleh Prof. Alan J. Drew dari Queen Mary University London, selaku Workshop Chair dan co-founder NBRI, Prof. Evvy Kartini dari National Battery Research Institute, Workshop Vice Chair and Founder NBRI serta Bapak Hugh Moffatt, British Council Country Director Indonesia dan para mentor yang terlibat, seperti Prof. Dr. Elizabeth Tanner dan Prof. Dr. Sir Colin Humpreys dari Queen Marry University of London, Prof. Dr. Anne Zulfia dari Universitas Indonesia, serta Prof. Dr. Edwin Aldrian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Climate Challenge Workshop terdiri dari Research Prize dan Dissemination Awards. Workshop ini menawarkan platform untuk menstimulus dan mendiskusikan ide-ide penelitian inovatif dan mendorong kolaborasi berkelanjutan lintas disiplin dalam bentuk peningkatan kapasitas melalui workshop dan juga berbagai grants atau hibah. Hibah ini dirancang untuk memberikan dukungan finansial dan mempertemukan Early Career Researcher dari Inggris dan Indonesia untuk mengikuti workshop penelitian interdisipliner virtual untuk mendapatkesempatan memenangkan research grants dan dissemination awards.

Pendaftaran untuk Research Prize dan Dissemination Awards telah dibuka hingga 20 Mei 2021. Total hadiah sebesar £ 30.000 yang didanai oleh British Council terdiri dari £ 20.000 untuk Research Prize dan £ 10.000 Dissemination Awards. Workshop ini akan menjelaskan penyebab dan peran Indonesia terhadap perubahan iklim, secara lokal dan global, di berbagai sektor ekonomi (seperti transportasi, energi, industri, pariwisata, rumah tangga) serta dampak sosial dan ekonomi yang akan ditimbulkan oleh perubahan iklim di Indonesia.

“Sungguh suatu kehormatan bagi National Battery Research Institute dipercaya oleh British Council dan Queen Mary University of London untuk menyelenggarakan acara ini. Kami berharap Workshop Climate Challenge ini menjadi upaya bersama untuk mencapai target dalam Paris Agreement dan SDGs sebagai komitmen Indonesia untuk tetap berada di bawah 2 derajat, salah satunya diimplementasikan dalam Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Kendaraan Listrik Baterai, juga mempromosikan Kendaraan Listrik Baterai di industri otomotif Indonesia. Kesimpulannya, sebagai energi terbarukan, kendaraan listrik membutuhkan penyimpanan energi, yaitu baterai sebagai penyimpan energi yang dapat mereduksi CO2, ”ujar Prof. Dr. Evvy Kartini, Founder NBRI.@m purnama alam

Baca Juga :  BAGIAN 2 | Soal PAW Partai Golkar Kab. Bandung, Ini Kata UU MD3

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ramadan Brand Berbagi 2021, Berbagi 1.000 Kebaikan

Sab Mei 8 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung satu tahun lebih telah memicu meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah penduduk miskin per September 2020 sebanyak 27,55 juta orang atau setara 10,19% dari total penduduk. Dibandingkan dengan September 2019, sebanyak 9,22 juta orang jumlah penduduk miskin […]