Curug Siliwangi yang Dikeramatkan Ternyata Wanawisata Terabaikan

Editor Keindahan Curug Siliwangi yang terabaikan./visi.news/ki agus.
Silahkan bagikan

VISI.NEWS — Curug Siliwangi yang terletak di areal wanawisata Gunung Puntang di komplek Gunung Malabar di lahan RPH Logawa, yang dikelola BKPH Banjaran, KPH Bandung Selatan. Lokasi wisata yang terabaikan dan nyaris tidak diketahui. Malah masyarakat Kabupaten Bandung sendiri pun, hampir tidak mengetahui keberadaannya selama ini.

Wanawisata yang berada di ketinggian 1.290 m dpl, dikatakan salah satu pengunjung dari Kota Bandung, Nandang (54), mengatakan, dengan konfigurasi lapangan pada umumnya bergelombang dengan suhu udara 18 sampai 23 derajat Celsius dan curah hujan 2.000 hingga 2.500 mm/tahun. Mempunyai ketinggian terjunan air sekitar 100 m. Keindahannya bisa memanjakan mata wisatawan.

“Sayangnya Curug Siliwangi ini, tidak dipublikasikan dan diiformasikan kepada khalayak ramai, sehingga keberadaannya seolah tidak tersentuh Pemkab Bandung,” katanya di lokasi, Minggu (3/1/2021).

Keunikan lainnya, lanjut dia, konon Curug Siliwangi diyakini mengandung tuah yang teramat sangat dan dijaga langsung oleh sang Prabu Siliwangi, dan dianggap paling keramat ketimbang Cipangubusan atau sumber air keramat, Geger Hanjuang tempatnya sang Prabu menghabiskan waktu istirahat dan Batu Pedang tempat dimana beliau menyimpan pedang kesayangannya.

Dia mengakui kalau kekeramatan Curug Siliwangi dikaitkan dengan berbagai legenda juga mitologi dengan tujuan keberadaannya dan keasriannya bisa terjaga. Namun bila dikembangkan secara signifikan, ada kemungkinan bisa menjadi asset pendapatan daerah.

“Apalagi lokasinya terletak di kawasan Bandung Selatan, tepatnya di Desa Cimaung, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa barat. Jadi untuk perkembangan dan pelestariannya itu perlu campur tangan Pemkab Bandung, termasuk untuk mempromosikannya ke luar,” ujar dia.

Selain Curug Siliwangi, Nandang mengemukakan, ada lokasi wisata lainnya di sini, seperti, Stasiun Pemancar Radio Malabar. Stasiun ini menurut kabar, didirikan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1917-1929. Sekarang tinggal puing-puing saja karena tidak ada perawatan dan pemeliharaannya. @qia.

Baca Juga :  Menteri Olahraga Italia Sebut Cristiano Ronaldo Langgar Protokol Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Next Post

Sempat Mogok Produksi, Pengrajin Tahu dan Tempe Rugi Besar

Ming Jan 3 , 2021
Silahkan bagikanVISI.NEWS – Produksi tahu dan tempe sempat mengalami mogok terhitung sejak 1 Januari sampai saat ini, Minggu 3 Januari 2021. Imbasnya, para pengrajin tahu dan tempe mengalami kerugian yang tidak sedikit. Hal tersebut disampaikan H. Ayi Kurnia (50), selaku pengrajin tahu dan tempe, warga Kampung Andir RT. 01/RW. 06, […]