Dampak Covid-19, Kiki, Murid Kelas 5 SD Berkeliling Jualan Buah-buahan untuk Bantu Beli Beras

Terdampak corona, Kiki murid kelas 5 SD Sukahati Cinunuk berkeliling jualan buah-buahan siap makan./visi.news/yaso.
Jangan Lupa Bagikan

– “Sudah dua bulan ayah saya sakit, kakinya patah tertimpa besi saat kuli bangunan. Ya mau apalagi saya terpanggil untuk membantu beli beras.”

VISI.NEWS – Pandemi Covid-19 tak bisa dimungkiri berdampak ke semua sektor, baik sosial, budaya, politik, maupun ekonomi. Di sektor ekonomi, masyarakat kelas bawah tentunya yang paling terpukul sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Adalah bocah bernama Kiki Pirmasah (11), murid kelas 5 SDN Sukahati, Desa Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, salah satu contohnya.

Sejak muncul pandemi corona alias Covid-19, Kiki harus banting tulang membantu orang tuanya. Caranya, “ngagigiwing” atau menenteng aneka buah siap santap berkeliling ke sejumlah kompleks perumahan dan kampung sekitar rumahnya di Kampung Ciguruwik RT 02/RW 12 Desa Cinunuk.

Di musim kemaru nan terik ini, tentu Kiki harus rela bermandikan panas sengatan “si raja siang”. Justru cuaca panas itu mendukungnya agar orang-orang tergoda membeli buah-buahan yang dibawa Kiki dikaitkan pada besi, mulai buah semangka, melon, mangga, pepaya, nanas, hingga telur puyuh.

“Tiap hari Pak jualan barang ini dengan cara berkeliling, kebetulan sekolah siang. Alhamdulillah jika barang dagangan laku semua, ke rumah saya bisa bawa untung Rp 20 ribu. Jika sepi paling ke rumah saya hanya bawa untung antara Rp 5 – Rp 10 ribu,” ucap Kiki saat dicegat di Kompleks Griya Bukit Manglayang RW 21 (GBM 21) Desa Cinunuk, Kec. Cileunyi, Kamis (17/9).

Kiki menjual melon, semangka, nenas, dan mangga tersebut Rp 2.000 /kantong plastik kecil. Satu plastik belahan buah-buahan ada yang 2, 3, hingga 4.

“Satu plastik belahan buah-buahan saya jual Rp 2 000. Barangnya diambil dari A Iyan (25) tetangga saya dengan harga Rp 1.500/plastik,” terang Kiki dengan wajah lelah dan tampak “luut leet kesang” (bermandikan keringat, red.).

Ketika diwawancara, Kiki mengaku jualannya baru laku setengahnya. Ketika ditanya mengapa harus capai-capai berjualan, apakah disuruh orang tua atau keinginan sendiri. Kiki mengaku atas keinginan sendiri.

“Keinginan sendiri Pak. Habis kasihan melihat orang tua kerepotan memberi makan 5 anaknya. Ya itung-itung membantu memberi beraslah. Saya berkeliling mulai pukul 07.00 atau pukul 08.00 hingga pukul 11.00 atau 12.00,” kata anak ke-4 dari 6 bersaudara pasangan Dodo (50) dan Ny. Tati (48) ini.

Kiki pun mengaku dia mulai jualan sejak pandemi corona muncul. Apalagi katanya, selain kehidupan keluarganya terpuruk dampak corona, sang ayah yang sehari-harinya bekerja serabutan kini terbaring sakit.

“Sudah dua bulan ayah saya sakit dan kakinya patah karena tertimpa besi saat jadi kuli bangunan. Ya mau apalagi saya terpanggil untuk membantu membeli beras,” tuturnya.

Dikatakan Kiki, di Ciguruwik kaluarganya tinggal di rumah kontrakan meski penduduk asli Cinunuk. Dari 6 bersaudara tersebut baru 1 yang sudah berkeluarga.

“Jadi tanggungan orang tua saat ini 5 anak bahkan paling bungsu (anak ke-6 masih balita),” tuturnya.

Ketika ditanya apakah selama pandemi corona dan tinggal di rumah serta belajar di rumah menggunakan HP dengan pembelajaran daring. Kiki mengaku saat belajar di rumah tak pernah daring karena HP pun tak punya.

“Belajar di rumah apa adanya dengan membaca bermodalkan kertas dan pulpen. Untuk belajar boro-boro beli HP, terus terang orang tua tak mampu apalagi harus beli pulsa,” katanya.

Soal bantuan sosial (bansos) karena terdampak Covid-19 apakah orang tuanya pernah mendapatkan bansos baik dari BLT DD (Dana Desa), Bansos Kemensos, Bansos Provinsi Jabar atau Bansos Pemkab Bandung. Kiki mengaku tidak tahu persis itu urusan orang tua.

“Yang saya tahu ke rumah belum ada kiriman atau pemberitahuan adanya bansos dari mana pun. Untuk lebih jelas coba saja tanyakan ke rumah apakah pernah menerima bansos apa belum,” pungkas Kiki. @yas

Fendy Sy Citrawarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Penundaan Raperda Tata Ruang Atas Dasar Ancaman Kerawanan Covid-19 Saat Ini

Kam Sep 17 , 2020
Jangan Lupa BagikanVISI.NEWS — Menindaklanjuti masalah kejadian sidang paripurna kemarin Rabu (16/9/2020), salah satu fraksi dari 4 fraksi yang meminta ditangguhkan Raperda Tata Ruang, anggota DPRD Kab. Bandung dari Fraksi PKS, H. Tedi Surahman, mengatakan, bahwa alasan minta ditangguhkannya itu berkaitan dengan situasi pandemi Covid-19 yang saat ini sangat rawan, […]