DARI PONPES KE PONPES | Bertemu Kiai Musthofa Aqil Pimpinan Pesantren Ciwedus Kuningan

Editor Kiai Musthofa Aqil generasi keempat yang memimpin Pesantren Ciwedus, Kabupaten Kuningan. /visi.news/bambang melga suprayogi
Silahkan bagikan
  • Selama bulan Ramadan 1444 H ini, InsyaAllah akan hadir tulisan-tulisan dari Bambang Melga Suprayogi, M.Sn., yang mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Barat. Tulisan mengupas profil pesantren dan kiai sepuhnya, proses pendidikan dan amaliah yang biasa mereka jalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

KALI INI, untuk hari ketiga di bulan Ramadan, penulis mengunjungi Pesantren Ciwedus, yang terletak di daerah Cilimus, tepatnya di wilayah Gandamekar yang jaraknya dari rumah ibundanya penulis di daerah Randobawa Ilir hanya beberapa kilometer saja, yaa, berkendara kesana cukup sekira 15 menit sudah sampai ke tujuan.

Baca juga

DARI PONPES KE PONPES | Tokoh Besar Pendiri Ponpes Leuwimunding dan Cisambeng di Majalengka

DARI PONPES KE PONPES | Profil Pondok Pesantren Al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon

RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal

DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang

DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh “Sayuriyah”

DARI PONPES KE PONPES | Mama Kiai Muhammad Faqih Sang Pendiri Pesantren Baitul Arqom Lembur Awi

Desa Babakan terletak di perb

Menuju ke Pesantren Ciwedus peninggalan Mama Shobari, tempatnya sangat mudah didatangi. Berada di kaki Gunung Ciremai yang asri, dengan suasana perkampungan daerah Pasundan yang kental akan keindahan alamnya.

Jika kita mendatangi daerah Ciwedus sekarang ini, jalan ke arah sana sudah sangat enak dilalui. Itu temtunya berkat pemerintah daerah Kabupaten Kuningan yang selalu bebenah dalam membangun jalan sebagai sarana transportasi buat masyarakatnya, yang selalu mendapat prioritas utama.

Sampai-sampai jika kita masuk gang-gang kecil di Kabupaten Kuningan, bahkan ke jalan menuju daerah pemakaman umum yang ada di seluruh Kabupaten Kuningan, meski jalan-jalan kecil itu semuanya sudah beraspal, bukan hanya jalan utama, atau jalan rayanya saja.
Luar biasa Kabupaten Kuningan dipimpin oleh Bupati H. Acep Purnama, S.H., M.H. sekarang ini.

Penulis bersama Kiai Musthofa Aqil generasi keempat Mama Ciwedus yang sekarang memimpin pondok pesantren ini. /visi.news/bambang melga suprayogi/dok

Belasan, atau puluhan tahun ke kebelakang, tak ada yang hafal dan tahu bahwa di daerah Ciwedus, Gandamekar, Kabupaten Kuningan, ada seorang waliyullah yang wafat dan dimakamkan di sana.

Ia meninggalkan warisan pesantren, yang sudah terjepit diantara bangunan-bangunan sekolah kokoh yang ada disekelilingnya, yang dibuat oleh para keturunannya. Sehingga keberadaan pesantrennya sekarang ini hanya menempati 15%-nya saja dari keseluruhan luas tanah yang ditinggalkan Mama Ciwedus, seluas 825 tumbak atau 1 Hektar.

Makam Mama Ciwedus, atau Mama Shobari, berada persis di belakang bangunan sekolah, di pemakaman keluarga besarnya, yang sepintas – jika pernah ke makam Gus Dur – makamnya tersebut berada di area tanah pesantren, persis seperti di pemakaman mama Ciwedus ini.

Saat penulis datang Jumat (24/3/2023) pagi kemarin, suasana masih sepi. Baru setelah penulis duduk-duduk agak lama, seorang ibu menyapa penulis mau bertemu siapa. Akhirnya ia menyampaikan kedatangan penulis ke Kiai Kang Mustofa Aqil bin Abdul ajib, bin Kiai Aqil, bin Kiai Ahmad Sobari, atau generasi ke tiga dari Mama Ciwedus, Kiai Ahmad Shobari. Kang Mustofa berkhidmah melanjutkan keberadaan Pesantren Mama Ciwedus ini.

Baca Juga :  Drone DJI Enterprise untuk Inspeksi di Sektor Industri

Sambutan kepada penulis dari Kiai Musthofa Aqil sangat hangat, akhirnya, perbincangan pun terjadi diantara kami dengan sangat akrab.

Apalagi setelah kami tersambung dalam satu sanad keguruan, kepada Mang Haji Abah, Pimpinan Ponpes Hidayatul Hikmah di Kampung Gajah Eretan, Gajahmekar, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, yang akan menjadi ‘panglima komando’ haulnya Mama Ciwedus. (Tulisan berikutnya akan mengupas Pesantren Hidayatul Hikmah, Kutawaringin, Kabupaten Bandung)

Penulis di depan makam Mama Kiai Ahmad Shobari yang dikenal dengan Mama Ciwedus, di Gandamekar, Kabupaten Kuningan. /visi.news/bambang melga suprayogi/dok

Mengenal Mama Ciwedus

Siapa Mama KH Ahmad Shobari ini ?
Mama Ahmad Sobari, atau dikenal Mama Ciwedus, merupakan seorang kiai pinunjul dari daerah Kuningan yang ajarannya terus menyebar ke banyak daerah, bahkan sampai ke Kabupaten Bandung.

Di Kabupaten Bandung selain di Kutawaringin juga Nagreg dan sekitarnya, terus ke Manknjaya Tasikmalaya ada Pesantren Miftahul Huda, Uwa Khoer Afandi Manonjaya yang sanad keilmuannya dari Mama Kiai Ahmad Sanusi Gunung Puyuh Sukabumi, dari Kiai Ahmad Suja’i Kudang Tasikmalaya, dan terakhir bermuara ke Kiai Ahmad Shobari Ciwedus Kuningan. Begitu berpengaruhnya ajaran Pesantren Ciwedus ini, menjangkau dan mewarnai beberapa pesantren lainnya di Banjar K.H. Ilyas di daerah Cibeunteur dan daerah Cirebon, Majalengka, Kandang Sapi Cianjur, Sukabumi, Ciamis, bahkan sampai ke daerah Tebuireng, Jawa Timur, yang dibawa oleh Kiai Syamsuri Baedowi.

Kiai Mama Shobari, lahir tahun 1831 dan wafat tahun 1916 di Ciwedus Kuningan, dan di makamkan di area pesantren Ciwedus.

Ijazah Khusus Mbah Cholil Bangkalan Madura

Mama Kiai Ahmad Shobari merupakan seorang ulama besar dari Ciwedus, Desa Timbang, Gandamekar, Cilimus Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ia adalah salah satu santri Syaikhona Moh. Cholil, Demangan, Bangkalan Madura. Dari Syaikhona Mbah Cholil, yang juga guru dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan ini, Mama Kiai Ahmad Shobari diberikan ijazah khusus oleh Syaikhona Cholil berupa Kitab Fathul Mu’in. Mama Shobari juga seangkatan saat mesantren di Bangkalan dengan kakeknya Habib Luthfi, Pekalongan, yaitu Habibana Hasyim.

Habib Luthfi yang datang ke Ciwedus pada saat Haul Mama Kiai Ahmad Shobari menceritakan itu. Bahkan, katanya, untuk mengingatkan kembali, baik keluarga besar Mama Kiai Ahmad Shobari, maupun masyarakat setempat, bahwa ada yang harus dibanggakan dari wilayah Ciwedus ini, yakni keberadaan pesantren peninggalan Mama Kiai Ciwedus, juga para pendahulunya yang merupakan ulama kenamaan untuk wilayah kabupaten Kuningan, bahkan Jawa Barat.

Pesantren Ciwedus sendiri pada jaman Kiai Mama Shobari merupakan kelanjutan dari Mama Adro’i. Mama Andro’i dari Mama Syuaeb, dimana mama Syuaeb sendiri melanjutkan dari orang tuanya sendiri Mama Tubagus Kalamudin. Sehingga pada saat Mama Shobari melanjutkan pesantren itu, ia adalah generasi ke empat pelanjut Pesantren Ciwedus.

Ditangan Mama Kiai Ahmad Shobari inilah keberadaan Pesantren Ciwedus menjadi pesantren yang dicari banyak orang untuk tujuan nyantri, mencari ilmu, dan ngalap berkah. Terlebih Mama Kiai Ahmad Shobari merupakan salah satu waliyullah pada masanya, di awal abad ke 19 itu.

Baca Juga :  Para Kandidat, Sampaikanlah Informasi yang Benar dan Mencerdaskan

Wasiat Mama Ciwedus

Pesan dari mama Kiai Ahmad Shobari atau Mama Ciwedus, “Ka masyarakat/santri gampang nyana ngaku ka kula sebagai santrina, nu penting kula ngaku ka nyana sebagai santri kaula. Teruskeun naon nu ku kula ditanamkeun. Sing istiqomah, sabar, tawakal, ikhlas dina nyebar keun manhaj nu kula diajarkeun. Ulah sampe ninggalkeun ratubul hadad jeung debaaan/ marhabanan, salat berjamaah, ngaji sing istiqomah sanajan santri ngan hiji, nyana ulah neangan santri tapi mun aya santri geura didik sing bener jeung rawat”.

Arti dari pesan ini adalah, “gampang kamu mengaku sebagai santri saya, yang penting sayanya pun mengakui kamu sebagai santri saya. Lanjutkan apa yang sudah saya lakukan. Istiqomahkan, bersabar, ikhlas dalam menyebarkan faham yang saya ajarkan. Jangan sampai meninggalkan ratubul hadad, dan debaan/marhabanan, salat, ngaji harus diistiqomahkan walau santrinya cuma satu. Kamu jangan mencari santri, tapi bila ada santri segera didik dengan benar, dan harus di pelihara dengan baik.”

Pesan secara batin yang disampaikannya: “Gampang nyana ngaku sebagai duriyah kula nu terpenting kula ngaku ka nyana sebagai duriyah kula. Teruskeun naon nu ku kula geus ditanamkeun di Ciwedus sing jejeg panjeung ulah ka bawa ku jaman.”

Ada juga pesan secara batin yang didapat oleh Kiai Musthofa Aqil, dari Mama Kiai Ahmad Shobari yang mengatakan, “Gampang kalian mengaku sebagai keturunan saya, yang terpenting saya mengakui kamu sebagai keturunan saya. Teruskan apa yang sudah saya lakukan di Ciwedus, harus punya sikap, jangan terbawa pengaruh jaman”.

Ada lagi pesan lainnya, “Jangan membanggakan keturunannya siapa, tapi harus menjadi kebanggaan keturunan“.

Pesan yang penuh makna bahasa kiasan ada dalam pesan Mama Kiai Ahmad Shobari yang mengatakan,” Kamu sudah memiliki kolam, tinggal kamu merawatnya saja. Kalau ada sampah, segera buang. Kalau ada yang bolong segera tutupi. Nanti juga airnya akan mengalir sendiri”.

Amaliah

Amalan yang sering dilakukan Mama Kiai Ahmad Shobari adalah, dzikiran ratib al hadad dan melaksanakan maulid deba, atau Maulid Nabi SAW, serta menyantuni anak-anak yatim, dan orang-orang tak mampu.

Mama Kiai Ahmad Shobari adalah seorang ahli suluk, penganut tarikat Syattariyah, yang diajarkan ayahnya, yang juga sebagai seorang mursyidnya.

Mendapat Wangsit

Pesantren Ciwedus kini dikelola oleh cicitnya, KH. Musthofa Aqil, setelah pada tahun 2012 mendapat wangsit agar segera meninggalkan pekerjaannya dan usahanya di Tangerang, untuk kembali ke Ciwedus melanjutkan menghidupkan pesantren peninggalan Mama Kiai Ahmad Shobari itu.

Dari tahun 2010 sebetulnya Kiai Musthofa Aqil sudah ada yang mengingatkan buat kembali ke Ciwedus. Menurut orang tua yang memberitahunya itu, buyutnya sudah sangat sering memanggilnya, karena apapun usaha yang ia jalankan, tidak akan bertunas, dan memiliki akar yang baik.”Sudahlah kamu pulang ke Ciwedus, dan tidak akan susah makan kamu itu”.

Demikian pesan itu terus tergiang, hingga tahun 2012 itulah titik klimaks dari sikap yang harus ia putuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Ciwedus.

Baca Juga :  Eks Menpora Imam Nahrawi Dituntut 10 Tahun Penjara

Pesantren Ciwedus Sekarang

Kang Kiai Musthofa Aqil sekarang diamanahi mendidik 9 santri di Pesantren Ciwedus. Ia melakukan ikhtiar menghidupkan Pesantren Ciwedus, dengan beternak kambing yang berjumlah 5 ekor, memelihara ikan, dan bertani.

Ia memiliki dua putri, yang satu sedang akan menyelesaikan sekolahnya di pesantren Mbah Maimun Zubair, Rembang, dan satunya lagi masih kelas 2 SMP. Bersama istrinya, ia melanjutkan pengelolaan Pesantren Ciwedus.

Banyak pesantren kini bermunculan, namun Pesantren Ciwedus tetap masih memiliki keunggulannya sendiri. Itu karena nama Mama Kiai Ciwedus masih tetap ada di hati masyarakat Kuningan, Jawa Barat, bahkan Indonesia.

Yaa, Mama Ciwedus, atau mama Kiai Ahmad Shobari, tetaplah masih hidup. Jiwanya, spiritnya, dan pesan-pesannya terus digaungkan, dan jadi pegangan. Walau raganya sudah menyatu dengan tanah, tapi keberkahannya tetap ada bersama orang yang mencintainya.

Kita jangan beranggapan para kekasih Allah itu telah mati, tapi mereka masih hidup, dan mereka selalu berada dalam limpahan karunia Allah yang teramat besar.

Kini Pesantren Ciwedus, Alhamdulillah sudah bergeliat, dan dikenali kembali banyak Umat Islam. Pesantren ini hidup kembali, setelah mati suri, bahkan hampir tengelam.

Alhamdulillah, penerus Kiai Ahmad Shobari, merupakan keturunan yang saleh, yang terus menghiasi doa-doa yang selalu terpanjatkan buat para leluhurnya. Inilah bukti tiga amal yang tak terputus: Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak, cucu, dan cicitnya yang saleh.

Beberapa bantuan untuk menghidupkan Pesantren Ciwedus ini, datang dari beberapa kerabat Kiai Musthofa Aqil, yang masih keturunan Mama Ciwedus, terutama dari Kang Wawan Shaqir, ponakan Kang Kiai Musthofa Aqil, seorang pengusaha di Malaysia, yang sempat mempertemukan para cicit Kiai Ahmad Shobari, dengan cicit dari guru Kiai Ahmad Shobari, yaitu cicit dari tuan Syekhona Kiai Kholil Bangkalan Madura di Malaysia.
Yang dipererat kembali jalinan silaturahminya.

Dari perbincangan penulis dengan Kiai Musthofa Aqil, beliaunya berharap masukan dan saran untuk pengembangan Pesantren Ciwedus, yang Alhamdulillah, masukan-masukan dari penulis, khususnya untuk mengembangkan area bagian belakang dari pesantren jika memungkinkan bisa, ini akan sangat menarik.

Bagian belakang pesantren harus dibenahi, hal eksotik justru ada di bagian belakang pesantren itu sendiri, karena dekat dengan sungai yang berair jernih, dan berbatu-batu, indah, dan asri.

Sehingga, jika dibuat tempat untuk bersantai, untuk tempat menginap para peziarah, tentunya mereka akan kerasan berlama-lama di Ciwedus ini, dan dengan demikian, itu bisa jadi jalan ikhtiar menghidupkan suasana pesantren itu sendiri nantinya.

Untuk para kaum muslimin yang hendak berziarah ke makam, Mama Ciwedus, Kiai Ahmad Shobari, sebaiknya bisa membantu menghidupkan geliat ekonomi Pesantren Ciwedus ini, dengan memesan kuliner makanan khas yang bisa dipesan, baik dari hasil tani, dan perikanan, maupun ternak ayam unggas, yang bisa di hidangkan secara dadakan, harganya tentu ekonomis dan terjangkau oleh para peziarah.

Silahkan bisa kontak Kang Kiai Musthofa Aqil jika kita hendak berziarah ke Ciwedus, di nomor 081313119250 ini.

Insyaallah pada tanggal 8 Mei 2023, malam Selasa bada Isya, akan diadakan Haul Mama Ciwedus, ke 107 tahun. Silahkan untuk umat muslim dimanapun berada, yang berniat menghadiri, bisa datang pada waktunya nanti.***

M Purnama Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

TPIsoftware Tercantum dalam Daftar "FT 500 Asia-Pacific High-Growth Company 2023" Selama Dua Tahun Berturut-turut

Sab Mar 25 , 2023
Silahkan bagikanVISI.NEWS | TAIPEI – TPIsoftware, perusahaan perangkat lunak terkemuka di Taiwan yang bergerak di bidang TekFin, tercantum dalam daftar tahunan kelima yang dirilis Financial Times, “500 high-growth Asia-Pacific”. Tahun ini, TPIsoftware berada di peringkat ke-368 dengan CAGR 29,7%, atau naik 73 peringkat dari tahun lalu. Maka, TPIsoftware menjadi salah […]